Choose or Die | 2022 | 1h 24m
Genre : Psychological Drama/ Psychological Thriller/ Supernatural
Horror/ Drama/ Horror/ Thriller| Negara: UK
Director: Toby Meakins |
Writers: Simon Allen,
Toby Meakins, Matthew James Wilkinson
Pemeran: Iola Evans, Asa Butterfield, Robert Englund
IMDB: 4.8
My Rate : 6/10
Kayla menemukan sebuah retro game di antara tumpukan barang di rumah rekannya, Isaac. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mencoba memainkan permainan tersebut, tanpa mengetahui bahwa teror mengerikan sedang menunggunya—teror yang akan mengubah hidupnya.
Peringatan:
Kekerasan,
melukai diri sendiri, obatan terlarang
Sinopsis :
Seorang kolektor barang antik, Hal,
menemukan sebuah permainan tua bernama Curs>r dan mencoba memainkannya.
Permainan tersebut menuntutnya untuk membuat berbagai macam pilihan. Namun,
pilihan yang diberikan bukanlah sesuatu yang sederhana karena mengancam nyawa
dirinya dan keluarganya. Hingga akhirnya, mereplikasi permainan tersebut
menjadi satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka.
Kayla berkunjung ke rumah rekannya,
Isaac, yang merupakan pembuat game komputer. Saat sedang melihat-lihat tumpukan
barang di salah satu sudut rumah tersebut, Kayla tidak sengaja menemukan
salinan Curs>r. Tanpa pikir panjang, Kayla membawa permainan tersebut dan
mencoba memainkannya.
Kejadian tak wajar pun terjadi di
hadapannya. Game tersebut seakan mengetahui dengan pasti kondisi dirinya dan
lingkungan di sekitarnya, kemudian memberikan pilihan-pilihan yang membawa
teror mengerikan. Tidak ada pilihan lain selain memilih atau mati. Hingga
akhirnya, Kayla meminta bantuan Isaac untuk menghentikan teror tersebut.
Akankah mereka berhasil mengalahkan
permainan tersebut, atau malah terjebak lebih dalam?
Ulasan :
Saat dunia memberikanmu pilihan dan
tidak ada jalan lain selain memilih, sementara kematian menjadi ancaman,
mungkin hidup akan menjadi sesuatu yang mengerikan. Ide inilah yang kemudian
coba ditawarkan melalui film Choose or Die (2022). Debut pertama Toby Meakins
untuk film berdurasi panjang ini cukup menjanjikan, meski pada akhirnya belum
mampu memberikan kepuasan sepenuhnya.
Penggabungan cerita antara permainan
dan kutukan mungkin bukan ide yang baru di dunia perfilman. Namun, unsur retro
yang digunakan cukup menarik perhatian. Sebuah nuansa yang mungkin mulai sulit
ditemukan belakangan ini.
Penonton langsung dihadapkan dengan
teror mengerikan yang cukup intens. Suara statis yang mengerikan dan
pilihan-pilihan berbahaya yang menjadi kenyataan, seakan penonton diberikan
hidangan utama sejak duduk di meja makan. Sayangnya, perpindahan menuju cerita
utama terasa terlalu patah.
Ketegangan yang terbangun di awal
tiba-tiba berubah seketika. Seakan dari ketinggian langsung jatuh ke dalam
jurang. Transisinya terasa terlalu tenang untuk sebuah film yang baru saja
memberikan pembukaan yang begitu menegangkan.
Latar belakang tokoh juga ada yang
disajikan dengan kuat, tetapi ada pula yang hanya diberikan sekadarnya. Sebagai
contoh, tokoh Lance yang kurang dijelaskan posisinya. Tokoh tersebut tiba-tiba
muncul tanpa penjelasan yang cukup mengenai siapa dirinya dan apa hubungannya
dengan cerita.
Di
sisi lain, latar belakang game meski baru muncul di pertengahan cerita, cukup
untuk membuat penonton mengetahui asal-usul permainan tersebut dan penyebab
dari segala teror yang terjadi.
Konflik internal seharusnya menjadi
fokus utama dalam film ini. Tokoh utama harus dihadapkan pada dilema dalam
berbagai pilihan sulit yang harus diambilnya. Namun, dilema tersebut tidak
cukup kuat terlihat dari ekspresi yang ditampilkan oleh sang aktris. Emosi yang
seharusnya menjadi bagian penting dari konflik tersebut terasa kurang kuat
untuk memasukkan film ini dalam kategori psychological thriller.
