Karada Sagashi: The Last Night
| 2025 | 1h 34m
Genre
: Horror | Negara: Japan
Director:
Eiichirô Hasumi |
Writers: Yûki Hara,
Atsumi Tsuchi
Pemeran: Seira Anzai, Kanna
Hashimoto, Marin Honda
IMDB: 4.8
My
Rate : 6/10
Tiga tahun setelah kejadian sebelumnya, permainan pencarian potongan tubuh kembali terulang dengan korban yang berbeda. Takahiro yang terlibat di dalamnya berusaha menyelamatkan Asuka dan menghentikan siklus mengerikan tersebut untuk selamanya.
Peringatan:
Adegan
ketelanjangan, kekerasan
Sinopsis Karada Sagashi : The Last Night (2025) :
Lima orang siswa yang sedang
berlibur ke taman bermain bersama sekolah mereka mengalami kejadian mengerikan.
Mereka terjebak dalam lingkaran waktu tanpa akhir dan dipaksa mencari potongan
tubuh yang tersebar di berbagai tempat. Jika gagal menyelesaikannya sebelum
makhluk merah menemukan mereka, kematian akan kembali terulang.
Takahiro yang tiga tahun lalu pernah
mengalami kejadian serupa, kembali terjebak dalam permainan yang sama. Meski
dirinya dan teman-temannya dahulu berhasil menyelesaikannya, permainan tersebut
ternyata tidak pernah benar-benar berakhir. Asuka, salah satu teman yang
berjuang bersamanya, harus membayar harga dari kemenangan tersebut.
Dengan ingatan yang masih tersisa
tentang Asuka, Takahiro berusaha menemukan cara untuk menghentikan permainan
itu selamanya dan membawa kembali sahabatnya. Bersama lima siswa lainnya, ia
menghadapi teror yang terus berulang sambil berusaha mempertahankan ingatan
satu sama lain agar tidak kembali dilupakan.
Akankah Takahiro berhasil
menyelamatkan Asuka dan memutus lingkaran mengerikan tersebut tanpa
mengorbankan siapa pun lagi?
Ulasan Karada Sagashi : The Last Night (2025) :
Permainan menyeramkan yang
meninggalkan trauma mendalam harus kembali dihadapi oleh Takahiro dalam Karada
Sagashi: The Last Night. Film ini merupakan sekuel dari Re/Member (2022) yang
diadaptasi dari novel berjudul Karada Sagashi karya Welzard. Kehadiran sekuel
ini cukup mengejutkan karena film sebelumnya sebenarnya telah ditutup dengan
akhir cerita yang terasa selesai tanpa banyak menyisakan pertanyaan.
Pembukaan cerita yang menampilkan
cuplikan ringkasan film sebelumnya menjadi pilihan yang cukup baik. Selain
membantu penonton lama mengingat kembali jalan cerita yang telah berlalu,
bagian ini juga dapat membantu penonton baru memahami cerita tanpa harus
terlebih dahulu menonton film sebelumnya.
Sayangnya, pengenalan karakter masih
menjadi salah satu kelemahan film ini. Latar belakang masing-masing tokoh tidak
digali dengan cukup dalam selain identitas mereka sebagai siswa SMA. Alasan
mereka terpilih dalam permainan juga masih belum dijelaskan secara memuaskan.
Bahkan kemunculan Takahiro masih menyisakan tanda tanya mengenai bagaimana
dirinya dapat mengetahui para peserta lain, sementara mereka sendiri tidak
menyadari keberadaannya sejak awal.
Ketegangan yang dibangun sepanjang
cerita juga tidak meninggalkan kesan yang terlalu kuat. Fokus cerita yang
sebelumnya berpusat pada pencarian potongan tubuh kini lebih banyak diarahkan
pada usaha penyelamatan Asuka. Sayangnya, perpindahan fokus tersebut tidak
diimbangi dengan pendalaman konflik yang memadai. Ditambah lagi, tempo cerita
berjalan begitu cepat hingga sosok Monster Merah yang seharusnya menjadi
ancaman utama tidak mendapatkan sorotan yang optimal.
Akhir cerita yang berakhir bahagia
terasa cukup mudah ditebak sejak awal. Tidak banyak kejutan yang benar-benar
mampu mengubah ekspektasi penonton. Perkembangan karakter para tokohnya juga
tidak terlalu signifikan. Meski demikian, penyelesaiannya masih dapat diterima
dengan cukup baik walaupun belum terasa sepenuhnya memuaskan.
Jika dibandingkan dengan Re/Member
(2022), film kedua ini terasa lebih masuk akal dalam pengelolaan waktunya.
Mengingat inti cerita berpusat pada permainan yang berlangsung pada malam hari,
dominasi adegan malam membuat alur terasa lebih terarah.
Hal tersebut berbeda dengan film
pertama yang cukup banyak menghabiskan waktu pada aktivitas para tokohnya di
siang hari, seperti bermain atau berjalan-jalan bersama. Akibatnya, mereka
terkesan kurang menyadari kejanggalan yang sedang terjadi. Di film kedua,
masalah tersebut memang belum sepenuhnya hilang, tetapi setidaknya rasa urgensi
dan kesadaran para tokoh terhadap kondisi mereka terasa lebih kuat.
Misteri mengenai kutukan sebenarnya
memiliki potensi yang cukup menarik untuk dieksplorasi lebih jauh. Sayangnya,
kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal. Beberapa adegan justru
terasa kurang penting dan tidak banyak memberikan kontribusi terhadap
pengembangan cerita maupun misteri yang sedang dibangun.
Kelemahan lainnya terletak pada
pembagian fokus karakter yang kurang seimbang. Tidak ada satu pun tokoh yang
benar-benar menonjol sebagai pusat perhatian cerita, baik Asuka, Takahiro,
maupun kelima peserta lainnya. Berbeda dengan film pertama yang masih memberikan
ruang yang jelas bagi Asuka untuk berkembang sebagai karakter utama.
Akting para pemain juga tidak
memberikan kesan yang terlalu istimewa. Meski demikian, dari sisi teknis film
ini masih tampil cukup baik. Pergerakan kamera, transisi adegan, efek visual,
serta pemilihan musik mampu mendukung suasana yang ingin dibangun dalam setiap
adegannya.
Pada akhirnya, Karada Sagashi: The
Last Night menghadirkan sebuah pertanyaan sederhana: apakah sebuah trauma
benar-benar berakhir ketika peristiwanya selesai, atau akan terus hidup selama
masih ada yang mengingatnya?
Adegan yang mengesankan:
Sebuah adegan yang menyentuh karena
memperlihatkan kerinduan yang selama ini dipendam Takahiro. Meski seluruh dunia
telah melupakan Asuka, Takahiro tetap menyimpan ingatan tentang dirinya. Dengan
bantuan batu merah, Takahiro akhirnya dapat melihat Asuka kembali. Rasa rindu
yang selama ini tertahan pun seakan meluap dalam satu pertemuan singkat yang
tetap dihantui dengan kematian.
Salah satu hal yang paling
menyedihkan dalam hidup adalah dilupakan. Namun, selama masih ada seseorang
yang mengingat, keberadaan kita tidak benar-benar hilang. Ingatan yang
dipertahankan Takahiro menjadi bukti bahwa hubungan antarmanusia dapat bertahan
bahkan ketika dua menghapusnya dengan paksa.
Dialog mengesankan:
"Aku akan menyelamatkanmu, berapa kali pun aku terbunuh."
Ending:
Happy
Ending
Rekomendasi:
Okay
to Watch
(Aluna
Uwie)

0 Komentar