The Furthest End Awaits (Original
title: Saihate nite) | 2014 | 1h 58m
Genre : Drama | Negara: Japan
Director: Hsiu-Chiung
Chiang | Writers: Nako
Kakinoki
Pemeran: Hiromi Nagasaku, Nozomi Sasaki, Hiyori Sakurada
IMDB: 7
My Rate : 6/10
Misaki memilih kembali ke kampung halaman ayahnya setelah menerima kabar bahwa sang ayah telah dinyatakan meninggal dunia. Ia kemudian menetap di gubuk kecil peninggalan ayahnya. Meski ayahnya telah menghilang selama delapan tahun dan secara hukum telah dinyatakan meninggal, Misaki masih menyimpan harapan bahwa suatu hari ayahnya akan kembali.
Peringatan:
Adegan
kekerasan, sensual, kata kasar
Sinopsis
:
Misaki menerima kabar dari seorang
pengacara bahwa ayahnya, yang telah menghilang selama delapan tahun, kini
dinyatakan meninggal secara hukum. Bersamaan dengan kabar tersebut, ia juga
harus menghadapi utang yang ditinggalkan sang ayah. Meski sejak perceraian
kedua orang tuanya Misaki tinggal bersama ibunya dan tidak pernah lagi bertemu
dengan sang ayah, ia memutuskan kembali ke kampung halaman ayahnya. Di tempat
itulah kenangan indah mereka pernah terukir. Misaki memilih menetap di rumah
tua peninggalan ayahnya, sambil terus menyimpan harapan bahwa suatu hari
ayahnya akan kembali pulang.
Rumah tua tersebut kemudian diubah
Misaki menjadi sebuah café. Tepat di seberangnya berdiri sebuah penginapan tua
yang dikelola oleh Eriko bersama kedua anaknya, Arisa dan Shouta. Eriko tidak
menyukai kehadiran Misaki dan meminta kedua anaknya untuk menjauhinya. Namun,
kesibukan Eriko yang membuatnya sering meninggalkan anak-anaknya justru
perlahan mempertemukan mereka dengan Misaki.
Arisa dipaksa tumbuh lebih cepat
dari usianya. Ia harus menjaga adiknya, mengurus kebutuhan rumah, memikirkan
biaya sekolah, hingga menghadapi ejekan dari teman-temannya. Di tengah kesepian
yang mereka rasakan, kehadiran Misaki perlahan menjadi tempat bagi Arisa dan
Shouta untuk berbagi kehangatan yang selama ini mereka rindukan.
Akankah pertemuan mereka membantu
menyembuhkan luka yang selama ini mereka simpan dan membawa harapan yang selama
ini mereka nantikan?
Ulasan :
Saat seseorang pergi atau
menghilang, berapa lama kita akan terus menunggunya kembali? Pertanyaan
sederhana inilah yang menjadi dasar cerita dalam The Furthest End Awaits
(2014). Melalui Misaki dan Arisa, film ini memperlihatkan dua kehidupan yang
berjalan berbeda, tetapi sama-sama dipenuhi penantian. Keduanya kehilangan
sosok penting dalam hidupnya, lalu berusaha bertahan dengan harapan yang masih
mereka genggam. Sayangnya, tema yang menarik tersebut belum sepenuhnya didukung
oleh pembangunan cerita yang sama kuatnya.
Pengenalan tokoh dilakukan dengan
baik dan cukup mengesankan. Film dibuka dengan seorang pria yang duduk di tepi
pantai sambil memainkan gitar bersama anaknya. Tidak lama kemudian, sang ibu
membawa anak tersebut pergi. Adegan kemudian berpindah kepada Misaki yang
menerima kabar bahwa ayahnya telah dinyatakan meninggal dunia secara hukum
setelah menghilang selama delapan tahun. Pembukaan ini menjadi pondasi yang
cukup kuat untuk membangun emosi tokoh utama sekaligus rasa penasaran penonton.
Kemunculan Arisa, Shouta, dan Eriko
juga terasa natural. Hubungan mereka yang renggang langsung diperlihatkan tanpa
harus dijelaskan secara berlebihan. Namun, alasan Eriko begitu tidak menyukai
Misaki sejak awal masih terasa kurang kuat. Padahal di pertengahan cerita
diperlihatkan bahwa Eriko memiliki hubungan yang cukup baik dengan ayah Misaki.
Kontras ini menyisakan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar dijawab oleh
film.
Beberapa bagian pembangunan dunia
juga terasa kurang meyakinkan. Misaki datang dengan banyak barang ke sebuah
rumah kayu yang telah lama terbengkalai. Namun, keberadaan barang-barang
tersebut kemudian seolah menghilang begitu saja. Rumah yang terlihat rapuh juga
berubah menjadi café yang nyaman dalam waktu yang terasa sangat singkat.
Hal serupa juga terlihat pada
kebutuhan listrik dan air yang seolah tidak pernah menjadi kendala. Café
tersebut bahkan mampu mengoperasikan mesin kopi tanpa penjelasan bagaimana
fasilitas itu tersedia. Memang, detail seperti ini tidak memengaruhi inti cerita,
tetapi cukup mengganggu logika dunia yang sejak awal dibangun terasa sederhana
dan realistis.
Kondisi ekonomi Misaki juga kurang
berhasil diyakinkan. Sejak awal ia digambarkan memiliki kemampuan finansial
yang baik. Ia mampu melunasi utang ayahnya, merenovasi rumah menjadi café,
hingga membantu keluarga Arisa tanpa kesulitan berarti. Namun, film hampir
tidak memperlihatkan bagaimana café tersebut berjalan. Pengunjung yang datang
sangat sedikit, aktivitas usaha pun nyaris tidak terlihat, sehingga sumber
ekonomi Misaki terasa menggantung.
