Puzzle (Original title: Pazuru)
| 2014 | 1h 25m
Genre : Horror/Thriller| Negara: Japan
Director: Eisuke Naitô
Writers: Yûsuke
Yamada, Makoto Suzuki, Eisuke Naitô
Pemeran: Kaho, Shûhei Nomura, Kazuya Takahashi
IMDB: 5.5
My Rate : 7/10
Azusa melompat dari atas gedung sekolahnya, sebuah kejadian yang menjadi awal dari permainan balas dendam Shigeo. Seorang guru yang sedang hamil disiksa, kepala sekolah diculik, dan tiga siswa laki-laki menjadi korban kekejaman Shigeo sebagai balasan atas kejadian yang menimpa Azusa.
Peringatan:
Kekerasan,
bunuh diri, seksual, ketelanjangan
Sinopsis
:
Azusa melompat dari atas gedung
sekolahnya di hadapan guru dan teman-temannya. Beruntung, dirinya selamat meski
mengalami patah kaki. Tidak ada yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,
kecuali Shigeo yang merasa perlu untuk melindungi Azusa.
Beberapa waktu kemudian, teror mulai
terjadi di sekolah tersebut. Empat siswa bertopeng menyekap seorang guru yang
sedang hamil dan menyiksanya. Kepala sekolah dan guru lainnya dipaksa
menyelesaikan sebuah puzzle yang dibuat demi menyelamatkan sang guru. Namun,
permainan tersebut berakhir tragis dengan sang guru kehilangan anak dalam
kandungannya dan kepala sekolah menghilang.
Teror kembali muncul beberapa waktu
setelahnya dan kali ini melibatkan seluruh penghuni kota. Dua orang siswa
ditemukan dengan pelindung kepala yang dapat meledak kapan saja. Azusa menerima
kepingan puzzle terakhir dari Shigeo, tetapi memilih untuk menghancurkannya
sehingga kedua siswa tersebut tidak dapat diselamatkan.
Mengapa
Shigeo melakukan semua teror tersebut, dan apa sebenarnya hubungannya dengan
Azusa?
Ulasan :
Saat keadilan seakan menjadi sesuatu
yang mustahil didapatkan, apakah korban yang memilih membalas dendam pantas
untuk dihakimi? Pertanyaan inilah yang terasa diangkat dalam Puzzle (2014),
sebuah film yang menyajikan deretan teror pembalasan dendam melalui permainan
yang penuh teka-teki dan kekerasan.
Film dibuka dengan adegan misterius
bernuansa dreamy. Shigeo terlihat tergeletak lemas sambil menatap Azusa dari
kejauhan. Adegan tersebut nantinya kembali menjadi bagian penting dari akhir
cerita. Seakan sejak awal penonton sudah diperlihatkan dua sosok yang menjadi
pusat dari seluruh kejadian yang akan berlangsung.
Film disajikan dengan alur
maju-mundur dengan penanda waktu yang tertulis jelas di layar. Cara ini cukup
membantu penonton memahami jalannya cerita sekaligus memberikan kedalaman pada
setiap kejadian. Penonton tidak hanya melihat apa yang terjadi, tetapi juga
diajak memahami bagaimana kejadian yang terjadi pada masa lalu akhirnya membawa
mereka pada keputusan dan keadaan yang terjadi saat ini..
Latar belakang para tokoh memang
tidak dibahas terlalu dalam, tetapi cukup untuk membuat penonton memahami
perasaan dan karakter masing-masing tokoh utama. Penggambaran Shigeo sebagai
seorang psikopat dilakukan dengan cukup cerdik. Dirinya tidak digambarkan
sebagai sosok yang dingin dan penuh amarah, tetapi justru terlihat tenang dan
bahkan hangat meski tidak banyak berbicara. Penggunaan musik anak-anak dan
berbagai properti yang terkesan kekanak-kanakan justru semakin memperkuat
ketegangan dan aura mengerikan dari sosoknya. Kontras tersebut membuat karakter
Shigeo terasa lebih tidak nyaman untuk dilihat.
Penggunaan simbol juga menjadi salah
satu hal yang menarik dalam film ini. Salah satunya adalah kadal peliharaan
Shigeo. Kadal besar tersebut seakan menggambarkan kekuatan yang dimiliki Shigeo
dalam mengendalikan permainan yang telah dibuatnya. Kehadirannya juga
mendapatkan sorotan cukup besar, terutama pada adegan akhir ketika Azusa
menari.
Konflik utama lebih banyak berasal
dari pembalasan dendam atas penderitaan yang dialami Azusa. Sementara itu,
konflik internal justru terasa kurang kuat. Padahal, bagian tersebut seharusnya
dapat memberikan kedalaman yang lebih besar kepada karakter Azusa, terutama
dalam memperlihatkan bagaimana dirinya memproses trauma dan kenangan buruk yang
pernah dialaminya. Ketika kenangan tersebut akhirnya muncul dan mulai
memengaruhi dirinya, koneksi emosional dengan karakter Azusa justru terasa
lebih kuat. Sayangnya, bagian ini terasa datang cukup terlambat.
