Setiap
manusia terlahir dengan kondisi yang berbeda, baik dari keadaan ekonomi,
lingkungan, maupun kondisi dirinya sendiri. Namun, perbedaan dan keterbatasan
yang kita miliki bukan alasan untuk merasa rendah diri, karena setiap manusia
tetap memiliki kesempatan untuk menemukan kelebihan dan jalan hidupnya sendiri.
Sinopsis Film 37 Seconds (2019)
Yuma
Takada adalah seorang perempuan yang mengalami cerebral palsy akibat kekurangan
oksigen selama proses kelahirannya. Kondisi tersebut membuatnya harus
beraktivitas menggunakan kursi roda, sementara ibunya memberikan perhatian yang
sangat besar dan hampir selalu melarang Yuma melakukan sesuatu seorang diri. Di
tengah keterbatasannya, Yuma memiliki kemampuan menggambar dan imajinasi yang
membuatnya bekerja sebagai asisten komikus bagi sahabatnya sendiri.
Namun,
Yuma kemudian menyadari bahwa sebagian besar karya yang selama ini dikenal
sebagai karya sahabatnya ternyata merupakan hasil pemikirannya. Ketika mencoba
membawa karyanya sendiri kepada editor, Yuma justru mendapatkan hambatan karena
gaya gambarnya dianggap terlalu mirip dengan karya yang selama ini dibuat
bersama sahabatnya. Kecewa dengan pengkhianatan tersebut, Yuma kemudian
menemukan kesempatan baru yang membawanya pada dunia komik dewasa dan berbagai
pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dalam
proses tersebut, Yuma bertemu dengan Mai dan Toshi yang memperlakukannya tanpa
melihat keterbatasan fisiknya sebagai sesuatu yang harus dikasihani.
Pertemuannya dengan mereka membuat Yuma mulai merasakan kebebasan yang selama
ini dibatasi oleh ibunya. Lalu, apakah keinginan Yuma untuk hidup mandiri akan
membawanya menemukan dirinya sendiri?
Ulasan Film 37 Seconds (2019)
37
Seconds memperlihatkan sisi disabilitas yang mungkin jarang kita lihat.
Film ini tidak hanya menunjukkan kesulitan yang dialami seseorang dengan
keterbatasan fisik, tetapi juga memperlihatkan konflik yang muncul dari
keluarga, lingkungan, hubungan pertemanan, hingga perjuangan seseorang untuk
memahami dirinya sendiri.
Yuma
mengalami cerebral palsy yang memengaruhi gerakan dan koordinasi tubuhnya.
Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani berbagai aktivitas menggunakan
kursi roda dan membutuhkan bantuan dalam beberapa hal.
Namun,
keterbatasan fisik tersebut tidak membuat Yuma kehilangan kemampuan untuk
berkarya. Ia memiliki kemampuan menggambar dan imajinasi yang baik hingga dapat
menjadi asisten komikus.
Pada
awalnya, kehidupan Yuma terlihat cukup baik. Ia tinggal bersama ibunya dan
bekerja membantu sahabatnya membuat komik yang bahkan berhasil diterima oleh
pasar.
Namun,
ternyata ada sesuatu yang tidak diketahui Yuma. Sebagian besar kontribusi dalam
pembuatan komik tersebut berasal darinya, sementara sahabatnya justru dikenal
sebagai pembuat utama.
Sahabatnya
bahkan mengaku tidak mendapatkan bantuan dari siapa pun. Yuma tidak dilibatkan
dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan komik tersebut, termasuk ketika
diadakan pertemuan dengan para penggemar.
Kekecewaan
Yuma semakin besar ketika ia hadir dalam acara tersebut tetapi justru diabaikan
oleh sahabatnya. Padahal, Yuma datang dengan membawa bunga yang sudah
dipersiapkan untuk diberikan pada acara tersebut.
Pengkhianatan
tersebut akhirnya membuat Yuma mencoba membawa hasil karyanya sendiri kepada
editor. Ia berharap dapat memiliki kesempatan untuk menerbitkan komik
menggunakan namanya sendiri.
Editor
menganggap cerita yang dibuat Yuma cukup baik. Namun, teknik penggambarannya
dianggap terlalu mirip dengan karya sahabatnya karena selama ini memang
sebagian besar komik tersebut merupakan hasil pekerjaan Yuma.
