Review Film Missing Child Videotape (2024) - Bukan Sekadar Anak Hilang

 

Missing Child Videotape | 2024 | 1h 44m
Genre : Folk Horror/Found Footage Horror/Supernatural Horror/Drama/Horror/Mystery | Negara: Japan
Director: Ryota Kondo | Writers: Suzuyuki Kaneko, Ryota Kondo
Pemeran: Takashi Fujii, Amon Hirai, Kokoro Morita
IMDB: 5.4
My Rate : 7/10

Ingatan tentang hilangnya sang adik di masa lalu mendorong Keita menebus rasa bersalahnya dengan membantu berbagai pencarian anak hilang di gunung. Perhatiannya yang konsisten justru menarik sorotan media, tanpa ia sadari perlahan membuka sisi kelam yang selama ini tersembunyi.

Peringatan:

Terdapat adegan bunuh diri

 

Sinopsis :

Keita menerima sebuah paket dari ibunya sepulang membantu pencarian anak hilang di hutan. Di dalamnya terdapat sebuah VHS tape berisi rekaman hari ketika adiknya menghilang. Ia memutuskan menonton kembali video tersebut bersama teman sekamarnya, Tsukasa, yang memiliki kemampuan supranatural.

Keterlibatan Keita dalam berbagai kasus orang hilang menarik perhatian media. Mikoto, seorang reporter, berusaha mewawancarainya dan menelusuri masa lalunya, termasuk misteri hilangnya sang adik yang belum terpecahkan. Sebuah misteri yang menarik perhatiannya.

Didorong oleh rekaman lama itu, Keita kembali ke kampung halamannya untuk mencari jawaban di Gunung Mashiro, ditemani Tsukasa. Sementara itu, Mikoto tanpa sengaja menemukan rangkaian kasus lain yang pernah terjadi di gunung tersebut—petunjuk yang mungkin berkaitan dengan bangunan misterius tempat adik Keita terakhir terlihat.

Akankah mereka menemukan kebenaran yang selama ini tersembunyi?

 

Ulasan :

Kasus hilang atau tersesat di hutan bukan lagi hal yang asing. Banyak kejadian serupa terjadi dengan penyebab yang kadang berada di luar logika. Ide inilah yang diangkat oleh Missing Child Videotape karya Ryota Konda. Bukan dalam bentuk horor penuh kejutan, melainkan kengerian yang sunyi dan menyayat perlahan.

Cerita dibuka dengan adegan yang tampak sederhana, tetapi terhubung langsung dengan konflik utama. Keita berhasil menemukan seorang anak yang hilang, namun di akhir pertemuan, anak tersebut berbisik menyebut “kakak” di telinganya. Kenangan tentang adiknya kembali muncul, membuka luka lama yang belum sembuh. Kemunculan VHS tape setelahnya semakin memperkuat pondasi misteri yang dibangun sejak awal.

Tokoh-tokohnya diperkenalkan secara bertahap: Keita dengan rasa bersalahnya, Tsukasa dengan kemampuan supranatural yang mengganggunya, dan Mikoto sebagai reporter yang terdorong rasa penasaran. Hubungan mereka berkembang secara natural tanpa terasa dipaksakan.

Konflik meningkat perlahan. Hilangnya adik Keita menjadi pintu menuju misteri yang lebih besar tentang Gunung tersebut. Namun konflik tidak hanya datang dari luar. Tekanan orang tua yang belum sepenuhnya menerima kenyataan, ketakutan Tsukasa terhadap kemampuannya sendiri, serta dorongan Mikoto untuk mengungkap kebenaran meski tak bisa dipublikasikan, memperlihatkan luka yang mereka simpan dalam diam.

Penyelesaian cerita dilakukan dengan cukup rapi, meski terasa belum sepenuhnya memuaskan. Misteri yang terungkap tidak meninggalkan dampak emosional yang kuat, dan akhir masing-masing karakter masih terasa kurang dalam.

Secara ide, film ini menarik. Namun dalam eksekusi, masih ada detail yang kurang dioptimalkan. Adegan lonceng di awal, misalnya, diberi sorotan cukup besar tetapi tidak memiliki dampak signifikan di akhir. Begitu pula dengan latar belakang Mikoto dan alarm yang selalu ia bawa—potensi kedalaman karakter yang tidak sepenuhnya dimanfaatkan.

Kemampuan Tsukasa juga sebenarnya dapat menjadi kekuatan visual yang lebih eksploratif. Andai penonton diberi sudut pandang yang lebih jelas dari perspektifnya, pemahaman terhadap karakternya mungkin akan terasa lebih utuh.

Narasi mengenai misteri gunung yang disampaikan oleh anak pemilik penginapan pun terasa kurang kuat. Alih-alih memperbesar misteri, bagian ini justru terasa kurang terhubung dengan konflik utama.

Meski alurnya lambat dan mungkin terasa membosankan bagi sebagian penonton, film ini tetap menarik untuk diikuti. Akting para pemain tampil cukup solid, sementara pergerakan kamera, transisi, dan pemilihan musik mendukung suasana yang ingin dibangun.

Pada akhirnya, Missing Child Videotape bukan sekadar kisah tentang anak yang hilang, melainkan tentang rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi dan misteri yang lebih besar lagi. Film ini memilih berjalan pelan, membangun suasana dengan kesunyian dan luka batin para tokohnya. Meski tidak semua potensi tergarap maksimal, ia tetap menyisakan perasaan ganjil—sebuah kegelisahan yang tidak berteriak, tetapi bertahan lama setelah cerita usai.

 

Adegan yang mengesankan:  

Salah satu adegan paling mengesankan dalam Missing Child Videotape adalah ketika Tsukasa akhirnya mengungkap rahasia yang selama ini ia pendam. Ia sebenarnya telah mengetahui bahwa adik Keita telah lama meninggal, setelah melihat penampakannya di sekitar Keita. Namun, memilih untuk diam agar tidak memperparah rasa bersalah dan kesedihan sahabatnya itu.

Adegan ini terasa begitu dekat dengan kenyataan. Tidak sedikit orang yang menyembunyikan kebenaran pahit demi melindungi orang yang disayangi. Padahal sering kali kenyataan—sekeras apa pun—lebih menenangkan daripada kebohongan yang hanya menunda luka.

 

Dialog mengesankan:

"Tolong temukan dia dengan cepat"

 

Ending:

Bittersweet Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna)

 


Posting Komentar

0 Komentar