Review Film Black Phone 2 (2025) - Teror yang Menolak Usai


 

Black Phone 2 | 2025 | 1h 54m
Genre : Psychological Horror/Supernatural Horror/Horror | Negara: US
Director: Scott Derrickson | Writers: Joe Hill, Scott Derrickson, C. Robert Cargill
Pemeran: Ethan Hawke, Mason Thames, Madeleine McGraw
IMDB: 6.1
My Rate : 7/10

Trauma masa lalu Finn kembali terbangun saat telepon itu kembali berdering—kali ini bukan hanya menghantuinya, tetapi juga mengancam keselamatan Gwen. Bayangan Grabber yang seharusnya terkubur kini kembali menuntut perhatian, memaksa mereka menghadapi ketakutan yang belum pernah benar-benar usai. 

Peringatan:

Adegan kekerasan, alkohol, dan obatan terlarang

 

Sinopsis :

Empat tahun setelah kejadian traumatis yang hampir merenggut hidupnya, Finn masih hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Telepon itu sesekali kembali berdering—suara dari arwah yang meminta pertolongan—dan meski berusaha mengabaikannya, Finn tetap mengangkatnya hanya untuk menghentikan bunyi yang terus menghantui.

Di sisi lain, Gwen mulai mengalami mimpi-mimpi ganjil. Sosok Grabber yang seharusnya telah berakhir kembali muncul dalam wujud ancaman, membawa dendam yang belum selesai. Teror itu perlahan mengarah pada Gwen, menjadikannya sasaran dari kejahatan yang ingin membuat Finn merasakan kehilangan yang sama.

Tak ingin kembali terseret ke dalam mimpi buruk, Finn akhirnya terpaksa menghadapi masa lalunya demi melindungi Gwen. Perjalanan mereka ke Alpine Lake Camp bukan sekadar pelarian—melainkan titik pertemuan antara kenangan tentang ibu mereka, arwah yang meminta pertolongan, dan ancaman yang harus dihentikan sebelum semuanya terlambat.

Akankah mereka berhasil memutus teror ini, atau justru terjebak dalam siklus kematian yang sama?

 
Ulasan :

Bayangan masa lalu yang susah payah ingin dikubur sering kali kembali tanpa aba-aba, menyeret kita ke posisi paling rapuh. Black Phone (2025) menghadirkan kembali horor dari film pertamanya The Black Phone (2021), bukan dengan mengulang teror yang sama, melainkan dengan menggali trauma Finn yang ternyata tidak pernah benar-benar hilang dimakan waktu.

Film dibuka dengan sebuah telepon misterius—kali ini dari seseorang yang bahkan tidak menyadari kepada siapa ia terhubung. Koneksi yang terasa tak masuk akal ini menjadi pintu masuk yang efektif untuk menegaskan bahwa trauma di dunia Black Phone tidak mengenal batas ruang maupun logika. Dampak dari peristiwa di film sebelumnya pun perlahan diperlihatkan, bukan hanya pada Finn, tetapi juga pada orang-orang di sekitarnya.

Konflik berkembang secara bertahap. Ancaman bukan hanya datang dari Grabber yang dianggap telah berakhir, tetapi juga dari ketakutan internal para tokohnya. Finn yang berusaha menutup luka lama, Gwen yang terus dipandang aneh karena mimpinya, dan ayah mereka yang menolak menerima kemampuan kedua anaknya—semuanya membentuk lingkaran konflik yang lebih emosional daripada fisik.

Berbeda dari film pertama yang terkungkung dalam ruang sempit, film ini membuka dunianya ke lokasi yang lebih luas. Ketegangan hadir dalam bentuk yang berbeda, dengan sosok antagonis yang kini lebih terasa sebagai bayangan—arwah Grabber yang menuntut balas tanpa wujud pasti. Pilihan ini memberi nuansa horor yang lebih sunyi, meski tidak selalu konsisten dalam menekan rasa takut.

Penyelesaian cerita dieksekusi dengan cukup rapi. Perkembangan karakter terlihat jelas dan misteri yang dibangun sejak awal menemukan jawabannya. Namun, perbandingan dengan film pertama memperlihatkan pergeseran fokus yang cukup signifikan, terutama pada visualisasi kemampuan Gwen. Jika sebelumnya mimpi hanya menjadi petunjuk, kini ia menjelma pengalaman yang nyaris melebur dengan dunia nyata.

Sayangnya, peran Black Phone sendiri terasa semakin tersisih. Fokus cerita perlahan bergeser dari telepon menuju mimpi, yang meski menarik, terasa kurang sejalan dengan judulnya. Hal ini bukan sebuah kegagalan, tetapi menimbulkan jarak antara konsep dan representasi.

Pertanyaan lama mengenai latar belakang Grabber kembali dibiarkan menggantung. Film ini tampaknya sengaja menunda jawaban tersebut demi membuka ruang bagi sekuel berikutnya. Begitu pula dengan para korban—yang kali ini justru terasa semakin anonim, kehilangan kedalaman emosional yang sempat hadir secara implisit di film pertama.

Penambahan karakter memang memperkaya dunia cerita, tetapi tidak semuanya memiliki bobot yang cukup untuk meninggalkan kesan. Beberapa hadir sekadar sebagai fungsi naratif, bukan sebagai sosok yang benar-benar hidup dalam cerita.

Dari sisi teknis, akting para pemain tetap solid, terutama pemeran Finn yang mampu menampilkan kelelahan emosional tanpa berlebihan. Visual dan editing juga membantu membedakan dunia mimpi dan kenyataan dengan cukup jelas, menjaga ritme cerita tetap stabil.

Satu pertanyaan yang terus mengganggu sepanjang film adalah: mengapa Grabber kembali? Jika tujuannya adalah menuntut balas, mengapa ia baru muncul setelah empat tahun berlalu? Ke mana ia pergi selama waktu itu? Pertanyaan-pertanyaan ini dibiarkan terbuka, seakan sengaja disimpan untuk sekuel ketiga—sebuah janji yang belum tentu mampu membayar rasa penasaran yang terlanjur dibangun.

Pada akhirnya, Black Phone (2025) bukanlah tentang kembalinya Grabber semata, melainkan tentang trauma yang menolak untuk selesai. Film ini memilih berjalan lebih jauh ke wilayah psikologis, meski harus mengorbankan sebagian fokus dan kedalaman karakter pendukung.

 
Adegan yang mengesankan:  

Pemilik camp mencoba berbicara dengan Finn dan memberinya nasihat yang sederhana, tetapi bermakna. Trauma yang Finn rasakan mungkin tidak tampak jelas, tersembunyi di balik usahanya untuk selalu terlihat kuat. Namun, pemilik camp melihatnya dengan jujur dan meminta Finn untuk berhenti melarikan diri—menghadapi ketakutan itu agar ia tidak terus terjebak di dalamnya.

Adegan ini mengingatkan bahwa banyak dari kita memilih menyembunyikan luka demi terlihat baik-baik saja. Trauma yang dipendam bukanlah sesuatu yang hilang, melainkan menunggu saat untuk kembali muncul. Berdamai bukan berarti melupakan, tetapi mengakui bahwa rasa itu ada dan layak diterima.

 

Dialog mengesankan:

"Hell isn't flame, Bill. It's ice."

 

Ending:

Happy Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna)

 

Posting Komentar

0 Komentar