Undertone | 2025 | 1h 34m
Genre
: Folk Horror/Monster Horror/Psychological Horror/Supernatural
Horror/Horror/Sci-Fi/Thriller | Negara: Canada
Director:
Ian Tuason |
Writers: Ian Tuason
Pemeran: Nina Kiri, Adam DiMarco,
Michèle Duquet
IMDB: 5.9
My
Rate : 6/10
Evy menjalani pekerjaannya sebagai podcaster sambil merawat ibunya yang berada dalam kondisi koma. Namun, hidupnya mulai berubah setelah ia dan rekannya menerima sebuah email berisi rekaman suara serta kisah mengerikan yang perlahan menyeret mereka ke dalam rangkaian teror yang sulit dijelaskan.
Peringatan:
Alkohol,
kekerasan
Sinopsis :
Evy tinggal bersama ibunya yang
telah lama berada dalam kondisi koma. Di tengah keadaan tersebut, ia tetap
menjalani pekerjaannya sebagai seorang podcaster bersama sahabatnya, Justin.
Mereka merekam podcast secara jarak jauh melalui sambungan telepon yang selalu
dilakukan pada pukul tiga dini hari.
Suatu hari, Justin menerima sebuah
email dari pengirim yang tidak dikenal. Email tersebut berisi pesan misterius
beserta sepuluh rekaman suara. Menganggapnya hanya sebagai kiriman iseng dari
pendengar, mereka sepakat menjadikannya sebagai bahan pembahasan untuk podcast
berikutnya.
Namun, ketika satu per satu rekaman
itu mulai diputar, serangkaian teror yang sulit dijelaskan perlahan menghantui
kehidupan mereka. Kejadian-kejadian mengerikan terus bermunculan hingga nyawa
mereka sendiri berada dalam bahaya.
Apa sebenarnya yang tersembunyi di
balik sepuluh rekaman suara tersebut?
Ulasan :
Menerima pesan misterius dari
seseorang yang tidak dikenal biasanya membuat orang berpikir dua kali sebelum
menanggapinya. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Justin dan Evy dalam Undertone
(2025). Film psychological horror ini menjadikan sebuah email berisi rekaman
suara sebagai pintu masuk menuju teror yang perlahan merasuk dan terus
meningkat.
Pembukaan film dilakukan dengan
sangat baik. Gumaman lagu anak yang dinyanyikan dengan lembut, tetapi menyimpan
kesan kelam dan misterius, langsung membangun suasana yang tidak nyaman.
Kemunculan Evy bersama ibunya yang berada dalam kondisi koma menambah makna
emosional pada adegan pembuka tersebut. Keheningan rumah kemudian perlahan
dipenuhi suara-suara kecil seperti bunyi kettle dan televisi yang muncul di
latar, menciptakan rasa gelisah tanpa harus bergantung pada visual yang
berlebihan. Sejak awal, film ini berhasil membangun horor melalui kesunyian.
Media utama yang menjadi pusat
cerita juga diperkenalkan dengan baik. Peralatan podcast, proses perekaman,
hingga bagaimana Evy dan Justin berkomunikasi diperlihatkan secara natural
sebagai pondasi sebelum konflik utama dimulai. Semua terasa relevan dengan
cerita dan tidak sekadar menjadi properti pelengkap.
Konflik tidak hadir melalui kejutan
yang tiba-tiba, melainkan berkembang secara perlahan. Satu demi satu rekaman
suara mulai diputar, sementara suasana semakin mencekam. Permainan suara
menjadi kekuatan utama film ini. Penonton diajak mendengarkan suara-suara yang
mengganggu, seolah ikut berada di dalam proses yang dialami para tokohnya.
Intensitas teror meningkat seiring bertambahnya rekaman yang mereka dengarkan.
Isi rekaman suara tersebut juga
menjadi pintu menuju konflik batin yang kuat bagi para tokohnya. Kenangan dan
rasa bersalah yang disampaikan oleh pemilik suara ternyata memiliki keterkaitan
dengan kondisi Evy sendiri. Hubungannya yang renggang dengan sang ibu yang
berada dalam kondisi koma, ditambah kenyataan di akhir bahwa Evy akan menjadi
ibu bagi anak yang tidak pernah diharapkannya, membuat setiap rekaman terasa
semakin personal. Teror yang hadir bukan lagi sekadar suara-suara misterius,
tetapi perlahan menyentuh luka yang selama ini disembunyikan Evy hingga
memengaruhi kondisi mentalnya.
Akhir cerita disajikan dengan cukup
menarik meski menyisakan kebingungan. Film tidak memberikan jawaban yang
benar-benar pasti mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Sebaliknya, suara-suara
misterius di penghujung cerita dibiarkan menggantung tanpa visual yang
menjelaskan, sehingga penonton dipersilakan membangun tafsirnya sendiri.
Di balik akhir yang ambigu tersebut,
ide utama film ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya. Undertone
menawarkan konsep horor yang cukup segar. Alih-alih mengandalkan monster,
hantu, atau jumpscare, film ini membangun ketakutan melalui suara, lagu anak-anak,
legenda, serta trauma yang perlahan menggerogoti para tokohnya. Hubungan Evy
dengan ibunya pun memberi lapisan emosional yang menarik. Sayangnya, berbagai
ide tersebut belum dieksplorasi sedalam potensi yang dimilikinya.
