Influencers | 2025 | 1h 50m
Genre
: Psychological Thriller/Horror/Thriller | Negara: Canada-US
Director:
Kurtis David Harder |
Writers: Kurtis David
Harder
Pemeran: Veronica Long, Cassandra
Naud, Emily Tennant
IMDB: 5.9
My
Rate : 6/10
CW mencoba menjalani kehidupan barunya bersama Diane. Namun, masa lalunya perlahan mulai terungkap dan menyeretnya kembali ke lingkaran yang selama ini berusaha dihindari, terlebih saat Madison datang untuk menuntut balas.
Peringatan:
Adegan
kekerasan, ketelanjangan, seksual, obat-obatan, alkohol, dan rokok
Sinopsis :
CW
menjalani kehidupan barunya di Prancis bersama kekasihnya, Diane. Kehidupan
mereka dipenuhi kasih sayang dan canda tawa, seolah masa lalu telah benar-benar
ditinggalkan. Namun, semuanya berubah ketika seorang influencer hadir dalam
perjalanan liburan mereka.
CW
kembali pada dunia kelam yang selama ini berusaha disembunyikannya. Ia
menghabisi sang influencer dan mengambil alih kehidupannya. Di sisi lain,
Madison masih harus menghadapi pandangan buruk masyarakat yang tidak
mempercayai kisah yang dialaminya. Trauma yang ditinggalkan CW membuat Madison
menjauh dari dunia yang dahulu membesarkan namanya.
Namun,
rahasia tidak akan selamanya dapat disembunyikan. Diane mulai menyadari
berbagai kejanggalan dalam diri CW, sementara Madison perlahan memberanikan
diri keluar dari persembunyiannya untuk menghadapi masa lalunya. Dua keadaan
yang perlahan mengancam kehidupan baru yang selama ini dibangun oleh CW.
Akankah
seluruh kebohongan yang diciptakan CW akhirnya terbongkar?
Ulasan :
Bayangkan menjalani kehidupan yang
dipenuhi kepalsuan hingga perlahan membuat kita kehilangan identitas diri
sendiri. Kehidupan seperti itulah yang dijalani oleh CW dalam Influencers
(2025). Film ini menjadi jawaban atas akhir cerita penuh tanda tanya yang
ditinggalkan Influencer (2022). Jika film sebelumnya berfokus pada pencurian
identitas, sekuel ini lebih menitikberatkan pada konsekuensi yang harus
dihadapi setelahnya.
Sepertiga awal film mencoba
membangun kembali pondasi cerita. Sayangnya, penyajian tersebut justru
menimbulkan sedikit kebingungan. Pada awalnya film seolah mengarahkan penonton
untuk percaya bahwa cerita ini merupakan prekuel yang akan menjelaskan alasan
di balik tindakan CW atau trauma yang mengubah pandangannya terhadap para
influencer. Namun, arah tersebut ternyata tidak pernah benar-benar diwujudkan.
Persepsi itu mulai terbantahkan
ketika berbagai petunjuk mengenai Thailand bermunculan. Sayangnya, film tetap
tidak memberikan jawaban mengenai bagaimana CW dapat meninggalkan Thailand
setelah seluruh kejadian pada film sebelumnya. Pertanyaan yang cukup penting
ini seakan diabaikan begitu saja oleh penulisnya.
Dibandingkan dengan Influencer (2022), konflik internal CW justru terasa lebih kuat. Hubungannya dengan Diane
yang mulai retak, rahasia masa lalunya yang perlahan terungkap, hingga
kemunculan Madison yang menghancurkan kehidupan baru yang telah susah payah
dibangunnya menjadi rangkaian konflik yang menarik. Semua itu memperlihatkan
sisi rapuh CW, sebuah celah dari sosok manipulatif yang selama ini terlihat
hampir sempurna.
