Review Film Silver Spoon (2014) - Makna Kegagalan, Ekspektasi, dan Pencarian Diri

 



Silver Spoon (Original title: Gin no saji) | 2014 | 1h 51m
Genre : Comedy/Drama/Romance| Negara: Japan
Director: Keisuke Yoshida | Writers: Hiromu Arakawa
Pemeran: Kento Nakajima, Alice Hirose, Tomohiro Ichikawa
IMDB: 6.6
My Rate : 7/10 

Hachiken merasa dirinya gagal dibandingkan dengan anak-anak lain di sekolahnya, hingga memutuskan untuk melarikan diri dari tekanan tersebut dengan memilih sekolah agrikultural yang jauh dari rumah dan jurusan yang tidak dianggap membanggakan. Namun, kehidupan di sekolah peternakan ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkannya, dan keputusan tersebut justru membawanya pada berbagai pengalaman baru.

 

Peringatan:

Tidak ada

 

Sinopsis :

Hachiken berasal dari SMP yang dikenal dengan murid-murid berprestasi. Sayangnya, dirinya justru merasa gagal dan terus membandingkan dirinya dengan anak-anak lain. Karena itu, Hachiken memilih melanjutkan sekolah ke SMK Agrikultural yang terletak cukup jauh dari rumahnya.

Keputusan tersebut membuat orang tuanya kecewa, terutama sang ayah yang merasa bahwa pilihan Hachiken hanyalah bentuk pelarian dari kegagalannya. Dan memang itulah tujuannya. Hachiken ingin melarikan diri dari tekanan yang selama ini dirasakannya, tanpa menyadari bahwa kehidupan di sekolah barunya ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

TSebagian besar teman sekolahnya berasal dari keluarga yang telah memiliki peternakan dan dipersiapkan untuk meneruskan usaha tersebut. Mereka datang untuk mempelajari ilmu yang nantinya akan digunakan dalam kehidupan dan pekerjaan yang sudah menanti mereka. Berbeda dengan Hachiken yang bahkan belum mengetahui apa yang ingin dilakukannya, perbedaan tersebut perlahan memberinya sudut pandang baru mengenai kehidupan, tujuan, dan pilihan yang harus diambilnya.

Akankah Hachiken menemukan makna hidup yang selama ini ia cari melalui pelariannya?

 

Ulasan :

Sering kali nilai seseorang diukur melalui standar tertentu seperti kesuksesan, kepintaran, dan pencapaian lainnya. Hal inilah yang dirasakan Hachiken dalam Silver Spoon (2014), film yang diadaptasi dari manga Gin no Saji / Silver Spoon karya Hiromu Arakawa. Dengan ide cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, film ini mengangkat beban ekspektasi yang sering kali harus dipikul anak-anak dari keluarga mereka.

Adegan dibuka dengan suasana SMK Ooejo yang ramai oleh para siswa yang berdiskusi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan dunia agrikultural. Adegan ini langsung memperlihatkan latar tempat sekaligus situasi yang menjadi lingkungan baru bagi tokoh utama. Selanjutnya, satu per satu tokoh pendukung muncul dengan latar belakang masing-masing yang cukup untuk membangun gambaran mengenai lingkungan tempat Hachiken berada.

Latar belakang Hachiken sendiri diperlihatkan melalui kilasan masa lalu yang menunjukkan kesulitan yang dihadapinya. Sekolah yang sangat kompetitif, tekanan dari keluarga, serta harapan yang perlahan hancur menjadi pondasi yang cukup kuat untuk memahami mengapa Hachiken memilih pergi dan mencari tempat baru.

Konflik internal maupun eksternal sebenarnya terlihat cukup jelas. Namun, tidak ada konflik yang benar-benar besar hingga mampu meninggalkan kesan yang mendalam. Bahkan pada Hachiken sebagai tokoh utama, konflik internal yang seharusnya menjadi bagian penting dari perjalanan dirinya justru terasa kurang kuat. Akibatnya, kehidupannya terlihat berjalan terlalu mulus dibandingkan dengan beban yang seharusnya ia bawa sejak awal.

Hachiken yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan dunia peternakan seharusnya memiliki kesenjangan pengetahuan yang cukup besar. Hal tersebut memang diperlihatkan melalui caranya memandang hewan ternak dan bagaimana penonton berulang kali diingatkan melalui dialog bahwa hewan-hewan tersebut pada akhirnya akan menjadi makanan. Mulai dari larangan memberi nama, memperlakukan hewan secara istimewa, hingga berbagai penjelasan mengenai bagaimana mereka diproses menjadi daging.

Namun, pengulangan tersebut justru terasa seperti usaha untuk memunculkan konflik internal yang sebenarnya belum berkembang dengan kuat. Hachiken seolah cukup mudah menerima keadaan tersebut, begitu pula dengan konflik bersama keluarganya yang tidak mendapatkan ruang yang cukup besar. Konflik dengan teman-temannya pun cenderung mudah diselesaikan sebelum benar-benar berkembang menjadi persoalan yang berat.

