Black Butler (Original title:
Kuroshitsuji) | 2014 | 1h 59m
Genre : Dark Fantasy/ Action/ Adventure/ Crime/ Drama/ Fantasy/ Family/
Horror/ Mystery | Negara: Japan
Director: Kentarô
Ohtani, Keiichi Satô | Writers: Yana Toboso
Pemeran: Hiro Mizushima, Ayame GôrikiYûka
IMDB: 6.1
My Rate : 6/10
Kasus mumi yang terjadi secara misterius membuat Kiyohara, Watchdog's Queen, turun tangan untuk menyelidikinya. Dibantu Sebastian, iblis yang menjadi kaki tangannya, Kiyohara tidak hanya berusaha memecahkan misteri tersebut, tetapi juga membalaskan dendam pribadinya.
Peringatan:
Kekerasan,
sensual, obatan, alkohol, kata kasar, ketelanjangan
Sinopsis :
Para politikus menjadi mumi secara
misterius. Hal ini tidak hanya menarik perhatian polisi, tetapi juga Queen yang
akhirnya memerintahkan Watchdog miliknya untuk ikut menyelidiki kasus tersebut.
Kiyohara, yang merupakan salah satu Watchdog's Queen, akhirnya ikut turun tangan
bersama kaki tangannya, Sebastian, yang merupakan jelmaan iblis.
Kiyohara merupakan pewaris dari
Genpou. Setelah keluarganya dibunuh oleh orang yang tidak dikenal, dirinya pun
menyamar menjadi anak laki-laki demi bisa kembali mengambil alih usaha
keluarganya. Ditemani Sebastian, dirinya berusaha menyelidiki kasus tersebut
sekaligus membalaskan dendam atas kematian orang tuanya
Penyelidikan tersebut kemudian
membawanya pada petualangan berbahaya dan membuka misteri yang tidak terduga.
Dirinya pun harus berpacu dengan waktu sebelum obat tersebut dipergunakan untuk
melumpuhkan kota.
Akankah Kiyohara berhasil
menyelesaikan penyelidikannya dan membalaskan dendam keluarganya sebelum
semuanya terlambat?
Ulasan :
Bayangkan seorang iblis menjadi
bawahanmu dan rela menjaga serta mewujudkan tujuanmu? Film Black Butler (2014)
yang diadaptasi dari manga dengan judul yang sama karya Yana Toboso ini
menunjukkan kekuatan terbesar dari seorang iblis. Bukan dari konteks yang
negatif atau mengerikan, tetapi lebih kepada bagaimana menggunakan kekuatannya
sebagaimana dibutuhkan.
Film dibuka dengan sebuah narasi
yang menjelaskan kondisi yang sedang terjadi, baik itu kondisi politik, ancaman
yang perlu diselidiki, maupun identitas dari Watchdog. Semua dijelaskan dengan
cukup gamblang dan memperkuat fondasi cerita. Hal ini membuat penonton yang
mungkin tidak membaca manganya atau menonton animenya memiliki pemahaman yang
cukup untuk mengikuti cerita.
Scene pertama tanpa basa-basi. Salah
satu tokoh pendukung mengalami kecelakaan dan berubah menjadi mumi. Ketegangan
pun dibangun sejak awal cerita, sekaligus memperkenalkan salah satu konflik
yang menjadi benang merah dari cerita.
Konflik lainnya muncul dari tokoh
utama, Shiori, di mana dirinya memiliki dendam yang harus dibalaskan.
Sayangnya, konflik internal ini tidak begitu terasa, ditambah dengan gejolak
batin Shiori yang terasa lemah. Bahkan, seakan tidak menjadi sorotan utama
dalam cerita.
Jika diperhatikan, hal ini bisa jadi
karena karakter Shiori sendiri terlihat kurang kuat. Bukan berarti Ayame Goriki
sebagai pemeran Shiori berakting tidak baik. Hanya saja, ada aura yang
seharusnya muncul dari dirinya tetapi tidak begitu terlihat. Sebagaimana
karakter Shiori sendiri digambarkan sebagai pewaris yang sukses memimpin
perusahaan di usia muda dan memiliki tekad kuat untuk membalaskan dendam
keluarganya. Namun, aura tersebut tidak terpancar darinya, baik dari mata,
ekspresi wajah, maupun gerak-geriknya.
Berbeda dengan tokoh Sebastian yang
terasa begitu kuat. Pertarungan Sebastian menjadi salah satu bagian yang
menarik dalam film ini. Terlihat bagaimana penggambaran Sebastian cukup kuat
untuk level jelmaan iblis, tergambar dari kecepatannya, bagaimana dirinya tidak
dapat mati dan terluka, serta pembawaannya yang bisa membuat penonton jatuh
cinta dan terpana.
Akhir cerita disajikan dengan cukup
menarik, dengan sedikit twist pada masa lalu Shiori. Namun, meski kasus utama
terselesaikan, masih ada beberapa bagian yang menggantung. Sebab, cerita yang
ditampilkan dalam film memang tidak benar-benar selesai, mengingat ini hanya
sebagian dari cerita manga tersebut. Sisi baiknya, perkembangan karakter dari
masing-masing tokoh cukup terlihat.
Dari segi teknis, seperti
pengambilan detail gambar, pergerakan kamera, dan komposisi warna, cukup baik.
Ditambah dengan pemilihan musik dan sound effect yang unik tetapi sesuai dengan
adegan yang disajikan. Selain itu, penggunaan beberapa efek juga terlihat
nyata, seperti darah yang keluar dari hidung, telinga, dan mata, serta tampilan
dari mumi.
Pada akhirnya, Black Butler (2014)
memiliki dunia cerita yang menarik dan berhasil memberikan daya tarik terutama
melalui karakter Sebastian. Namun, kekuatan tersebut belum sepenuhnya diimbangi
oleh karakter utama yang seharusnya menjadi pusat konflik emosional cerita.
Meski masih menyisakan beberapa bagian yang menggantung, film ini tetap menarik
untuk dinikmati, terutama bagi penonton yang menyukai perpaduan misteri,
supernatural, aksi, dan karakter iblis dengan pembawaan yang kuat.
Adegan yang mengesankan:
Sekumpulan politikus yang menjadi
objek penelitian diberikan obat yang membuat mereka berubah menjadi mumi.
Mengetahui hal tersebut, kepanikan mulai terasa, terlebih saat darah mulai
mengalir dari mulut, telinga, dan mata mereka, seakan kematian telah berada di
depan mata. Saat sebuah penawar ditampilkan, mereka pun saling sikut untuk
mendapatkannya tanpa peduli dengan keselamatan orang-orang di sekitarnya.
Adegan ini seakan mengingatkan pada
sifat dasar manusia dalam bertahan hidup. Hal pertama yang dipikirkan adalah
menyelamatkan diri, dan sebenarnya itu adalah hal yang wajar. Menariknya, dalam
film ini juga diperlihatkan sisi lain, di mana Kiyohara rela mengorbankan
dirinya untuk menyelamatkan orang lain. Keduanya sama-sama merupakan bagian
dari manusia. Pada akhirnya, pilihan juga berada di tangan manusia itu sendiri
untuk menentukan akan berada di sisi yang mana.
Dialog mengesankan:
"Tidak hanya iblis yang diberkati Tuhan"
Ending:
Happy
Ending
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna
Uwie)
.jpg)
0 Komentar