Review Film Smile 2 (2024) - Horor Psikologis tentang Trauma dan Kutukan yang Mengerikan

 

Smile 2 | 2024 | 1h 34m
Genre : Body Horror/Folk Horror/Psychological Horror/Showbiz Drama/Splatter Horror/Supernatural Horror/Tragedy/Horror/Mystery/Thriller | Negara: US
Director:
Parker Finn | Writers: Parker Finn
Pemeran: Naomi Scott, Rosemarie DeWitt, Lukas Gage
IMDB: 6.7
My Rate : 7/10

Skye berusaha kembali ke dunia hiburan setelah berjuang menghadapi masalah mental yang dialaminya. Namun, kehidupannya justru berubah menjadi semakin kacau setelah tanpa sengaja menyaksikan kematian misterius salah seorang rekannya.

 

Peringatan:

Alkohol, obat terlarang, kata kasar, kekerasan, menyakiti diri sendiri

 

Sinopsis :

Joel menerima kutukan setelah menjadi saksi kematian Rose. Demi membebaskan dirinya, ia berusaha meneruskan kutukan tersebut dengan membunuh seseorang secara brutal di depan seorang saksi. Komplotan pengedar narkoba pun menjadi targetnya. Sayangnya, rencananya tidak berjalan sesuai harapan. Orang yang seharusnya menjadi saksi justru ikut terbunuh. Tanpa disadari, kejadian tersebut ternyata disaksikan oleh Lewis yang kebetulan berada di tempat itu.

Di sisi lain, Skye, seorang penyanyi terkenal, berusaha kembali ke dunia hiburan setelah melewati berbagai masalah dalam hidupnya. Penyalahgunaan obat-obatan, skandal, hingga kecelakaan yang merenggut nyawa seseorang meninggalkan luka, baik secara fisik maupun mental. Demi meredakan rasa sakit yang terus mengganggunya, Skye mencari Lewis untuk mendapatkan obat. Namun, setibanya di sana, ia justru menyaksikan Lewis bunuh diri dengan cara yang misterius.

Sejak kejadian itu, kehidupan Skye perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Ilusi-ilusi aneh mulai menghantuinya hingga dirinya tidak lagi mampu membedakan mana kenyataan dan mana halusinasi. Kesempatan yang selama ini ia perjuangkan untuk kembali ke panggung pun terancam hancur.

Mampukah Skye memutus kutukan tersebut sebelum semuanya benar-benar menghancurkan dirinya?

 

Ulasan :

Kutukan itu kembali berlanjut. Senyuman yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan kembali berubah menjadi teror yang mengerikan. Namun, melalui Smile 2 (2024), cerita tidak lagi hanya berfokus pada kutukan itu sendiri, melainkan pada bagaimana rasa takut, trauma, dan tekanan hidup perlahan menghancurkan seseorang dari dalam.

Jika pada film pertama penonton diajak mengenal asal-usul kutukan, cara kerjanya, dan usaha Rose untuk menghentikannya, maka film kedua menggeser fokus tersebut secara perlahan. Kali ini, penonton diajak merasakan bagaimana kutukan itu menggerogoti korbannya, terlebih ketika korban tersebut sama sekali tidak memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Film dibuka dengan kesinambungan yang jelas dari film pertama melalui kemunculan Joel dan penanda waktu "6 hari kemudian". Adegan pembuka yang brutal tersebut langsung menghubungkan kedua film. Bagi penonton baru, akan lebih baik menonton film pertamanya terlebih dahulu agar rangkaian kejadian ini terasa lebih utuh.

Pembangunan karakter Skye menjadi salah satu kekuatan film ini. Latar belakang kehidupannya dijelaskan dengan baik, mulai dari masalah pribadi, tekanan sebagai figur publik, hingga tujuan hidupnya yang mulai kehilangan arah. Penonton dapat langsung merasakan bahwa Skye adalah sosok yang rapuh jauh sebelum kutukan itu datang. Karena itu, ketika teror mulai menghantuinya, semuanya terasa lebih masuk akal dan memiliki dampak emosional yang lebih kuat.

