Review Film Ghost Train (2024) - Ketika Tidak Semua Perjalanan Bisa Dihentikan

 

Ghost Train | 2025 | 1h 34m
Genre : Horror/Mystery | Negara: South Korea
Director: Se-woong Tak | Writers: Jo Ba-Reun
Pemeran: Joo Hyun-young, Jeon Bae-soo, Choi Bo-min
IMDB: 5.2
My Rate : 7/10

Demi mengembalikan popularitasnya, Da Kyeong—seorang YouTuber horor—menyelidiki kisah kelam yang menyelimuti stasiun Gwanglim. Penyelidikan itu membawanya pada rangkaian cerita mengerikan yang perlahan menyeretnya ke dalam sebuah kutukan, menjebaknya tanpa ia sadari.

Peringatan:

Terdapat adegan kekerasan, bunuh diri, kata kasar, alkohol

 

Sinopsis :

Popularitas Da Kyeong mulai tersaingi oleh seorang YouTuber kecantikan di agensinya. Demi menarik kembali perhatian penonton, ia—seorang YouTuber horor—mencari kisah mengerikan yang belum banyak tersentuh. Pilihannya jatuh pada Stasiun Gwanglim, tempat berbagai kejadian aneh kerap memakan korban.

Wawancaranya dengan kepala stasiun membuka rangkaian cerita kelam yang selama ini tersembunyi. Merasa menemukan bahan eksklusif, Da Kyeong memberanikan diri melakukan investigasi langsung bersama rekannya. Video tersebut sukses mendongkrak popularitasnya.

Namun, seiring melonjaknya jumlah penonton, sebuah ancaman muncul. Salah satu penontonnya menuntut agar semua video tentang Stasiun Gwanglim dihapus, atau sesuatu yang mengerikan akan menimpanya. Meski diliputi keraguan, ambisi dan obsesinya perlahan mengalahkan rasa takut. Da Kyeong terus memojokkan kepala stasiun demi cerita-cerita baru, tanpa menyadari bahwa ia sedang melangkah terlalu jauh.

Akankah popularitas Da Kyeong terus meningkat, atau justru ia menjadi kisah berikutnya yang diceritakan?

 

Ulasan :

Apakah kamu pernah mendengar tentang kereta hantu—kereta tak kasat mata yang sesekali melintas tanpa disadari? Bayangkan jika suatu hari kamu tanpa sengaja ikut masuk ke dalamnya. Kengerian inilah yang coba dihadirkan Ghost Train melalui rangkaian kisah misteri yang saling terhubung.

Sejak awal, film ini langsung membangun suasana tegang dan mencekam. Pengenalan tokoh dilakukan secara halus, sementara tiap kasus yang diangkat memiliki ketegangan tersendiri. Meski beberapa kisah terasa kurang masuk akal, keseluruhannya tetap berfungsi sebagai fondasi cerita yang konsisten.

Konflik utama berpusat pada gejolak emosional Da Kyeong. Rasa iri dan obsesi perlahan mengaburkan penilaiannya. Pola serupa juga muncul pada tokoh-tokoh utama di setiap kisah, seolah film ini ingin menegaskan bahwa kejatuhan manusia kerap berakar dari dorongan batin yang tak terkendali.

Akhir cerita disajikan dengan cukup memuaskan, ketika Da Kyeong harus menanggung konsekuensi dari pilihannya. Hukuman yang ia terima terasa perih, namun menjadi penutup yang masuk akal sekaligus menjawab misteri yang diperlihatkan sejak awal.

Dari sisi struktur, Ghost Train menggunakan pendekatan cerita berlapis. Pada paruh awal, Da Kyeong lebih berperan sebagai penghubung bagi kisah-kisah misteri lain, sebelum konflik pribadinya kembali mengemuka di bagian akhir. Pendekatan ini menarik, meski membuat karakter Da Kyeong sempat terasa tersisih.

Sebenarnya, tidak ada yang keliru dengan banyaknya kisah misteri yang ditampilkan. Namun, film ini akan terasa lebih kuat jika tidak hanya berfokus pada “apa yang terjadi”, melainkan juga “mengapa itu terjadi”. Sebagai seorang YouTuber, Da Kyeong seharusnya diberi ruang untuk menggali latar belakang tiap kisah, sehingga perannya sebagai tokoh utama terasa lebih utuh.

Hal serupa juga berlaku pada relasinya dengan sang rival. Pendalaman hubungan ini akan membantu penonton memahami rasa iri Da Kyeong—terutama jika rivalnya digambarkan bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga layak atas pencapaiannya.

Secara teknis, akting para pemain tampil natural dan meyakinkan. Pengambilan gambar, pergerakan kamera, pencahayaan, serta musik dan efek suara digarap dengan baik. Ketakutan dibangun perlahan, tidak semata-mata mengandalkan jumpscare.

Pada akhirnya, Ghost Train bekerja bukan hanya sebagai rangkaian cerita horor, tetapi juga sebagai cermin tentang ambisi, iri, dan pilihan-pilihan yang membawa manusia ke titik tanpa jalan kembali. Film ini mungkin belum sepenuhnya menggali sisi “mengapa” dari setiap kengerian yang ditampilkan, namun atmosfer dan konsekuensi yang dihadirkan cukup kuat untuk meninggalkan rasa tidak nyaman yang menetap—seperti kereta yang terus melaju, membawa penumpangnya menuju tujuan yang tak pernah benar-benar mereka pahami.

 

Adegan yang mengesankan:  

Da Kyeong diliputi kebimbangan setelah mendengar penjelasan bernada ancaman dari salah satu subscribernya. Kisah-kisah gelap yang selama ini ia tayangkan ternyata menyimpan misteri yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Untuk pertama kalinya, ia dihadapkan pada pilihan yang nyata: kehilangan kembali popularitasnya, atau mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Kebimbangan yang tergambar dalam adegan ini bukanlah sesuatu yang asing. Dalam berbagai bentuk, manusia kerap berada di titik di mana kesuksesan yang telah diraih harus dilepaskan karena alasan tertentu. Namun, ada ketidakrelaan yang membuat kita memilih bertahan—bahkan ketika kita tahu, keputusan itu bisa menyeret segalanya ke arah yang lebih buruk.

 

Dialog mengesankan:

"Orang - orang selalu menginginkan yang tidak mereka miliki"

 

Ending:

Twist Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna)

 


Posting Komentar

0 Komentar