Under The Big Onion (Original title:
Ookina Tamanegi No Shita De) | 2025 | 1h 55m
Genre
: Drama/Romance | Negara: Japan
Director:
Shōgo Kusano |
Writers: Izumi
Takahashi
Pemeran: Asmi, Yôsuke Eguchi, Taiyu
Fujiwara
IMDB: 6.9
My
Rate : 7/10
Takeru yang memasuki tahun terakhir universitas masih terjebak dalam pencarian makna hidup hingga belum mampu melangkah menuju masa depannya. Namun, pertemuan yang tidak disengaja dengan Miyu perlahan menghadirkan cahaya yang mulai mengubah hidupnya.
Peringatan:
Adegan
Alkohol
Sinopsis :
Obrolan tentang pekerjaan sudah
menjadi hal yang biasa di kalangan teman-teman Takeru yang memasuki tahun
terakhir universitas. Sayangnya, Takeru tidak begitu tertarik dengan pembahasan
tersebut. Bukan karena dirinya tidak mampu mencari pekerjaan, melainkan karena
masih berusaha menemukan makna dan tujuan hidup yang benar-benar ingin
dijalaninya. Percakapan itu tanpa disadari menarik perhatian Miyu yang duduk
tidak jauh dari mereka.
Setelah
mendengar cara berpikir Takeru, Miyu menganggap dirinya hanya sedang mencari
dalih dan pembenaran atas kebingungannya, bukan benar-benar berusaha menghadapi
hidup dengan dewasa. Meski pertemuan demi pertemuan terus terjadi, hubungan
keduanya tidak pernah benar-benar akrab. Hingga tanpa sengaja mereka mulai
berinteraksi lebih intens melalui sebuah buku catatan di tempat mereka bekerja.
Takeru
tidak pernah mengetahui siapa sosok yang menjadi teman bicaranya selama ini. Namun,
percakapan-percakapan tersebut perlahan membangun koneksi emosi yang begitu
nyata hingga dirinya memberanikan diri mencari tahu identitasnya. Sayangnya,
sebuah kesalahpahaman membuat Takeru mengira orang lain adalah sosok di balik
buku catatan tersebut, padahal orang itu adalah Miyu. Kesempatan yang mulai
membuka jalan bagi keduanya pun kembali menjauh.
Akankah
Takeru menyadari perasaannya terhadap Miyu?
Ulasan
:
Banyak hal di dunia ini yang sulit
dipahami, seperti makna hidup, cinta, dan juga takdir. Under The Big Onion
(2025) mencoba menyajikan semua itu dengan cara yang unik ke layar.
Menghadirkan dua cerita yang serupa tetapi tidak sepenuhnya sama, film ini
membangun benang merah yang perlahan memperlihatkan keterkaitan di antara
keduanya.
Di era digitalisasi dan media
sosial, film ini hadir dengan membawa kesan nostalgia. Tidak banyak generasi
sekarang yang mengenal konsep sahabat pena, yaitu membangun koneksi melalui
surat yang dikirim satu sama lain. Sebuah pengalaman yang terasa sederhana,
tetapi menyimpan kehangatan yang mungkin sulit ditemukan di dunia yang bergerak
serba cepat seperti sekarang.
Komponen-komponen penting cerita
langsung diperkenalkan sejak awal film, seperti surat, Big Onion, dan radio.
Semuanya tidak hanya berfungsi sebagai properti cerita, tetapi juga menjadi
penghubung antar tokoh dan antar waktu. Perlahan, film memperkenalkan
masing-masing karakternya secara natural. Pertemuan demi pertemuan terjadi
dengan mengalir tanpa terasa dipaksakan, sementara kebimbangan yang mereka
rasakan menjadi pondasi munculnya konflik.
Meski menggunakan alur maju mundur
dan menghadirkan dua cerita yang berjalan berdampingan, masing-masing memiliki
daya tarik tersendiri. Penonton diajak menikmati dinamika hubungan yang hangat
dan romantis, sekaligus menyaksikan bagaimana perasaan para tokohnya berkembang
secara perlahan.
Sayangnya, kekuatan tersebut tidak
selalu berjalan seimbang. Koneksi antara dua cerita terkadang terasa kurang
menyatu dan tidak mengalir sebaik yang diharapkan. Alih-alih saling memperkuat,
keduanya sesekali terlihat seperti berebut ruang untuk menjadi pusat perhatian.