Sayangnya, penyelesaian cerita tidak
mampu mempertahankan kualitas tersebut. Dibandingkan film pertama yang
meninggalkan kepuasan meski berakhir terbuka, akhir cerita kali ini terasa
lebih absurd dan kehilangan arah. Kepribadian CW yang sebelumnya dibangun
begitu rapi berubah menjadi tidak konsisten, bahkan di beberapa momen lebih
menyerupai sosok yang kikuk daripada pembunuh manipulatif yang selama ini
dikenal. Meski demikian, penyelesaian yang diterima Madison tetap memberikan
rasa puas sebagai penutup perjalanan karakternya.
Secara keseluruhan, film kedua ini
masih berada di bawah film pertamanya. Nuansa psychological thriller yang
begitu kuat pada Influencer (2022) perlahan memudar akibat jalan cerita yang
semakin sulit dipercaya. Beberapa tokohnya juga terasa dipaksa mengambil
keputusan yang kurang masuk akal hanya agar cerita terus bergerak. Aura
mengintimidasi yang dimiliki CW pun semakin menghilang menjelang pertengahan
hingga akhir film. Bahkan adegan pertarungan yang seharusnya menjadi klimaks
terasa kurang menjanjikan dan tidak begitu natural.
Meski demikian, dari sisi teknis
film ini tetap memiliki beberapa kelebihan. Pergerakan kamera, transisi, dan
proses editing dilakukan dengan cukup baik. Penonton juga dimanjakan dengan
pemandangan yang indah melalui pengambilan gambar wide yang mampu memperlihatkan
keindahan setiap lokasi secara maksimal.
Akting para pemain juga tidak
memberikan sesuatu yang benar-benar istimewa. Beberapa dialog dan perilaku
karakter terkadang terasa kurang masuk akal. Walaupun demikian, bukan berarti
karakter seperti itu sepenuhnya mustahil ditemukan di dunia nyata. Tidak semua
orang menjalani kehidupan sebagaimana standar ideal yang kita bayangkan.
Film ini juga mengambil lokasi di
beberapa tempat, termasuk Paris dan Bali, Indonesia. Sayangnya, penggambaran
kehidupan mereka di Bali terasa kurang meyakinkan. Mereka seolah dapat bergerak
bebas tanpa batasan yang lazim ditemui saat berada di negara asing. Bahkan
penggunaan tempat tinggal pribadi terasa terlalu mudah sehingga sedikit
mengurangi kredibilitas cerita.
Pada
akhirnya, Influencers (2025) mencoba memperlihatkan bahwa kehidupan yang
dibangun di atas kebohongan tidak akan pernah benar-benar memberikan
ketenangan. Sayangnya, gagasan tersebut tidak selalu diimbangi dengan penulisan
cerita yang konsisten sehingga sebagian potensinya terasa belum tergali secara
maksimal. Meski tidak mampu melampaui kualitas film pertamanya, Influencers
tetap menjadi penutup yang cukup layak bagi kisah CW dan Madison, sekaligus
mengingatkan bahwa identitas mungkin dapat dicuri, tetapi konsekuensi dari
setiap tindakan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.
Adegan yang mengesankan:
Madison memilih bersembunyi dari
tatapan masyarakat yang menganggap traumanya hanyalah kebohongan. Namun pada
akhirnya, dirinya memberanikan diri untuk kembali menghadapi semua itu. Bukan
hal yang mudah membuktikan kebenaran ketika seluruh dunia seolah mengatakan
bahwa dirimu salah. Keputusan untuk berhenti bersembunyi inilah yang membuat
adegan tersebut terasa begitu mengesankan.
Kenyataannya, tidak sedikit orang
yang merasa dunia lebih yakin memahami hidup mereka daripada diri mereka
sendiri. Pada akhirnya, rasa lelah untuk terus menjelaskan membuat sebagian
orang memilih menghilang dari pandangan. Namun, keberanian untuk kembali
menghadapi semuanya terkadang menjadi langkah pertama untuk merebut kembali
hidup yang sempat direnggut.
Dialog
mengesankan:
"Kita semua pernah melakukan hal yang tak kita sukai"
Ending:
Open
ending
Rekomendasi:
Okay
to Watch
(Aluna
Uwie)

0 Komentar