Skala produksi film ini memang
terasa kecil. Jumlah pemain yang muncul di layar sangat terbatas, begitu pula
dengan lokasi yang digunakan. Sebagian karakter bahkan hanya hadir melalui
suara, seperti Justin, tokoh-tokoh dalam rekaman, maupun para penelepon. Namun,
keterbatasan tersebut justru cukup selaras dengan konsep cerita yang memang
berpusat pada media audio.
Dari sisi akting, penampilan Evy dan
ibunya terasa cukup natural, tetapi belum meninggalkan kesan yang benar-benar
kuat. Ekspresi ketakutan Evy dalam beberapa adegan belum sepenuhnya mampu
membawa penonton masuk ke dalam kepanikan yang ia rasakan. Sebaliknya, para
pengisi suara justru tampil lebih meyakinkan. Justin maupun tokoh-tokoh dalam
rekaman berhasil membangun suasana hanya melalui intonasi dan emosi suara
mereka, sesuatu yang sebenarnya memiliki tingkat kesulitan tersendiri.
Pembangunan atmosfer dilakukan
dengan sangat baik, tetapi pondasi ceritanya masih menyisakan cukup banyak
pertanyaan. Penyakit yang diderita ibu Evy, alasan Evy sempat ingin mengakhiri
hidup ibunya, identitas Justin dan Darren, hingga siapa ayah dari kandungan Evy
tidak mendapatkan penjelasan yang benar-benar memadai. Beberapa misteri memang
sengaja dibiarkan terbuka, tetapi sebagian lainnya terasa seperti belum selesai
dikembangkan.
Inkonsistensi logika juga muncul
pada proses pembuatan podcast. Di awal, podcast mereka diperlihatkan sebagai
rekaman yang nantinya diedit sebelum diunggah setiap hari Jumat. Namun, tidak
ada alasan yang benar-benar jelas mengapa proses rekaman harus dilakukan pukul
tiga pagi, meski hal tersebut masih dapat dipahami apabila diasumsikan terdapat
perbedaan zona waktu antara Evy dan Justin.
Masalah muncul menjelang akhir
cerita ketika para pendengar tiba-tiba dapat ikut berbicara melalui sambungan
telepon selama proses rekaman berlangsung. Jika podcast tersebut bukan siaran
langsung, film tidak memberikan penjelasan bagaimana para pendengar mengetahui
waktu yang tepat untuk menelepon. Hal kecil seperti ini membuat logika cerita
sedikit goyah.
Karakter Evy sebagai sosok yang
skeptis sebenarnya cukup menarik karena dapat menjadi penyeimbang bagi tema
supranatural yang diangkat. Namun, seiring berkembangnya cerita, penolakannya
terhadap berbagai kejadian terasa kurang berkembang. Bahkan ketika bukti mulai
muncul di hadapannya, ia tetap berusaha menyangkal semuanya. Akibatnya, sikap
skeptis tersebut lebih terasa sebagai kebutuhan cerita daripada perkembangan
karakter yang alami.
Meski masih memiliki beberapa
kelemahan pada kedalaman cerita dan konsistensi logika, Undertone tetap
berhasil memberikan pengalaman horor yang berbeda. Pemilihan musik, sound
effect, transisi kamera, hingga pengambilan detail visual bekerja dengan sangat
baik dalam membangun rasa tidak nyaman. Untuk sebuah film dengan skala produksi
yang relatif kecil, aspek teknisnya mampu memberikan pengalaman yang cukup
mengesankan.
Undertone membuktikan bahwa rasa
takut tidak selalu lahir dari sesuatu yang terlihat. Kadang, suara yang samar,
kesunyian yang terlalu lama, dan kenangan yang belum selesai justru mampu
menghadirkan teror yang lebih mengganggu daripada sosok monster di depan mata.
Meski masih menyisakan sejumlah kelemahan dari sisi kedalaman cerita dan
konsistensi logika, film ini tetap menawarkan pendekatan psychological horror
yang berbeda. Bagi penonton yang menyukai horor dengan atmosfer kuat dan
permainan suara yang cerdas, Undertone layak untuk dicoba.
Adegan
yang mengesankan:
Ibu Evy telah berada dalam kondisi
koma selama waktu yang cukup lama. Evy mengingat kembali setiap interaksi dan
kenangan yang pernah mereka lalui bersama, setiap kehangatan yang dahulu terasa
begitu dekat tetapi kini perlahan hanya tersisa sebagai ingatan. Dalam
depresinya, Evy bertanya kepada ibunya mengapa dirinya tidak lagi berbicara
kepadanya.
Melihat seseorang yang kita cintai
tidak lagi mampu merespons setiap ucapan kita menghadirkan rasa kehilangan yang
sulit dijelaskan. Kita berharap mereka kembali membuka mata, menjawab sapaan
kita, atau sekadar menciptakan satu kenangan baru bersama. Namun, harapan tidak
selalu berjalan seiring dengan kenyataan. Yang tersisa hanyalah ruang kosong
yang perlahan memenuhi hati. Bukan karena kita menolak kenyataan, tetapi karena
ada bagian dari diri kita yang masih mempertanyakan mengapa semua itu harus
terjadi.
Dialog
mengesankan:
"I killed my mother"
Ending:
Rekomendasi:
Okay
to Watch
(Aluna
Uwie)
.jpg)
0 Komentar