Akhir cerita cukup memuaskan karena
masing-masing tokoh akhirnya mendapatkan konsekuensi dari apa yang mereka
lakukan. Meski demikian, ada rasa kecewa karena beberapa tokoh yang melakukan
kejahatan terhadap Azusa tidak benar-benar diperlihatkan memiliki rasa bersalah
atas tindakan mereka. Hal tersebut justru membuat akhir cerita terasa semakin
menyedihkan jika dilihat dari sisi Azusa dan Shigeo. Pada akhirnya, film ini
meninggalkan pertanyaan yang cukup besar mengenai moralitas, keadilan, serta batas
antara benar dan salah ketika seseorang merasa tidak mendapatkan keadilan yang
seharusnya.
Sayangnya, Puzzle bukan tanpa
kelemahan. Hal yang seharusnya menjadi daya tarik utama film, yaitu permainan
yang dirancang Shigeo sebagai alat pembalasan dendam, justru menyisakan
beberapa pertanyaan dari sisi logika. Konsep penggunaan permainan sebagai sarana
balas dendam sebenarnya menarik dan mengingatkan pada film-film seperti Saw.
Namun, cara permainan tersebut dipersiapkan terasa kurang meyakinkan.
Shigeo yang bekerja sendirian, atau
mungkin hanya dibantu oleh ibunya, terasa sulit untuk dipercaya mampu
mempersiapkan berbagai permainan tanpa diketahui oleh orang-orang di
sekitarnya. Terlebih ketika permainan tersebut mulai melibatkan seluruh penghuni
kota kecil tersebut. Berbagai hal seperti kedua siswa di tangga darurat, bel
sepeda, hingga puzzle yang melibatkan mobil terasa membutuhkan persiapan yang
cukup besar. Hal tersebut meninggalkan rasa janggal karena film tidak
benar-benar memberikan penjelasan mengenai bagaimana semuanya dapat
dipersiapkan dengan begitu leluasa.
Spoiler. Salah satu bagian yang juga
cukup disayangkan adalah ketika Azusa menusukkan senjata secara membabi buta
kepada sang detektif. Adegan tersebut membuat penonton membayangkan bahwa luka
yang diterimanya akan cukup parah. Namun, ketika detektif tersebut kembali
muncul, luka yang sebelumnya terlihat begitu penting seakan tidak lagi memiliki
dampak yang berarti. Hal ini membuat ketegangan dari adegan tersebut terasa
kehilangan sebagian maknanya.
Di sisi lain, adegan akhir ketika
Azusa menari dengan bebas menjadi salah satu bagian paling ikonik dalam film.
Pakaian yang berlumuran darah, gerakan tarian yang tidak beraturan, sorotan
lampu, serta suasana yang dibangun seakan memperlihatkan kekacauan yang sedang
terjadi di dalam dirinya. Tidak banyak dialog yang diperlukan karena visual
tersebut sudah cukup untuk menyampaikan emosi Azusa.
Dari sisi teknis, film ini memiliki
banyak hal yang patut diapresiasi. Pengambilan gambar dipikirkan dengan matang,
terutama dalam menentukan sudut pandang yang digunakan pada adegan-adegan
tertentu. Pemilihan musik juga terasa unik dan mampu memperkuat suasana yang
ingin dibangun. Berbagai elemen visual dan audio tersebut bekerja sebagai satu
kesatuan yang membantu membentuk identitas film.
Pada
akhirnya, Puzzle meninggalkan kesan yang cukup
rumit. Film ini memiliki beberapa kelemahan dalam logika cerita dan pendalaman
konflik internal, tetapi di sisi lain berhasil membangun suasana, karakter, dan
pertanyaan moral yang tidak mudah dijawab. Pembalasan dendam mungkin tidak
pernah benar-benar mengembalikan apa yang telah hilang, tetapi film ini membuat
kita bertanya kembali: ketika keadilan tidak pernah datang, apakah seseorang
masih bisa dianggap salah ketika memilih mencarinya dengan caranya sendiri?
Adegan yang mengesankan:
Kepala sekolah yang sedang disekap
berhasil melepaskan rantai yang membelenggu tangannya dan pelindung kemaluannya
dengan menggunakan kunci yang terdapat pada tubuh siswi bertopeng yang sengaja
diletakkan di hadapannya. Namun, bukannya menyadari kesalahannya dan
menghentikan semuanya, ia justru kembali kehilangan kendali dan melakukan dosa
yang sama seperti yang pernah dilakukannya kepada Azusa dengan menyetubuhi
siswi tersebut. Setelah semuanya terjadi, penyesalan seakan menghantamnya ketika
mengetahui bahwa siswi tersebut ternyata adalah anaknya sendiri.
Kekerasan seksual merupakan bentuk
penyalahgunaan kuasa yang meninggalkan luka mendalam bagi korbannya, terlebih
ketika dilakukan oleh seseorang yang seharusnya memiliki tanggung jawab untuk
melindungi. Dalam kasus ini, kepala sekolah menyalahgunakan kekuasaannya
terhadap muridnya sendiri. Yang terasa begitu miris adalah bagaimana seseorang
dapat memiliki anak perempuan, tetapi tetap melakukan kekerasan yang sama
kepada perempuan lain. Seakan ia lupa bahwa setiap tindakan memiliki
konsekuensi, dan bahwa luka yang ditorehkan kepada orang lain suatu hari dapat
kembali menghampiri dirinya sendiri.
Dialog
mengesankan:
"Aku muak pada mereka yang hidup bahagia di kota kecil ini"
Ending:
Sad
Ending
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna
Uwie)
.jpg)
0 Komentar