Usia belia adalah fase di mana rasa
ingin tahu tumbuh lebih cepat daripada kemampuan untuk memahami konsekuensinya.
Pertemanan dan percintaan menjadi bagian yang wajar untuk dilalui. Namun di
saat yang sama, kedewasaan untuk melihat hubungan dengan kacamata yang
bijaksana belum sepenuhnya terbentuk. Masa pencarian jati diri ini adalah fase
rapuh yang seharusnya dijaga, bukan dieksploitasi.
Film-film seperti My Teacher,
Narratage, Close Range Love, dan Policeman and Me mencoba menyajikan kisah
cinta remaja yang emosional dan romantis. Namun ada satu kesamaan yang sulit
diabaikan: tokoh utama perempuannya masih duduk di bangku sekolah menengah
atas, sementara pasangan mereka adalah pria dewasa dengan jarak usia dan posisi
yang signifikan—dan sering kali adalah guru mereka sendiri.
Pertanyaannya pun muncul: apakah
relasi seperti ini dapat dianggap wajar dan romantis, atau justru masuk ke
wilayah child grooming?
Remaja yang masih berada dalam fase
pencarian identitas bisa saja digerakkan oleh luka yang tidak selalu mereka
sadari—kurangnya figur ayah, kebutuhan akan kasih sayang, atau keinginan untuk
diakui sebagai “lebih dewasa”. Emosi mereka intens, tetapi belum stabil. Di
sisi lain, pasangan mereka—guru, polisi, atau pria dewasa—berada pada tahap
hidup yang lebih matang, dengan pengalaman, kuasa, dan kontrol emosional yang
jauh lebih besar.
Di sinilah letak persoalannya. Child
grooming tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan yang kasat mata. Ia bisa
muncul secara halus: lewat perhatian yang konsisten, perlindungan yang terasa
eksklusif, atau narasi seperti “kamu berbeda dari yang lain” dan “kamu lebih
dewasa dari usiamu”. Ketimpangan bukan hanya soal angka usia, tetapi tentang
siapa yang memegang kendali dalam hubungan tersebut—dan dalam banyak kasus,
kendali itu ada pada pihak dewasa.
Film-film tersebut membingkai
hubungan ini melalui sudut pandang perasaan tokoh perempuan. Penonton diajak
memahami kebingungan, cinta, dan konflik batin mereka. Namun jarang yang secara
tegas mempertanyakan tanggung jawab moral pihak dewasa. Ketika seorang dewasa
membalas perasaan remaja di bawah umur, pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka
saling mencintai”, melainkan “mengapa orang dewasa itu tidak menetapkan batas
yang seharusnya”.
Pendapat yang sering muncul
mengatakan bahwa cinta mereka “tulus” atau “tidak berniat jahat”. Namun niat
baik tidak otomatis menghapus ketimpangan. Justru kedewasaan itu terlihat dari
kemampuan mereka untuk menahan diri dan berpikir rasional, bukan mengikuti
dorongan emosional yang berpotensi merugikan pihak yang lebih rentan.
Perbedaan usia akan terasa berbeda
ketika kedua pihak sama-sama telah dewasa secara hukum dan psikologis. Pada
tahap itu, pilihan untuk menjalin hubungan dengan jarak usia jauh dapat menjadi
hasil pertimbangan sadar. Masalah mungkin tetap ada, tetapi tidak lagi berada
dalam wilayah eksploitasi usia.
Yang perlu disoroti adalah bagaimana
banyak film justru meromantisasi fase labil ini. Hubungan yang semestinya
dipertanyakan dibingkai sebagai “cinta terlarang yang indah”, tanpa membahas
dampak jangka panjangnya. Ini berisiko menormalisasi gagasan bahwa ketertarikan
orang dewasa pada remaja bisa dimaklumi selama dibungkus perasaan.
Pada akhirnya, membaca ulang
film-film ini bukan berarti melarang kita menikmatinya, tetapi mengajak kita
lebih sadar. Tidak semua yang terasa romantis di layar aman untuk dinormalisasi
di dunia nyata. Melindungi remaja bukan berarti meremehkan perasaan mereka,
melainkan memastikan mereka tidak dipaksa tumbuh terlalu cepat oleh keinginan
orang dewasa.
(Aluna uwie)
a

0 Komentar