The Chosen One (Original Title: Liu
mang qu mo shi) | 2024 | 1h 44m
Genre
: Folk Horror/Comedy/Horror/Romance | Negara: Singapore - Malaysian
Director:
Suat Yen Lim|
Writers: Suat Yen Lim,
Link Sng
Pemeran: Fredy Chan, Shu-yao Kuo,
Angel Lim
IMDB: 5.7
My
Rate : 6/10
Demi cinta pada Ah Jiao, Ah Jie memilih mengunci kemampuan eksorsismenya. Namun saat roh jahat yang mengancam muncul, ia dipaksa menentukan pilihan yang tak terelakkan: membuka kembali kekuatannya, atau kehilangan orang yang paling ia cintai selamanya.
Peringatan:
Adegan
kekerasan, minuman keras
Sinopsis :
Ah Jie dikenal sebagai eksorsis
paling hebat di kota. Namun, ia memilih menanggalkan kemampuannya dan hidup
sebagai penipu dan berjualan obat. Segalanya berubah ketika seorang pengusaha
datang meminta bantuannya untuk menyembuhkan sang anak yang kerasukan roh
jahat.
Ah Jie melihat sosok mengerikan yang
menguasai tubuh anak tersebut, tetapi karena suatu alasan membuatnya memilih
kabur sambil membawa uang yang dijanjikan. Pelariannya justru menyeretnya ke
dalam berbagai masalah. Di tengah upaya melarikan diri, Ah Jie kembali
dipertemukan dengan seorang teman lama yang datang bersama Sora, seorang
YouTuber, dengan permintaan bantuan yang sama.
Kecurigaan Sora terhadap penolakan
Ah Jie membawanya mencari jawaban kepada sang guru. Masa lalu Ah Jie pun
terungkap—tentang kekuatannya yang sengaja dikunci dan kisah cinta tragis yang
membuatnya memilih berpaling dari dunia eksorsisme. Demi membuktikan kebenaran,
Sora melakukan tindakan berbahaya yang memaksa Ah Jie kembali dihadapkan pada
kemampuannya.
Akankah Ah Jie mengesampingkan luka
pribadinya demi kembali menyelamatkan nyawa orang lain?
Ulasan :
Bayangkan kamu memiliki bakat alami
untuk menjadi eksorsis—apakah kamu akan memanfaatkannya, atau justru memilih
menutupinya demi hidup yang lebih tenang? The Chosen One mencoba mengangkat
dilema tersebut melalui sosok Ah Jie, seorang pria yang dihadapkan pada pilihan
sulit antara kemampuan, trauma, dan cinta. Cerita ini tidak hanya bertumpu pada
horor, tetapi juga dipadukan dengan romansa dan komedi ringan yang membuatnya
terasa lebih mudah dinikmati.
Film dibuka dengan adegan yang cukup
menjanjikan melalui penemuan lokasi kelam di sebuah proyek konstruksi yang
memakan korban. Pengenalan Ah Jie kemudian dilakukan dengan cara yang
unik—memperlihatkan kemampuannya melakukan eksorsisme di sebuah kuil, yang
ternyata hanyalah penipuan. Dua elemen ini perlahan terhubung dan menjadi
pondasi cerita yang cukup kuat.
Konflik utama muncul ketika sebuah
kasus kerasukan menuntut Ah Jie untuk turun tangan. Di titik ini, film berhasil
menampilkan konflik internal yang menjadi kekuatan cerita: kebimbangan Ah Jie
terhadap masa lalunya, serta kenyataan bahwa hanya dirinya yang mampu
menghentikan ancaman tersebut.
Sayangnya, pembangunan konflik
tersebut terasa kurang maksimal ketika mencapai penyelesaian. Klimaks yang
dihadirkan terkesan datar, meski sosok antagonis telah dibangun sebagai entitas
yang kuat sejak awal. Tidak ada pertarungan yang benar-benar signifikan untuk
memperlihatkan perbandingan kekuatan keduanya, sehingga ketegangan yang
dijanjikan tidak sepenuhnya terbayar.
Jika ditelaah dari segi cerita, film
ini memiliki ide yang menarik, namun tampak kesulitan menentukan fokus utama.
Porsi romansa yang mendominasi hampir setengah durasi film justru menggeser
elemen horor menjadi sekadar pelengkap. Akibatnya, genre horor terasa tidak
dieksekusi secara tuntas dan kehilangan daya tekan.
Hal ini terasa disayangkan,
mengingat potensi kengerian dari roh jahat yang dihadirkan sebenarnya cukup
besar. Pendalaman latar belakang roh tersebut, serta keterhubungannya dengan
Sora, bisa menjadi penguat konflik. Begitu pula dengan kebutuhan akan adegan
pertarungan yang lebih menjanjikan untuk meningkatkan ketegangan.
Dari segi karakter, Ah Jie dan Ah
Jiao berhasil diwujudkan dengan baik, didukung oleh akting yang meyakinkan.
Namun, karakter Sora terasa lemah. Statusnya sebagai influencer nomor satu
tidak tergambarkan dengan jelas, dan tindakannya justru terlihat impulsif serta
mengabaikan keselamatan orang lain demi konten.
Kelemahan lain terlihat pada
kualitas CGI yang digunakan, yang terasa kurang natural, terutama pada
sepertiga akhir film saat pertarungan berlangsung di dunia antara. Meski
demikian, film ini masih dapat dinikmati secara keseluruhan.
Pada akhirnya, The Chosen One lebih
berhasil sebagai kisah tentang pilihan dan penyangkalan diri dibanding sebagai
film horor yang utuh. Film ini memiliki fondasi tema yang kuat, tetapi belum
sepenuhnya berani menggali dan mengeksekusinya hingga tuntas. Sebuah pengingat
bahwa bakat, sekuat apa pun, tetap membutuhkan keberanian untuk benar-benar
digunakan.
Adegan
yang mengesankan:
Kematian Ah Jiao menjadi pukulan
telak bagi Ah Jie. Kehilangan itu membuatnya rela melakukan apa pun demi
kembali melihat sosok Ah Jiao, meski hanya dalam wujud arwah. Dalam
keputusasaan, Ah Jie bersujud di hadapan gurunya, menghantukkan kepalanya ke
tanah demi memohon bantuan—seolah tak lagi peduli pada risiko yang menantinya.
Cinta sering kali membuat kita sulit
merelakan kepergian. Kehilangan yang datang mendadak menyisakan rasa bersalah
yang tak terucap. Demi satu pertemuan terakhir, kita bahkan sanggup merendahkan
diri dan melepaskan harga diri yang selama ini dijaga.
Dialog
mengesankan:
"We can choose to onlu look at the good stuff"
Ending:
Happy
Ending
Rekomendasi:
Okay
to watch
(Aluna)

0 Komentar