Ketika
sahabatnya mengetahui usaha tersebut, ia merasa terancam. Ia mengatakan bahwa
tindakan Yuma dapat menghancurkan semua yang sudah mereka bangun, padahal
sebenarnya yang ia khawatirkan adalah kehilangan pengakuan yang selama ini ia
dapatkan.
Menurut
saya, konflik ini bukan hanya mengenai pengkhianatan dalam sebuah pekerjaan.
Konflik tersebut juga memperlihatkan bagaimana seseorang dapat dimanfaatkan
karena orang lain melihat keterbatasannya sebagai sesuatu yang membuatnya lebih
mudah dikendalikan.
Yuma
kemudian berada dalam kondisi kecewa dan hampir kehilangan harapan untuk
menerbitkan karyanya. Namun, sebuah kesempatan datang ketika ia menemukan
tumpukan komik dewasa di sebuah taman.
Dari
sana, Yuma mencoba menghubungi penerbit dan akhirnya mendapatkan kesempatan
untuk membawa hasil karyanya kepada Fujimoto. Sang editor menyukai ide cerita
Yuma, tetapi menganggap penggambarannya belum cukup natural karena Yuma tidak
memiliki pengalaman mengenai hubungan seksual.
Fujimoto
kemudian menyarankan Yuma untuk mencari pengalaman agar dapat membuat komik
tersebut dengan lebih baik. Saran tersebut akhirnya membawa Yuma pada berbagai
pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan.
Ia
mulai menonton film dewasa dan mencoba menggambarkan apa yang dilihatnya.
Setelah merasa hal tersebut belum cukup, Yuma mencoba menggunakan situs
perjodohan untuk bertemu dengan orang-orang baru.
Namun,
pengalaman tersebut tidak selalu berjalan dengan baik. Salah satu pria yang
ditemuinya bahkan tidak datang ketika Yuma sudah menunggunya di bioskop.
Dalam
perjalanan pulang, Yuma kemudian menemukan sebuah lingkungan prostitusi.
Meskipun awalnya ragu karena kondisi fisiknya, ia akhirnya memberanikan diri
mencoba mendapatkan pengalaman yang dianggapnya dapat membantu pekerjaannya.
Pertemuan
tersebut juga tidak berjalan seperti yang diharapkannya. Setelah itu, Yuma
bertemu dengan Tn. Kuma, Mai, dan Toshi yang secara tidak langsung membawanya
pada pengalaman baru yang jauh lebih berarti.
Pertemuannya
dengan Mai menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Yuma. Mai tidak
memperlakukan Yuma seperti seseorang yang harus selalu dilindungi karena
keterbatasannya.
Bersama
Mai, Yuma dapat melakukan berbagai hal yang sebelumnya jarang ia lakukan.
Mereka berbelanja, menggunakan pakaian yang Yuma sukai, bertemu dengan orang
lain, dan membuat Yuma merasakan kebebasan.
Hal
tersebut terasa berbeda dengan kehidupannya bersama sang ibu. Karena terlalu
khawatir terhadap keselamatan Yuma dan takut orang lain akan memperlakukannya
dengan buruk, sang ibu justru membatasi hampir semua aktivitasnya.
Di
sinilah menurut saya film memperlihatkan salah satu persoalan terbesar mengenai
cara masyarakat memperlakukan penyandang disabilitas. Perlindungan memang dapat
berasal dari rasa sayang, tetapi perlindungan yang terlalu berlebihan dapat
berubah menjadi pembatasan.
Yuma
tidak ingin selalu diperlakukan seperti anak kecil. Ia ingin melakukan sesuatu
sendiri, bertemu dengan orang lain, memiliki pengalaman, dan menentukan pilihan
dalam kehidupannya.
Karena
itu, ketika ibunya mengetahui aktivitas yang selama ini dilakukan Yuma, reaksi
yang muncul justru semakin membatasi kebebasannya. Yuma dikurung di rumah dan
bahkan tidak diperbolehkan menggunakan ponselnya.
Menurut
saya, keputusan tersebut menunjukkan bahwa kasih sayang tidak selalu berarti
memberikan apa yang menurut kita paling aman bagi seseorang. Terkadang,
memberikan kesempatan untuk mencoba dan mengambil keputusan sendiri justru
merupakan bentuk kasih sayang yang lebih berarti.