Konflik eksternal juga kurang terasa
kuat. Lance yang dibuat sebagai ancaman dalam kehidupan Kayla dan ibunya tidak
benar-benar terlihat fungsinya. Selain beberapa kali muncul dengan
ancaman-ancaman yang terasa kosong, keberadaannya tidak memberikan tekanan yang
cukup kuat terhadap cerita.
Meski demikian, perkembangan
karakter dari tokohnya cukup terlihat di akhir cerita. Penutup berupa narasi
yang serupa dengan narasi pembuat game seakan mengembalikan kembali ketegangan
yang sempat hilang. Walaupun, kalimat terakhir dalam dialog Kayla terasa
terlalu klise.
Jika melihat secara keseluruhan,
kelemahan utama dari film ini adalah adegan awal yang terlalu kuat, tetapi
eksekusi lanjutannya begitu lemah. Ketegangan yang sudah dibangun sejak awal
tidak berhasil dipertahankan hingga akhir, sehingga penutup cerita tidak
terlalu meninggalkan kesan yang kuat. Padahal, sebenarnya film ini memiliki
potensi untuk menjadi sesuatu yang lebih besar.
Beberapa hal juga menimbulkan tanda
tanya. Permainan yang di awal terlihat disalin ke dalam beberapa copy seakan
tidak terlihat lagi wujudnya. Hanya satu yang kemudian menjadi sorotan, yaitu
permainan yang ditemukan oleh Kayla. Selain itu, Kayla juga seakan menjadi
satu-satunya orang yang mampu mencapai akhir dari permainan tersebut.
Mungkin akan menjadi lebih masuk
akal jika diperlihatkan kilasan beberapa orang yang memainkan permainan
tersebut, tetapi gagal. Hal ini bisa menjadi transisi dari adegan awal tentang
“salinan game” menuju permainan yang akhirnya ditemukan oleh Kayla. Mungkin
juga akan membuat cerita menjadi sedikit lebih masuk akal sekaligus
memperlihatkan bahwa teror dari permainan tersebut sudah terjadi kepada banyak
orang sebelumnya.
Dari segi akting juga tidak ada yang
begitu spesial dan menonjol. Kadang kala ada emosi yang tidak terpancarkan
dengan cukup baik dari ekspresi para tokohnya. Namun, hal tersebut juga tidak
sampai membuat film menjadi buruk.
Kelebihan justru terasa kuat dari
sisi teknis. Pemilihan efek suara berupa distorsi statis dan musik pendukung
benar-benar berperan penting dalam membangun suasana. Ditambah dengan efek-efek
yang digunakan, seperti pelayan yang memakan pecahan kaca, pita yang keluar
dari mulut Isaac, dan air yang keluar dari mulut Hal. Semua terlihat begitu
nyata dan menyatu dengan baik.
Pengambilan
detail gambar dan pergerakan kamera juga dilakukan dengan baik. Aspek-aspek
teknis tersebut menjadi salah satu bagian yang membuat film ini tetap menarik untuk
dinikmati meskipun memiliki kelemahan dalam cerita dan pengembangan
karakternya.
Meski film ini masih memiliki banyak
bagian yang dapat dikembangkan, hal tersebut tidak membuat Choose or Die
menjadi tidak layak untuk ditonton atau pantas mendapatkan nilai 1 seperti
kebanyakan nilai yang diberikan. Sebab, secara keseluruhan film ini masih cukup
menarik untuk dinikmati, terutama bagi mereka yang menyukai nuansa retro dan
permainan yang membawa teror ke dunia nyata.
Adegan yang mengesankan:
Permainan tersebut membawa Kayla
bertemu kembali dengan adiknya yang telah meninggal, Ricky. Dirinya pun
diberikan pilihan antara menyelamatkan Isaac atau Ricky saat keduanya sedang
dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pilihan yang cukup berat baginya, antara
menyelamatkan kenyataan atau menghilangkan rasa bersalah yang selama ini
digenggamnya.
Manusia tidak pernah luput dari
kesalahan, dan sering kali kesalahan tersebut meninggalkan penyesalan yang
dalam. Terutama jika hal itu menyangkut nyawa orang yang kita sayang. Ada
kalanya kita berharap waktu dapat diulang kembali, atau kita diberi kesempatan
kedua untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Sayangnya, hal itu adalah sesuatu
yang mustahil. Satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya adalah
terus berjalan dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Dialog mengesankan:
"One life sacrificed so another can be saved"
Ending:
Clifhanger
Rekomendasi:
Okay
to Watch
(Aluna
Uwie)

0 Komentar