About a Place in the Kinki Region
(Original Title: Kinki Chiho no Aru Basho ni Tsuite) | 2025 | 1h 43m
Genre
: Horror | Negara: Japanese
Director:
Kôji Shiraishi|
Writers: Sesuji
Pemeran: Eiji Akaso, Miho Kanno
IMDB: 6.1
My
Rate : 7/10
Ozawa dan Chihiro harus meneruskan tulisan dan riset yang sedang dilakukan oleh penulis di penerbit mereka yang tiba - tiba menghilang. Tanpa disadari, sebuah misteri mulai menghantui dan mengancam nyawa mereka.
Peringatan:
Terdapat
adegan kekerasan dan bunuh diri
Sinopsis :
Seorang penulis di tempat Ozawa
bekerja menghilang secara misterius, meninggalkan sebuah konsep tulisan yang
seharusnya segera terbit. Demi menutup kekosongan tersebut, Ozawa meminta
bantuan Chihiro, penulis lepas, untuk menyelesaikan naskah yang tak seorang pun
tahu isinya—karena sang penulis selalu merahasiakannya.
Berbekal potongan data yang
tersisa—rekaman video, simbol-simbol ganjil, dan artikel-artikel
terpisah—mereka mulai merangkai kepingan misteri yang perlahan membuka pintu
menuju legenda, kutukan, dan kematian. Semakin dalam mereka menyelidiki,
semakin dekat pula bahaya yang mengintai.
Meski rasa takut terus menghantui,
Ozawa memilih untuk tetap melangkah, terjebak antara ambisi, rasa ingin tahu,
dan ancaman yang kian nyata. Sementara Chihiro, meski menyadari risikonya,
terus memperingatkan bahwa tidak semua kebenaran seharusnya diungkap. Hingga
sebuah petunjuk akhirnya membawa mereka pada keberadaan sang penulis yang
menghilang—dan pada konsekuensi yang tak pernah mereka bayangkan.
Mampukah mereka menghentikan kutukan
sebelum semuanya terlambat?
Ulasan :
Bayangkan kehilangan satu-satunya
tempat bersandar—sosok yang selalu hadir saat lelah dan rapuh. Kekosongan itu
terasa terlalu besar untuk diterima, hingga muncul keinginan agar ada sesuatu,
atau seseorang, yang dapat menggantikannya. Namun tidak semua ruang bisa diisi
ulang, dan tidak semua orang siap menempati posisi tersebut. Berangkat dari
novel Kinki Chiho no Aru Basho ni Tsuite karya Sesuji, film ini mengangkat
legenda urban sebagai cermin kerapuhan manusia dalam menghadapi kehilangan.
Film dibuka dengan narasi misterius
tentang kematian, disusul sebuah video di mana Chihiro meminta bantuan netizen
untuk menemukan rekannya yang menghilang. Nama yang seharusnya diucapkan justru
disamarkan, menciptakan celah kosong yang sejak awal menjadi sumber rasa tidak
nyaman. Misteri dibangun tanpa penjelasan gamblang, membuat penonton terjebak
dalam rasa ingin tahu yang perlahan mengendap.
Di sisi lain, Ozawa dihadapkan pada
hilangnya rekan kerjanya yang tengah menyelesaikan riset penting. Ia meminta
bantuan Chihiro untuk menyusun ulang konsep tulisan yang tertinggal. Dua jalur
cerita ini saling terpaut, seolah mengarahkan penonton pada satu pertanyaan
besar: apakah sosok yang dicari Chihiro berkaitan dengan hilangnya rekan
Ozawa—atau justru sesuatu yang jauh lebih kelam?
Konflik berkembang secara bertahap.
Gangguan kecil mulai muncul, simbol-simbol terasa semakin dekat, hingga
kehadiran makhluk misterius berani menampakkan diri. Elemen legenda urban
disajikan dengan cukup rinci dan menjadi tulang punggung narasi, bukan sekadar
hiasan horor.
Twist di akhir cerita muncul
mengejutkan, meski jejaknya telah ditanam sejak awal. Namun film ini sengaja
meninggalkan ruang kosong—tentang sosok wanita berpakaian merah, anak dengan
leher terkilir, dan makhluk-makhluk lain yang muncul sekilas. Apakah mereka
penjaga, peringatan, atau bagian dari kutukan yang lebih besar? Ketidakjelasan
ini terasa disengaja, meski tidak sepenuhnya memuaskan.
Secara penyajian, film ini lebih
menyerupai dokumenter horor. Penggunaan footage, camcorder, dan sudut pandang
terbatas membuat penonton seolah menjadi bagian dari tim pencari, bukan sekadar
pengamat pasif.
Akting para pemain tidak mencolok,
namun cukup menopang cerita. Musik digunakan secara efektif untuk membangun
ketegangan tanpa mengandalkan jumpscare murahan. Kengerian muncul perlahan,
merayap, dan bertahan lama setelah adegan berakhir.
Pada akhirnya, film ini juga menjadi
refleksi tentang obsesi akan perhatian. Tokoh-tokoh yang rela mengabaikan
keselamatan demi popularitas—terutama para influencer—mencerminkan legenda itu
sendiri: keinginan untuk dilihat, ditemukan, dan diakui, meski harus
mengorbankan diri. Sebuah pengingat bahwa tidak semua yang memanggil ingin
diselamatkan—beberapa hanya ingin diingat.
Adegan yang mengesankan:
Ozawa duduk terdiam, seolah tubuhnya
hanya menjadi wadah bagi sesuatu yang tak terlihat. Tak ada reaksi, tak ada
suara—hingga seorang koleganya memanggil namanya. Alih-alih jawaban, yang
terdengar justru teriakan dengan suara asing yang menyeramkan: “Terima kasih
telah menemukanku!”
Adegan ini meninggalkan dampak yang
mendalam. Kalimat sederhana itu mengisyaratkan bahwa makhluk tersebut bukan
semata ingin mencelakai, melainkan ingin diakui keberadaannya. Seperti cerita
legenda tentangnya yang hidup dari kesepian dan ingatan yang terhapus, makhluk
itu hadir karena kehilangan—kehilangan cinta, perhatian, dan keberadaan. Dalam
satu kalimat singkat, horor berubah menjadi ratapan yang sunyi.
Dialog mengesankan:
"Kalau sudah dikondisi ekstrem, orang akan bergantung pada apa saja."
Ending:
Twist
Ending
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna)

0 Komentar