Dibanding persoalan logika tersebut,
kelemahan yang lebih terasa justru berada pada pendalaman karakter. Masa lalu
ayah Misaki setelah berpisah darinya hampir tidak pernah diperlihatkan.
Kehidupan Misaki sebelum kembali ke kampung halaman juga hanya disinggung
sekilas. Begitu pula dengan Eriko yang tetap menjadi sosok misterius hingga
akhir. Identitas ayah Arisa dan Shouta tidak pernah dijelaskan, begitu juga
dengan pria yang beberapa kali menemui Eriko. Padahal latar belakang mereka
berpotensi memperkuat konflik yang sedang dibangun.
Konflik internal masing-masing tokoh
berhasil diperlihatkan dengan cukup baik. Misaki hidup bersama kerinduannya
kepada sang ayah dan harapan yang tidak pernah benar-benar padam. Arisa dipaksa
tumbuh lebih cepat karena harus menggantikan peran orang dewasa di rumah.
Sementara itu, Eriko perlahan diperlihatkan bukan sebagai ibu yang buruk,
melainkan perempuan yang juga sedang berjuang menghadapi kesepiannya sendiri.
Film ini mengingatkanku pada Megane
dalam cara penyajiannya. Sama-sama menghadirkan seseorang yang datang ke tempat
terpencil untuk mencari sesuatu yang tidak dapat ditemukan di kehidupan
sebelumnya. Jika Taeko mencari ketenangan dalam Megane, Misaki datang membawa
harapan yang belum selesai. Sayangnya, berbeda dengan Megane, fokus cerita di
film ini perlahan bergeser. Tokoh utama yang seharusnya menjadi pusat cerita
justru terasa kalah menonjol dibandingkan Arisa.
Arisa memperoleh ruang perkembangan
karakter yang lebih besar dibandingkan Misaki. Hal tersebut juga diperkuat oleh
penampilan Hiyori Sakurada yang berhasil menyampaikan emosi Arisa dengan sangat
baik. Sementara itu, Hiromi Nagasaku sebagai Misaki tampil natural, tetapi
ruang yang diberikan kepadanya terasa lebih terbatas sehingga perkembangan
emosinya tidak meninggalkan kesan yang sama kuatnya.
Akhir cerita disajikan dengan cukup
baik. Film memperlihatkan bagaimana masing-masing tokoh akhirnya berdamai
dengan penantian yang mereka jalani. Perjalanan mereka melalui penolakan,
harapan, hingga penerimaan terasa menyentuh. Sayangnya, bagian penutup bergerak
terlalu cepat sehingga dampak emosional yang telah dibangun sepanjang cerita
tidak sepenuhnya mengendap setelah film berakhir.
Dari sisi teknis, film ini tampil
cukup memuaskan. Pergerakan kamera, komposisi warna, transisi antarscene,
hingga pemilihan musik mampu mendukung suasana yang tenang dan reflektif. Film
juga menggunakan simbol-simbol visual yang menarik untuk dimaknai.
Salah satu simbol yang paling
berkesan adalah lampu di teras café Misaki. Lampu tersebut terasa seperti
mercusuar yang terus menyala, seolah menjadi penunjuk jalan bagi kapal yang
ingin kembali ke daratan. Simbol ini selaras dengan harapan Misaki yang tidak
pernah benar-benar padam terhadap kepulangan sang ayah. Di sisi lain, Arisa
juga menjadi semacam cerminan masa kecil Misaki. Keduanya sama-sama tumbuh
bersama seorang ibu tunggal, sehingga hubungan mereka terasa seperti pertemuan
antara seseorang dengan bayangan masa lalunya sendiri.
Pada akhirnya, The Furthest End
Awaits bukanlah film tentang jawaban atas penantian, melainkan tentang
bagaimana manusia memilih tetap menjalani hidup di tengah ketidakpastian. Meski
beberapa aspek cerita dan pendalaman karakternya belum tergarap secara maksimal,
film ini tetap menawarkan perenungan yang hangat mengenai kehilangan, harapan,
dan keberanian untuk perlahan menerima kenyataan.
Adegan yang mengesankan:
Setelah membaca kisah Bintang
Yodaka, Arisa langsung menemui Misaki. Menurutnya, Yodaka memiliki kehidupan
yang begitu menyedihkan. Karena itu, saat Misaki mengatakan bahwa dirinya
serupa dengan Yodaka, Arisa merasakan perasaan yang sulit dijelaskan. Dengan
tegas ia mengatakan bahwa Misaki tidak seperti Yodaka dan memintanya untuk
tidak meninggalkannya.
Sering kali, kita menjadi orang yang
paling keras dalam menilai diri sendiri. Kita merasa penuh dengan kekurangan,
tidak berharga, atau berharap dapat menjadi orang lain yang lebih baik.
Padahal, di saat yang sama mungkin ada seseorang yang melihat diri kita dengan
cara yang sama sekali berbeda. Seperti Arisa yang tidak melihat Misaki sebagai
sosok yang menyedihkan, tetapi sebagai seseorang yang begitu berarti baginya.
Terkadang, perhatian dan rasa sayang dari orang lain bukan hanya memberikan
kehangatan, tetapi juga menjadi alasan bagi seseorang untuk tetap bertahan
menjalani hidupnya.
Dialog mengesankan:
"Saya menunggu ayah saya disini"
Ending:
Bittersweet
Ending
Rekomendasi:
Okay
to Watch
(Aluna
Uwie)
.jpg)
0 Komentar