Review Film Noise (2025) - Tinggal di Apartemen Ini Bisa Membuatmu Gila

 

Noise (Original title: Noijeu)  | 2025 | 1h 33m
Genre : Supernatural Horror/Drama/Horror/Thriller | Negara: South Korea
Director: Kim Soo-jin | Writers: Lee Je-hui
Pemeran: Lee Sun-bin, Han Soo-a, Kim Min-Seok
IMDB: 5.7
My Rate : 7/10

Noise mengisahkan Joo Young yang kembali ke apartemennya setelah menerima kabar hilangnya sang adik, Joo Hee. Pencariannya membuka rahasia kelam yang tersembunyi di balik dinding apartemen—ketika suara-suara misterius yang dulu hanya didengar Joo Hee kini mulai menghantui Joo Young dan memicu teror yang kian mencekam.

Peringatan:

Terdapat adegan kekerasan, bunuh diri, menyakiti diri, dan kata kasar

 
Sinopsis :

Joo Young yang kembali ke apartemen lamanya setelah menerima kabar hilangnya sang adik, Joo Hee. Apartemen yang kosong dan berantakan, disertai peringatan misterius dari penghuni lantai bawah, mengisyaratkan rahasia kelam yang selama ini tersembunyi.

Dalam pencariannya, Joo Young bertemu Ki Hoon, pacar Joo Hee, yang ikut membantu mengungkap kebenaran. Namun upaya mereka justru menemui jalan buntu ketika para penghuni apartemen menganggap kehadiran Joo Young sebagai ancaman bagi rencana renovasi—sebuah kasus yang tampaknya sengaja ditutup rapat.

Teror pun semakin nyata ketika suara-suara mengerikan mulai menghantui Joo Young. Alat bantu dengar, hadiah terakhir dari Joo Hee, membuat suara tersebut terdengar semakin jelas, sementara rekaman di ponsel Joo Hee perlahan membuka potongan kebenaran yang tak pernah ingin terungkap.

Apa yang sebenarnya disembunyikan apartemen itu—dan siapa yang paling diuntungkan dari kebisuan para penghuninya?

 

Ulasan :

Di mana pun kita tinggal, selalu ada risiko kebisingan. Mulai dari suara tetangga, anak-anak bermain, hingga kendaraan yang melintas. Situasi ini akan terasa jauh lebih parah ketika tinggal di apartemen dengan kualitas bangunan yang buruk, di mana suara seolah datang dari segala arah—atas, bawah, maupun samping. Noise (2025), film horor psikologis asal Korea Selatan, mengubah kebisingan sehari-hari itu menjadi teror yang perlahan menggerogoti kewarasan penghuninya.

Cerita dibuka dengan pondasi yang cukup kuat. Penonton langsung diperkenalkan pada suara berisik yang mengganggu, kondisi mental Joo Hee yang mulai rapuh akibat teror suara, serta pertengkarannya dengan sang kakak, Joo Young, yang akhirnya memilih meninggalkan apartemen. Ketidakmampuan Joo Young dalam mendengar juga ditampilkan secara menarik, salah satunya melalui adegan ketika ia tampak tenang di tengah bisingnya suara pabrik.

Konflik mulai berkembang perlahan setelah Joo Hee dinyatakan menghilang. Teror, baik yang berasal dari manusia maupun sosok tak terlihat, mulai menghantui Joo Young. Di saat yang sama, konflik internal berupa rasa bersalah dan trauma masa lalu ikut muncul, memperkuat lapisan psikologis dalam cerita.

Sayangnya, akhir cerita disajikan dengan tempo yang terlalu cepat. Twist yang ditawarkan terasa ambigu, sementara beberapa misteri penting tidak mendapatkan kejelasan. Latar apartemen, ruang basement, hingga kelanjutan proyek renovasi seakan menghilang begitu saja tanpa penjelasan yang memadai.

Secara ide, Noise menawarkan konsep yang menarik melalui kontradiksi antara lingkungan yang bising dan tokoh utama yang memiliki gangguan pendengaran. Namun, eksekusinya terasa belum maksimal. Karakter Joo Young tidak dieksplorasi secara mendalam, bahkan kondisinya sebagai penyandang disabilitas pendengaran hanya terasa di beberapa adegan tertentu, seolah penonton perlu terus diingatkan secara paksa.

Kelemahan lain terletak pada tidak adanya penanda waktu yang jelas. Durasi hilangnya Joo Hee, lamanya proses pencarian, hingga kapan teror mulai muncul tidak pernah dijelaskan secara konkret, padahal elemen-elemen ini penting untuk membangun ketegangan dan logika cerita.

Logika awal cerita juga menyisakan kejanggalan. Joo Hee sejak awal sudah mengeluhkan kebisingan saat masih tinggal bersama Joo Young. Namun alih-alih pindah bersama, ia memilih bertahan sendirian, sementara Joo Young justru pergi. Keputusan ini terasa seperti sengaja membuka pintu bagi masalah yang lebih besar.

Meski demikian, film ini tetap memiliki kelebihan, terutama dari sisi akting pendukung serta aspek teknis seperti sinematografi, editing, dan transisi yang dikerjakan dengan cukup baik. Pesan moral tentang buruknya kualitas hunian dan abainya pihak berwenang juga tersampaikan dengan jelas, salah satunya melalui adegan polisi yang seakan menolak keberadaan ruang tersembunyi yang ditemukan Joo Young.

Pada akhirnya, Noise adalah film horor dengan ide yang kuat namun eksekusi yang belum sepenuhnya matang. Atmosfer teror melalui suara dan ruang berhasil dibangun, begitu pula kritik sosial yang diselipkan di dalamnya. Namun, kelemahan pada eksplorasi karakter, alur waktu, dan penyelesaian misteri membuat dampaknya terasa kurang menggigit. Film ini mungkin tidak memuaskan penonton yang mencari jawaban jelas, tetapi tetap menarik bagi mereka yang menyukai horor psikologis dengan nuansa ambigu dan kritik sosial yang mengganggu.

 

Adegan yang mengesankan:  

Salah satu adegan paling mengesankan dalam Noise menyoroti penyesalan dan trauma yang terpendam dalam diri Joo Young. Ia melihat Joo Hee kembali tanpa reaksi atau interaksi apa pun, hingga rasa sedih dan takut menyergap saat sosok sang adik tiba-tiba terlihat tergantung di ruang tamu—sebuah mimpi buruk yang akhirnya memaksanya terbangun dari teror tersebut.

Tubuh sering kali mengirimkan sinyal yang tidak kita kehendaki. Mimpi buruk bukan sekadar bayangan acak, melainkan proyeksi dari trauma dan ketakutan yang tersimpan dalam ketidaksadaran, sebuah cerminan jujur dari luka yang belum sempat dihadapi.

 

Dialog mengesankan:

"Hati - hati. Semua orang bisa saling mendengar."

 
Ending:

Twist Ending

 
Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna)

 


Posting Komentar

0 Komentar