Tomb Watcher | 2025 | 1h 32m
Genre
: Horror | Negara: Thailand
Director:
Vathanyu Ingkawiwat|
Writers: Nut Nualpang,
Nattamol Paethanom, Nattapot Potchumnean
Pemeran: Woranuch BhiromBhakdi, Thanavate
Siriwattanagul, Arachaporn Pokinpakorn
IMDB: 5.2
My
Rate : 7/10
Lunthom meninggalkan wasiat bagi suaminya, Cheev, untuk menjaga mayatnya selama 100 hari demi mendapatkan seluruh harta miliknya. Cheev mengajak selingkuhannya untuk tinggal di vila tempat mayat Lunthom berada hingga kejadian mengerikan mulai menghantui mereka.
Peringatan:
Adegan
sensual, seksual, ketelanjangan, kekerasan, alkohol, dan rokok
Sinopsis :
Lunthom meninggal secara tiba-tiba
dan meninggalkan Cheev dalam balutan duka yang sempurna di hadapan publik.
Namun di balik kesedihan itu, kematian Lunthom justru menjadi jalan bebas bagi
hubungan terlarang Cheev dengan kekasih gelapnya, Ros.
Cheev membawa Ros ke vila milik
Lunthom, tempat jasad Lunthom disemayamkan. Di sana, sebuah janji harus
dipenuhi: menjaga tubuh Lunthom selama 100 hari demi mendapatkan seluruh harta
peninggalannya. Janji yang tidak dibayangkan akan membawa petaka.
Seiring waktu, Ros mulai merasakan
gangguan demi gangguan. Kehadiran yang tak kasat mata, mimpi-mimpi yang
menekan, dan rasa bersalah yang kian menghimpit. Hubungan yang mereka kira akan
semakin bebas justru retak perlahan, digerogoti ketakutan dan kecurigaan.
Apakah teror yang mereka alami
berasal dari dendam arwah Lunthom—atau dari rasa bersalah yang tak pernah
mereka akui?
Ulasan :
Kesetiaan adalah hal paling mahal
dalam sebuah hubungan. Apakah salah jika kita mengharapkan balasan yang
setimpal dari orang yang kita cintai? Tomb Watcher mencoba mengangkat isu ini
ke permukaan dengan pendekatan yang tidak lazim, memadukan horor dengan luka
emosional yang sunyi.
Film dibuka dengan narasi dan visual
yang begitu indah tentang pertemuan serta tumbuhnya cinta sepasang kekasih.
Kehilangan yang datang tiba-tiba membuat kenangan tersebut terasa semakin
berharga bagi yang ditinggalkan. Namun, keindahan itu perlahan runtuh dan
terbukti hanya menjadi topeng untuk menutupi kebusukan yang selama ini
tersembunyi.
Pondasi cerita dibangun dengan
sangat rapi, menghadirkan latar belakang yang cukup kuat tanpa perlu memaksakan
isu perselingkuhan. Hubungan terlarang antara Cheev dan Ros menjadi retakan
pertama yang membuka kebenaran, memperlihatkan bahwa pengkhianatan sering kali
hadir dalam bentuk yang paling tenang.
Ketegangan khas horor muncul melalui
kemunculan yang menghantui, tetapi film ini tidak berhenti di sana. Sosok arwah
Lunthom terasa lebih dari sekadar alat penakut—ia menjadi perwujudan rasa
bersalah yang terus menempel pada para tokohnya. Film ini seakan menegaskan
bahwa kebahagiaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain tidak akan
pernah benar-benar hidup.
Akhir cerita disajikan dengan cukup
memuaskan, meski secara personal terasa ada janji twist yang tidak sepenuhnya
ditepati. Dialog mengenai kondisi Lunthom yang dapat mengalami koma sempat
membuka harapan akan kemungkinan lain, namun film memilih jalan yang lebih
lurus dan pahit.
Akting para pemain cukup solid meski
tidak menonjol. Riasan hantu Lunthom terasa sedikit dipaksakan untuk terlihat
menyeramkan, padahal kemunculannya yang lebih elegan dan tenang justru
berpotensi menghadirkan kengerian yang lebih dalam. Kekuatan film ini justru
terletak pada ekspresi, permainan emosi, musik yang tepat, serta transisi yang
rapi antara kenangan, kenyataan, dan ilusi.
Tomb Watcher bukan sekadar film
horor tentang arwah penasaran, melainkan kisah tentang kesetiaan yang
dikhianati dan rasa bersalah yang menolak menghilang. Film ini mungkin tidak
menawarkan kejutan besar, tetapi meninggalkan gema yang pelan dan menetap—bahwa
luka yang ditinggalkan oleh pengkhianatan akan selalu mencari cara untuk
kembali. Dan terkadang, yang paling menyeramkan bukanlah kematian, melainkan
kesadaran bahwa kita hidup di atas penderitaan orang lain.
Adegan yang mengesankan:
Lunthom akhirnya mengonfrontasi
suaminya yang berselingkuh. Ia mengingat kembali bagaimana dirinya telah
mengorbankan banyak hal demi menjaga keutuhan hubungan mereka—termasuk menerima
perbedaan pendapatan tanpa pernah menjadikannya masalah. Lunthom tidak menuntut
kemewahan atau pengakuan, hanya kesetiaan. Namun, bahkan permintaan yang paling
sederhana itu pun tak mampu dipenuhi.
Adegan ini terasa begitu dekat
dengan pengalaman banyak perempuan dalam hubungan. Kesetiaan, yang seharusnya
menjadi dasar, justru terasa langka dan rapuh. Pengorbanan perempuan sering
kali dianggap sebagai kewajiban yang harus diterima tanpa syarat, sementara
pengorbanan laki-laki masih dipandang sebagai pilihan. Padahal, sebuah hubungan
hanya dapat bertahan jika kedua pihak saling menyesuaikan, menghargai, dan
mencintai—bukan jika salah satunya terus diminta untuk mengalah sendirian.
Dialog
mengesankan:
"Menjauh dari kehidupan kami, selagi masih ada kesempatan"
Ending:
Happy
Ending :P
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna)

0 Komentar