Tokoh-tokoh pendukung juga hadir secara natural dan memiliki fungsi yang jelas dalam membangun karakter Skye. Tidak ada tokoh yang terasa hadir tanpa tujuan.

Konflik internal dan eksternal berjalan beriringan dengan sangat baik. Kondisi mental Skye yang semakin rapuh, tekanan karier, hubungan keluarga yang tidak sehat, hingga tuntutan untuk kembali tampil di hadapan publik saling memperkuat satu sama lain. Kehadiran kutukan kemudian menjadi pemicu yang memperbesar seluruh ketakutan dan luka yang telah ada sebelumnya.

Adegan-adegan menegangkan juga disajikan dengan efektif. Berbeda dengan film pertama yang lebih sering menghadirkan kemunculan sosok menyeramkan secara singkat, Smile 2 menyajikan ilusi dengan koreografi yang lebih kompleks. Penonton benar-benar diajak masuk ke dalam sudut pandang Skye sehingga rasa bingung, panik, dan kehilangan kendali dapat ikut dirasakan.

Akhir cerita dieksekusi dengan cukup baik meski terasa sedikit terburu-buru. Adegan penutupnya meninggalkan kesan yang kuat, tetapi reaksi para penonton konser justru terasa kurang meyakinkan. Ekspresi dan kepanikan mereka belum sepenuhnya mendukung besarnya peristiwa yang sedang terjadi di hadapan mereka.

Dari sisi cerita maupun akting, film ini terasa lebih matang dibanding pendahulunya. Pengambilan gambar, pergerakan kamera, transisi, hingga penggunaan musik dan sound design berhasil memperkuat suasana mencekam yang ingin dibangun.

Sayangnya, penyajian ilusi terkadang justru membuat cerita kehilangan pijakan. Penonton dibuat sama bingungnya dengan Skye hingga sulit mengetahui bagian mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya ilusi. Pendekatan ini memang berhasil membawa penonton masuk ke dalam kondisi psikologis Skye, tetapi di sisi lain membuat gambaran mengenai rangkaian kejadian sebenarnya terasa kurang utuh. Meski demikian, pengalaman menonton secara keseluruhan tetap terasa menegangkan dan mampu mempertahankan atmosfer horornya hingga akhir.

Pada akhirnya, Smile 2 bukan hanya menghadirkan ketakutan melalui kutukan yang terus berpindah dari satu korban ke korban lainnya. Film ini juga memperlihatkan bagaimana luka, rasa bersalah, dan tekanan hidup dapat menjadi pintu yang membuat seseorang semakin mudah tenggelam dalam ketakutannya sendiri. Mungkin karena itulah, teror yang paling mengerikan dalam film ini bukanlah senyumannya, melainkan ketika seseorang tidak lagi mampu membedakan antara kenyataan dan ketakutan yang hidup di dalam pikirannya. 

 

Adegan yang mengesankan:  

Skye akhirnya mengungkapkan beban yang selama ini dipendamnya kepada Gemma, sahabat yang hubungannya sempat merenggang dengannya. Di tengah malam saat mereka menginap bersama, Skye mengaku bahwa dirinya merasa terjebak dalam kekacauan yang hanya bisa ia rasakan sendiri. Perasaan yang terus menghantuinya, tetapi sulit dipahami oleh orang-orang di sekitarnya.

Berada dalam kondisi mental yang kurang stabil, depresi, atau gangguan mental lainnya memang sangat melelahkan. Dampaknya tidak hanya memengaruhi hubungan dengan orang-orang di sekitar, tetapi juga perlahan menggerogoti diri penderitanya dari dalam. Mirisnya, pergulatan batin tersebut sering kali sulit dipahami, bahkan ketika berusaha menjelaskannya kepada orang lain. Akibatnya, banyak penderita merasa semakin sendirian dan semakin sulit menemukan jalan untuk bangkit.

 

Dialog mengesankan:

"You'll never escape who you truly are on the inside"

 

Ending:

Sad Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna Uwie)


Baca Juga
https://www.alunauwie.com/2025/03/review-film-smile-2022.html

 

 


Posting Komentar

0 Komentar