Yuma
akhirnya memilih meninggalkan rumah. Keputusan tersebut menjadi bagian dari
perjalanan Yuma untuk mendapatkan kemandirian dan memahami siapa dirinya di
luar perlindungan ibunya.
Ia
kemudian bertemu kembali dengan Toshi dan Mai dan menceritakan mengenai
kehidupannya. Dari percakapan tersebut, Yuma mulai terbuka mengenai keluarganya
dan berbagai hal yang selama ini ia simpan sendiri.
Toshi
kemudian berniat membantu Yuma mencari ayahnya. Pencarian tersebut akhirnya
membawa Yuma pada sebuah kenyataan mengenai masa lalu dan kondisi fisik yang
selama ini dialaminya.
Pada
akhirnya, Yuma mulai memahami bahwa keterbatasan yang dimilikinya bukan sesuatu
yang membuat dirinya lebih rendah dari orang lain. Ia juga mulai memahami bahwa
sikap ibunya berasal dari rasa takut dan kekhawatiran, meskipun cara yang
digunakan untuk melindunginya justru membuat Yuma kehilangan kebebasan.
Hal
yang menurut saya paling menarik dari film ini adalah cara 37 Seconds
memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas tidak selalu ingin diperlakukan
istimewa. Mereka juga ingin diajak berbicara, berkumpul bersama teman,
bepergian, melakukan aktivitas yang sama, dan diberikan kesempatan untuk
menentukan pilihan sendiri.
Sering
kali kita menganggap memberikan perhatian lebih kepada seseorang adalah bentuk
kebaikan. Namun, perhatian yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan
kesempatan untuk belajar mandiri dan menjalani kehidupannya sendiri.
Sikap
ibu Yuma menjadi contoh yang cukup jelas. Ia menyayangi anaknya dan ingin
melindunginya dari perlakuan buruk orang lain, tetapi rasa takut tersebut
akhirnya membuat kehidupan Yuma semakin terbatas.
Film
ini juga memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik tidak berarti seseorang tidak
memiliki kelebihan. Yuma mungkin memiliki keterbatasan dalam bergerak, tetapi
ia memiliki kemampuan menggambar dan imajinasi yang menjadi kekuatannya.
Kemampuan
tersebut pada akhirnya menjadi jalan bagi Yuma untuk menemukan dirinya sendiri.
Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai seseorang yang membutuhkan bantuan, tetapi
sebagai seseorang yang memiliki karya dan sesuatu yang dapat diberikan kepada
orang lain.
Bagi
saya, pesan tersebut menjadi bagian penting dari film ini. Kita tidak
seharusnya memandang keterbatasan seseorang sebagai alasan untuk merendahkan
mereka, tetapi juga tidak seharusnya menjadikan keterbatasan tersebut alasan
untuk terus memperlakukan mereka seperti seseorang yang tidak mampu melakukan
apa pun.
Setiap
manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keterbatasan yang
dimiliki seseorang tidak menghapus kemampuan lain yang ada dalam dirinya.
Adegan Mengesankan
Adegan
yang paling mengesankan bagi saya adalah ketika Yuma bersama Mai mulai
menikmati berbagai aktivitas yang sebelumnya dibatasi oleh ibunya. Mereka
berbelanja, mencoba pakaian, dan pergi bersama tanpa menjadikan kondisi fisik
Yuma sebagai sesuatu yang harus terus dipermasalahkan.
Adegan
tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki makna besar karena memperlihatkan
kebahagiaan Yuma ketika dirinya mendapatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu
atas kemauannya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya dilihat sebagai
seseorang yang harus dilindungi, tetapi sebagai seorang perempuan yang ingin
menikmati kehidupannya.
Dialog Mengesankan
Salah
satu dialog yang paling mengesankan dalam film adalah ketika Yuma pada dasarnya
memperlihatkan keinginannya untuk tidak terus diperlakukan seperti anak kecil.
Keinginan tersebut menjadi inti perjalanan Yuma sepanjang film: ia ingin
memiliki kesempatan untuk menentukan hidupnya sendiri meskipun memiliki
keterbatasan.
Bagi
saya, pesan tersebut jauh lebih kuat daripada sekadar cerita tentang seorang
penyandang disabilitas yang berusaha mencapai impiannya. Yuma ingin
diperlakukan sebagai manusia yang memiliki pilihan, keinginan, kesalahan, dan
kebebasan seperti orang lain.
0 Komentar