Akibatnya, eksplorasi emosi dan konflik dari masing-masing cerita terasa kurang
dalam sehingga meninggalkan kesan yang sedikit dangkal.
Konflik dibangun dari rasa penasaran
dan kesalahpahaman. Pertanyaan mengenai siapa sebenarnya penulis surat
tersebut, siapa sosok yang dibayangkan saat surat itu ditulis, serta ekspektasi
yang tumbuh dari kata-kata tanpa pernah benar-benar bertemu menjadi sumber
utama ketegangan cerita. Film juga memperlihatkan bagaimana harapan yang
dibangun dari imajinasi terkadang tidak sejalan dengan kenyataan yang ada.
Akhir cerita disajikan dengan cukup
menarik. Masing-masing tokoh dalam kedua cerita mengalami perkembangan yang
jelas dan memperoleh penutup yang hangat. Kisah Takeru bahkan terasa seperti
refleksi dari perjalanan orang tuanya, seolah ingin mengatakan bahwa takdir
memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan orang-orang yang memang ditujukan
untuk satu sama lain.
Film
ini juga memiliki sejumlah kelebihan dari sisi penyajian. Akting para pemain
terlihat natural dan tidak berlebihan. Dialog yang digunakan sederhana tetapi
tetap mampu menyampaikan emosi yang dibutuhkan. Chemistry antar pemain juga
terbangun dengan baik.
Dari sisi teknis, pergerakan kamera,
transisi adegan, dan komposisi warna berpadu dengan harmonis. Perbedaan antara
masa lalu dan masa kini terlihat jelas tanpa terasa kasar. Pemilihan musik pun
dilakukan dengan baik, bahkan beberapa lirik lagu terasa selaras dengan
perasaan yang ingin disampaikan dalam adegan tertentu.
Kekurangan lainnya terletak pada
eksplorasi karakter Takeru yang masih terasa kurang. Sebagai tokoh yang
berulang kali mempertanyakan makna hidup dan masa depannya, latar belakang yang
membentuk pola pikir tersebut tidak banyak dibahas. Hubungannya dengan ayahnya
yang terlihat kurang harmonis juga hanya disentuh sekilas. Padahal, jika
aspek-aspek ini dieksplorasi lebih jauh, perjalanan emosional Takeru
kemungkinan akan terasa lebih kuat dan berbekas bagi penonton.
Meski
tidak sepenuhnya berhasil memaksimalkan potensi dari dua cerita yang dibawanya,
Under The Big Onion tetap menjadi tontonan yang hangat dan menyenangkan untuk
diikuti. Film ini mengingatkan bahwa di tengah dunia yang semakin cepat dan
penuh distraksi, hubungan antarmanusia sering kali tumbuh dari hal-hal
sederhana: sebuah surat, sebuah percakapan, atau pertemuan yang tampaknya biasa
saja. Tidak sempurna, tetapi cukup tulus untuk meninggalkan kesan manis setelah
film berakhir.
Adegan
yang mengesankan:
Takeru
seakan kehilangan cahayanya setelah hidupnya dipenuhi kehampaan. Ibunya yang
terbaring di rumah sakit menyadari perubahan tersebut. Di tengah kondisinya
yang semakin melemah, ia hanya berpesan agar Takeru menemukan sesuatu yang
benar-benar membuatnya merasa hidup. Sesuatu yang dapat membuat hari-harinya
tidak lagi terasa membosankan.
Tidak sedikit orang pernah
kehilangan cahaya dalam hidupnya hingga mempertanyakan untuk apa dirinya terus
melangkah. Sering kali hal itu terjadi karena kita kehilangan sesuatu atau
seseorang yang selama ini menjadi alasan untuk bertahan. Pesan tentang
"mencari" dalam adegan ini terasa begitu indah. Mencari bukan sekadar
menemukan kesenangan baru, tetapi juga menciptakan makna yang mampu
menghidupkan kembali semangat untuk menjalani kehidupan.
Dialog mengesankan:
"Karena kamu sudah lahir, sebaiknya kamu hidup saja"
Ending:
Happy
Ending
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna
Uwie)

0 Komentar