Murderer Report (Original title:
Sal-in-ja Ri-po-teu) | 2025 | 1h 47m
Genre
: Psychological Drama/Psychological Thriller/Drama/Horror/Thriller
| Negara: South Korea
Director:
Young-Jun Cho |
Writers: Young-Jun Cho
Pemeran: Jung Sung-il, Cho
Yeo-jeong, Kim Tae-Han
IMDB: 6.5
My
Rate : 8/10
Saat Baek Seon Ju menyetujui wawancara eksklusif dengan Lee Yeong Hun -seorang pembunuh berantai- ia mengira sedang mengendalikan situasi. Ia tidak menyadari bahwa wawancara itu hanyalah pintu masuk menuju permainan lain yang jauh lebih berbahaya.
Peringatan:
Terdapat
adegan kekerasan dan kata kasar
Sinopsis :
Sebuah permintaan wawancara
eksklusif diterima Baek Seon Ju dari Lee Yeong Hun, seorang pria yang mengaku
telah melakukan sebelas pembunuhan berantai. Klaim tersebut menimbulkan
keraguan—bukan hanya soal kebenaran ceritanya, tetapi juga keselamatannya sendiri.
Namun, di balik ketakutan itu, ambisi Seon Ju sebagai jurnalis perlahan
mengambil alih, memacu adrenalinnya meski berulang kali ia coba tekan.
Seon Ju menyiapkan segalanya dengan
hati-hati, termasuk melibatkan kekasihnya yang seorang polisi untuk mengawasi
setiap gerak-gerik di ruang wawancara. Yeong Hun datang dengan sikap tenang,
nyaris sopan, namun menyimpan aura dominasi yang sulit diabaikan. Wawancara
berlangsung seolah berada dalam kendali—hingga dalam satu momen, Yeong Hun
membunuh seseorang tepat di hadapan Seon Ju.
Kepanikan pun tak terhindarkan. Seon
Ju dan kekasihnya ingin menghentikan semuanya dan pergi secepat mungkin. Namun,
bagi Yeong Hun, permainan baru saja dimulai. Tidak ada pilihan untuk mundur,
dan keluar dari ruangan itu bukan lagi sebuah kemungkinan.
Lalu, apa sebenarnya niat yang
disembunyikan Yeong Hun di balik wawancara ini?
Ulasan :
Sebuah luka dan trauma yang timbul
akibat perbuatan orang lain tidak akan menghilang begitu saja. Namun, sering
kali korban justru dipaksa untuk berdamai dan menerima, sementara pelaku
melanjutkan hidupnya seolah tanpa dosa dan rasa bersalah. Pada titik inilah
pertanyaan muncul: apakah kita akan membiarkan semuanya berakhir begitu saja,
ataukah keadilan menuntut balasan yang setimpal? Murderer Report mencoba
mengajak penonton menghadapi dilema tersebut melalui cerita yang tenang, tetapi
perlahan menekan dan menenggelamkan.
Film dibuka dengan narasi dialog
tanpa visual. Sebuah percakapan singkat tentang pengakuan—seorang pembunuh
berantai meminta wawancara, dengan janji bahwa hal tersebut dapat menyelamatkan
nyawa korban berikutnya. Tanpa adegan eksplosif, pembuka ini justru berhasil
membangun atmosfer misterius dan menegangkan. Ia menjadi pondasi yang kuat bagi
cerita yang sejak awal sudah mengisyaratkan permainan psikologis.
Konflik tidak muncul melalui adegan
yang menggebu, melainkan melalui pertarungan pikiran dalam tiap dialog.
Percakapan demi percakapan terasa seperti upaya pembenaran atas tindakan yang
telah dilakukan. Cerita-cerita yang disampaikan Yeong Hun perlahan menyusup ke
dalam kesadaran Seon Ju, membentuk manipulasi yang nyaris tak disadari—seperti
hipnosis halus yang bekerja tanpa paksaan. Ketika kenyataan akhirnya terungkap
di depan mata, dilema yang sebelumnya hanya berupa pertanyaan moral berubah
menjadi dorongan yang sulit dihindari.
Akhir cerita sebenarnya dapat
ditebak sejak awal, terlebih dengan petunjuk-petunjuk yang cukup jelas
sepanjang film. Namun, hal tersebut tidak serta-merta menjadi kelemahan. Cara
penyajian yang rapi dan penuh tekanan tetap berhasil menjaga rasa penasaran
penonton hingga akhir.
Salah satu kelebihan yang patut
diapresiasi adalah keberanian film ini bermain dalam keterbatasan. Dengan
jumlah tokoh yang sedikit dan lokasi yang sebagian besar berada di dalam
ruangan, serta dominasi dialog, film ini berisiko terasa monoton. Namun, risiko
tersebut justru berhasil diolah menjadi kekuatan, menghadirkan intensitas yang
konsisten tanpa terasa membosankan.
Karakter dibangun dengan sangat
jelas dan kuat, didukung oleh akting para pemain yang meyakinkan. Mimik wajah,
gestur kecil, dan intonasi dialog bekerja efektif dalam menyampaikan tekanan
emosional yang tidak selalu diucapkan secara verbal. Detail visual seperti
perubahan warna dan bentuk lukisan, kehadiran koin, serta elemen-elemen
simbolik lainnya turut memperkaya lapisan cerita. Pemilihan musik pun terasa
tepat, hadir bukan untuk mendominasi, melainkan memperdalam suasana.
Pada akhirnya, Murderer Report bukan
sekadar film tentang pembunuhan atau pengakuan, melainkan tentang batas tipis
antara empati dan pembenaran. Film ini mengajak penonton mempertanyakan kembali
makna keadilan, rasa bersalah, dan posisi korban dalam sistem yang sering kali
memaksa mereka untuk “berdamai”. Dengan pendekatan yang tenang namun menusuk,
film ini meninggalkan kegelisahan yang tidak mudah hilang—sebuah pertanyaan
moral yang terus menggema bahkan setelah layar menggelap.
Adegan yang mengesankan:
Setelah menceritakan salah satu
kasus yang mendorongnya melakukan pembunuhan—sebuah pembalasan atas penderitaan
seorang pasiennya yang masih SMA—Yeong Hun dengan tenang menempatkan Seon Ju
pada posisi orang tua korban. Ia memaksanya membayangkan pilihan yang harus
diambil ketika keadilan tak lagi berpihak. Seon Ju menolak perbuatan Yeong Hun,
namun pada saat yang sama, ia tak sepenuhnya bisa menyangkal bahwa dalam
situasi serupa, dirinya mungkin akan memilih jalan yang sama.
Adegan ini memperlihatkan bagaimana
suatu tindakan tak bisa dinilai semata dari hasil akhirnya. Latar belakang,
luka, dan dorongan yang melahirkannya menjadi bagian dari pertimbangan moral
yang tak terpisahkan. Bukan untuk membenarkan yang salah, tetapi untuk
menyadari bahwa membunuh demi kekuasaan dan membunuh demi perlindungan diri
menghadirkan beban etis yang berbeda—dan justru di sanalah kengerian sebenarnya
berdiam.
Dialog mengesankan:
"Tidak mudah untuk mencuci darah dari tanganmu"
Ending:
Bittersweet
Ending
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna)

0 Komentar