Kesepian sering muncul tanpa
disadari dan tanpa ada alasan yang pasti. Kondisi yang tidak terlihat kasat
mata, tetapi terasa amat nyata. Film seperti Rent-A-Pal (2020) dan Her (2013)
menyoroti bagaimana manusia mencari cara untuk mengisi kekosongan itu—dan
bagaimana teknologi, terutama AI, bisa menjadi tempat pelarian yang nyaman
namun menipu.
Di dunia digital belakangan ini,
tidak banyak orang yang mencari pelarian dengan cara berbincang dengan AI
seperti ChatGPT, Dolla, atau lainnya. Bukan karena tidak punya teman, tetapi
karena ada sesuatu yang terasa berbeda: respons cepat, perhatian penuh, dan
tidak ada penghakiman. Sebuah ruang aman yang jarang ditemukan dalam interaksi
nyata.
Dalam Her, Theodore, seorang pria
yang kesepian setelah perceraian, menemukan kenyamanan dalam hubungan dengan
sistem operasi pintar. Rasa haus akan perhatian, empati, dan validasi yang
tidak didapatkannya dari manusia lain, dengan mudah diperolehnya saat
berkomunikasi dengan AI. Hubungannya terasa nyata, hangat, dan memuaskan secara
emosional, tetapi film dengan lembut menekankan satu hal: koneksi itu tetap
semu.
Dalam salah satu adegan, Theodore
disadarkan bahwa perlakuan yang diterimanya bukan sesuatu yang eksklusif. AI
yang sama juga membangun koneksi serupa dengan banyak orang, bahkan di saat
bersamaan. Yang terasa personal ternyata hanyalah respons terprogram. AI tidak
memiliki kesadaran atau pengalaman manusia; ia hanya menanggapi sesuai
kebutuhan Theodore dengan algoritma yang dirancang untuk menyenangkan manusia.
Sementara Rent-A-Pal mengambil
pendekatan lebih gelap. Kesepian membuat protagonis terbuka pada hubungan yang
jelas-jelas tidak nyata. Ia mencari perhatian dan persahabatan dalam bentuk
yang dikontrol sepenuhnya oleh teknologi—tindakan yang pada awalnya tampak
menghibur, tetapi perlahan menimbulkan konsekuensi berbahaya.
David, yang hidup dalam kesepian dan
tekanan, menemukan pelarian dalam video interaktif yang memberinya ilusi
persahabatan. Otaknya mulai merekonstruksi percakapan, memilih respons yang
ingin ia dengar. Film ini menunjukkan sisi lain dari ilusi kenyamanan: ketika
manusia terlalu bergantung pada respons buatan, batas antara realitas dan
fantasi menjadi kabur.
Kedua film ini berbicara tentang
satu fenomena yang semakin relevan di era digital: teknologi bisa menjadi
pengisi kekosongan emosional. Saat manusia merasa tidak didengar, tidak
dicintai, atau diabaikan, AI muncul sebagai jawaban instan. Perhatian yang diberikan
terasa hangat, responsif, dan menenangkan. Namun kenyataannya, itu hanyalah
simulasi—validasi yang diprogram, bukan rasa peduli yang tulus.
Yang membuatnya lebih kompleks
adalah psikologi kesepian. Ketika seseorang sangat membutuhkan perhatian, otak
mudah “dibodohi” oleh tanda-tanda interaksi yang mirip manusia. Sensasi hangat
dari perhatian AI bisa terasa nyata, dan perlahan membentuk keterikatan
emosional. Ini bukan sekadar hiburan; ini adalah bentuk ketergantungan
psikologis yang berpotensi mengisolasi individu lebih jauh dari hubungan nyata.
Risiko terbesarnya bukan sekadar
bergantung pada teknologi, melainkan perlahan menarik diri dari dunia nyata.
Ketika validasi buatan terasa lebih nyaman daripada hubungan manusia yang
kompleks dan tidak sempurna, apakah kita masih mau menghadapi relasi yang
sesungguhnya?
Pesan dari Her dan Rent-A-Pal bukan
menolak teknologi atau AI, tetapi mengingatkan kita tentang batasnya. Kehadiran
AI bisa mengisi ruang kosong sementara, tetapi tidak bisa menggantikan
kompleksitas hubungan manusia yang nyata—dengan ketidakpastian, emosi, dan
kesadaran timbal balik. Mengandalkan teknologi sebagai “pengganti manusia”
bukan solusi, tetapi penghalang bagi pertumbuhan hubungan yang otentik.
Pada akhirnya, kedua film ini
menyodorkan peringatan: kesepian mungkin membuat kita ingin lari ke kenyamanan
instan, tetapi perhatian dan validasi semu tidak akan memberi pemenuhan sejati.
Manusia tetap membutuhkan manusia lain—yang bisa melihat, mendengar, dan hadir
secara nyata, bukan sekadar kode yang merespons permintaan hati yang hampa.

0 Komentar