Padahal, bagian-bagian tersebut sebenarnya memiliki potensi besar menjadi daya jual film. Hubungan Hachiken dengan keluarganya, proses beradaptasi di tempat yang sejak awal tidak ia inginkan, hingga bagaimana dirinya perlahan menemukan arah hidup selama menjalani pelarian tersebut merupakan sisi yang seharusnya dapat dieksplorasi lebih dalam. Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Di sisi lain, konflik tokoh pendukung seperti Aki dan Ichiro justru terasa lebih kuat. Mereka harus menghadapi kenyataan sebagai penerus peternakan keluarga, mempertahankan apa yang telah dimiliki, sekaligus menentukan apakah akan memenuhi ekspektasi keluarga atau mengejar keinginan mereka sendiri. Permasalahan tersebut justru membuat perjalanan karakter mereka terasa lebih nyata.

Akhir cerita disajikan dengan cukup baik. Masing-masing tokoh mengalami perkembangan dan mendapatkan resolusinya sendiri. Hachiken juga perlahan keluar dari bayang-bayang kegagalannya melalui berbagai pencapaian serta dampak yang ia berikan kepada orang-orang di sekitarnya. Namun, sekali lagi, belum ada sesuatu yang benar-benar terasa sebagai pencapaian besar untuk dirinya sendiri. Dibandingkan dengan beberapa tokoh lainnya, perjalanan Hachiken masih terasa kurang kuat.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa mengadaptasi sebuah serial atau manga menjadi film memiliki kesulitannya sendiri. Dengan durasi yang terbatas, pembuat film harus memilih bagian mana yang akan menjadi fokus utama dan mana yang harus dikurangi. Menurutku, inilah salah satu kelemahan terbesar film ini. Terlalu banyak potensi cerita yang disentuh, tetapi tidak semuanya mendapatkan ruang yang cukup untuk berkembang.

Meski demikian, film ini tetap memiliki banyak hal yang dapat dipelajari, terutama mengenai kehidupan. Anggapan bahwa menjadi pewaris akan selalu lebih nyaman dibandingkan menjadi seorang perintis justru dipatahkan melalui kehidupan para siswa yang berasal dari keluarga peternak. Mempertahankan apa yang telah diwariskan kepada mereka ternyata juga membutuhkan usaha, tanggung jawab, dan tekanan yang tidak sedikit.

Selain itu, penonton juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai kehidupan hewan ternak. Bagaimana mereka dirawat, bagaimana prosesnya hingga menjadi bahan makanan, serta berbagai hal lain yang mungkin tidak mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tersebut menjadi nilai tambah karena film tidak hanya bercerita, tetapi juga memperkenalkan dunia yang sebelumnya mungkin terasa asing bagi penonton.

Akting dan interaksi para pemain terasa natural. Pergerakan kamera, pengambilan detail gambar, serta komposisi warna juga cukup baik dalam mendukung suasana cerita. Pemilihan musik pun disesuaikan dengan adegan yang ditampilkan sehingga tidak terasa berlebihan.

Pada akhirnya, Silver Spoon justru berhasil melebihi ekspektasiku sebelum menonton. Film yang awalnya terasa seperti sesuatu yang mungkin membosankan ternyata memiliki daya tarik sendiri melalui dunia peternakan, karakter yang beragam, serta berbagai pelajaran hidup yang disisipkan di dalamnya. Meski perjalanan Hachiken sebagai tokoh utama masih terasa kurang digali, film ini tetap menjadi tontonan ringan yang cukup menarik untuk dinikmati pada akhir pekan.

 

Adegan yang mengesankan:  

Sebuah sendok perak terpajang di atas pintu kantin. Saat melihat kepala sekolah sedang membersihkannya, Hachiken pun memberanikan diri untuk menanyakan maknanya. Ada idiom yang mengatakan bahwa seseorang yang terlahir dengan membawa sendok perak akan memiliki kehidupan yang baik. Dan itulah harapan sang kepala sekolah terhadap kehidupan murid-muridnya.

Sendok emas atau sendok perak sering dijadikan istilah untuk seseorang yang terlahir dari keluarga kaya. Memang, privilege yang dimiliki sejak lahir dapat memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan. Namun, apakah terlahir dalam keluarga kaya otomatis membuat seseorang memiliki masa depan yang baik? Tidak selalu. Keluarga mungkin memberikan titik awal yang berbeda, tetapi bagaimana seseorang menjalani hidup, mengambil keputusan, dan menghadapi berbagai keadaan juga akan ikut menentukan ke mana hidupnya akan berjalan.

 

Dialog mengesankan:

"Tidak masalah jika kau melarikan diri untuk hidup"

 

Ending:

Happy Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna Uwie)

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar