Review Film All Lives (2024) - Saat Bayangan Kematian Mengajarkan Makna Kehidupan

 

All Lives (Original title: Ikitoshi Ikerumono) | 2024 | 1h 49m
Genre : Drama| Negara: Japanese
Director: Ryūichi Hiroki | Writers : Eriko Kitagawa
Pemeran: Yuna Chinen, Tomoyo Harada, Hikari Mitsushima
IMDB: 6.7
My Rate : 9/10

Sakura membawa Naruse, pasien yang divonis hanya memiliki waktu hidup tiga bulan lagi, untuk menikmati sisa hari-harinya setelah percakapan panjang mereka tentang kematian. Namun, perjalanan yang awalnya menjadi cara untuk mengakhiri penderitaan itu perlahan mengubah cara pandang keduanya terhadap kehidupan.

 

Peringatan:

Adegan Alkohol, kata kasar

 

Sinopsis :

Sakura kecewa saat mengetahui dokter kepala telah memberitahukan kepada Naruse bahwa dirinya diperkirakan hanya memiliki waktu hidup tiga bulan lagi. Kekhawatiran Sakura pun menjadi kenyataan. Naruse perlahan kehilangan semangat untuk bertahan hidup karena merasa segala penderitaan yang dialaminya telah membuat hidupnya kehilangan makna.

Berusaha mengembalikan semangat tersebut, Sakura meminta Naruse menuliskan sepuluh hal yang ingin dilakukannya sebelum meninggal. Namun, Naruse tidak mampu menuliskan satu pun keinginan. Satu-satunya hal yang ia inginkan hanyalah kembali menghirup udara segar setelah sekian lama terbaring di rumah sakit.

Sakura kemudian membawa Naruse keluar dari rumah sakit, sekaligus membawa dua botol potasium yang telah mereka siapkan untuk mengakhiri hidup. Perjalanan mereka dimulai menuju kota kelahiran Naruse, menyusuri kembali tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari hidupnya dan membangkitkan kenangan-kenangan yang sempat terlupakan. Namun, ketika Naruse merasa telah menemukan akhir yang diinginkannya dan meminta Sakura menyuntikkan potasium itu, sebuah keputusan sulit harus dihadapi oleh mereka berdua.

Akankah perjalanan tersebut mengubah keputusan yang telah mereka buat sejak awal?

 

Ulasan :

Penderitaan, masalah, penyakit, dan berbagai hal yang menyakitkan sering kali membuat kita lupa bahwa hidup masih menyimpan banyak hal yang layak disyukuri. Gagasan inilah yang coba disampaikan oleh All Lives (2024). Dengan penyajian yang sederhana dan tenang, film ini mengajak penonton berhenti sejenak untuk memandang kembali arti kehidupan melalui sudut pandang orang-orang yang berada begitu dekat dengan kematian.

Tokoh utama diperkenalkan secara natural. Sakura, seorang dokter yang masih dihantui kegagalan menyelamatkan pasiennya, dipertemukan dengan Naruse, pasien yang divonis hanya memiliki waktu hidup sekitar tiga bulan lagi. Hubungan yang terjalin di antara keduanya berkembang secara perlahan dan terasa alami, sehingga mampu menjadi pondasi yang kuat bagi perjalanan emosional film ini.

Konflik mulai tumbuh ketika bayangan kematian perlahan mengubah cara pandang mereka terhadap kehidupan. Naruse merasa kehilangan keinginan untuk bertahan hidup setelah mengetahui sisa waktunya yang begitu singkat. Di sisi lain, Sakura juga bergulat dengan konflik batinnya sendiri ketika menyaksikan pasiennya perlahan menyerah pada hidup.

Sakura tidak hanya berhadapan dengan keputusasaan Naruse, tetapi juga dengan rasa bersalah yang selama ini dipendamnya akibat kegagalan dalam operasi yang pernah dilakukannya. Pengalaman tersebut membuatnya mulai mempertanyakan makna profesinya sebagai seorang dokter. Di tengah usahanya menyelamatkan kehidupan, ia justru merasa tidak berdaya ketika harus menerima kenyataan bahwa ada batas yang tidak mampu dilampaui oleh siapa pun.

Pertemuan dua luka inilah yang kemudian menjadi kekuatan utama film. Penyajiannya berlangsung tenang tanpa ledakan emosi yang berlebihan, tetapi justru perlahan menyentuh perasaan penonton. Perjalanan yang mereka lalui bukan sekadar perjalanan menuju tempat-tempat di masa lalu, melainkan perjalanan untuk memahami kembali kehidupan, kematian, dan kenangan yang membentuk diri mereka.

Klimaks emosional film disajikan dengan sangat baik dan meninggalkan kesan yang mendalam. Sayangnya, bagian penutup setelah klimaks terasa sedikit kurang memuaskan karena lebih banyak disampaikan melalui narasi daripada diperlihatkan secara langsung. Padahal pembangunan emosinya sudah begitu kuat sehingga penonton berharap mendapatkan penutup yang sama kuatnya.

Kelebihan lain film ini terletak pada dialog-dialog serta adegan-adegannya yang sarat makna. Penonton diajak merenungkan berbagai hal, mulai dari ketakutan menghadapi kematian, keinginan untuk menyerah, hingga alasan seseorang memilih untuk tetap bertahan hidup. Semua disampaikan dengan sederhana tanpa terasa menggurui.

Akting para pemain juga menjadi nilai tambah yang sangat kuat. Pengalaman para aktor senior membuat setiap emosi terasa alami, sementara chemistry antartokohnya terbangun dengan meyakinkan sehingga hubungan mereka terasa hidup di layar.

Dari sisi teknis, pergerakan kamera, pengambilan detail gambar, komposisi warna, transisi, hingga pemilihan musik mampu mendukung suasana cerita dengan baik. Penyusunan alurnya juga sistematis sehingga perjalanan emosional para tokohnya mudah diikuti tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

All Lives bukan film yang menawarkan jawaban tentang kematian. Sebaliknya, film ini mengajak kita melihat kembali kehidupan yang sering kali terlupakan ketika dipenuhi rasa sakit dan keputusasaan. Mungkin kita tidak bisa memilih kapan hidup berakhir, tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana menjalani waktu yang masih tersisa. Dan barangkali, di situlah makna terbesar yang ingin disampaikan film ini.

 
Adegan yang mengesankan:  

Naruse akhirnya menyerah dan meminta Sakura menyuntikkan potasium yang telah disiapkan ke dalam tubuhnya. Dengan tangan yang gemetar, Sakura mengambil potasium tersebut. Namun, semakin dekat ia melakukannya, semakin sulit dirinya menerima kenyataan itu. Kesedihan yang selama ini berusaha ditahannya akhirnya pecah. Di tengah pergulatan batinnya, Sakura hanya mampu mengatakan bahwa ia masih ingin melihat Naruse tetap hidup.

Ketika seseorang berada dalam penderitaan yang begitu berat, kematian terkadang terlihat seperti jalan keluar dari semua rasa sakit yang dirasakannya. Namun, di balik keputusan tersebut, sering kali ada orang-orang yang diam-diam belum siap untuk kehilangan. Kita mungkin hanya membayangkan berakhirnya penderitaan diri sendiri, tetapi lupa bahwa kepergian kita juga akan meninggalkan duka yang harus dipikul oleh mereka yang menyayangi kita. Luka itu mungkin perlahan dapat diterima, tetapi tidak pernah benar-benar hilang dari kehidupan mereka.

 
Dialog mengesankan:

"Won't you try to live before you die?"

 

Ending:

Bittersweet Ending

 

Rekomendasi:

Must Watch

 

(Aluna Uwie)



 


Posting Komentar

0 Komentar