Review Film This is I (2026) - Dari Kenji ke Ai Haruna, Perjalanan Mencari Jati Diri

 

This is I | 2026 | 2h 10m
Genre : DocuDrama/Showbiz Drama/Biography/Drama/Music| Negara: Japan
Director: Yusaku Matsumoto | Writers: Masahiro Yamaura
Pemeran: Haruki Mochizuki, Tae Kimura, Seiji Chihara
IMDB: 6.2
My Rate : 7/10

Kenji menemukan jati dirinya dalam Ai Haruna, persona wanita yang ia ciptakan di kabaret tempatnya bekerja, yang kemudian mengubah cara ia memandang dan menjalani kehidupannya.

Peringatan:

Adegan kekerasan, rokok, alkohol, sensual, LGBT

 
Sinopsis :

Kenji terlahir sebagai seorang pria yang sejak kecil memiliki impian untuk menjadi idol seperti sosok yang ia kagumi. Keluarganya sempat memberikan dukungan dan membiarkannya mengekspresikan diri sesuai keinginannya. Namun di tengah masyarakat, seorang pria yang berdandan seperti wanita masih dianggap tidak wajar dan kerap menjadi bahan ejekan.

Di sekolah, Kenji sering menerima perlakuan buruk dari teman-temannya karena sikapnya yang lembut. Bahkan gurunya pun justru menyalahkan Kenji atas perundungan yang ia alami. Kehidupannya mulai berubah ketika ia bertemu dengan Aki, seorang drag queen yang bekerja di sebuah kabaret. Pertemuan itu membuka dunia baru bagi Kenji hingga akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan kabaret tersebut, meski harus menyembunyikannya dari keluarganya.

Namun perjalanan Kenji untuk memahami dirinya belum berhenti di sana. Merasa masih belum menemukan jati diri yang ia cari, Kenji meminta bantuan Koji Wada, seorang dokter bedah plastik, untuk melakukan operasi pengangkatan kelamin. Ia ingin menjadi wanita seutuhnya—bukan hanya untuk menjawab kebingungan dalam dirinya, tetapi juga untuk merasakan cinta secara utuh sebagai seorang wanita. Operasi itu pun dilakukan, meskipun Koji harus menghadapi risiko hukum atas tindakannya.

Akankah Kenji akhirnya menemukan kebahagiaan setelah perubahan besar dalam hidupnya?

 

Ulasan :

This Is I (2026) merupakan film yang diadaptasi dari dua autobiografi, yaitu kisah hidup Ai Haruna dalam buku Subarashiki, Kono Jinsei (2009) serta perjalanan Koji Wada yang tertuang dalam Penis Cutter: Sei Doitsusei Shogai wo Sukutta Ishi no Monogatari (2019). Film ini mencoba menggabungkan dua cerita besar: perjalanan terbentuknya persona Ai Haruna serta perkembangan dunia medis yang sarat kontroversi. Tema yang diangkat masih dianggap sensitif di beberapa tempat, namun pada kenyataannya merupakan bagian dari kehidupan nyata yang terus terjadi di masyarakat.

Film dibuka dengan gaya visual yang cukup estetik. Sebuah ruangan yang ramai dan penuh gemerlap perlahan menjadi hening, meninggalkan satu sosok yang duduk di depan cermin. Cara perkenalan tokoh utama terasa unik dan menarik, sebelum kemudian penonton diajak kembali ke masa lalu untuk memahami perjalanan hidup Kenji dengan berbagai dilema yang ia hadapi.

Konflik dalam cerita berkembang melalui pergulatan batin Kenji terhadap jati dirinya. Selain konflik internal tersebut, beberapa faktor eksternal juga turut memperkuat tekanan yang ia rasakan, seperti kebutuhan akan validasi dan hubungan asmara yang dijalani. Di sisi lain, tokoh Koji Wada juga menghadapi dilema yang tidak kalah berat. Sebagai seorang dokter, ia harus bergulat antara etika medis dan empatinya terhadap pasien, sebuah pilihan yang menempatkannya pada posisi yang penuh risiko.

Penyelesaian cerita secara umum terasa cukup baik. Perkembangan karakter terlihat jelas, baik dari Kenji, keluarganya, maupun orang-orang di sekitarnya. Setiap tokoh perlahan menemukan caranya masing-masing untuk berdamai dengan keadaan. Film ini juga memperlihatkan bagaimana perubahan masyarakat dalam memandang Kenji yang kini telah menjadi Ai Haruna.

Adegan tambahan yang menampilkan footage asli saat Ai Haruna memenangkan perlombaan menjadi penutup yang menarik. Meski demikian, adegan sebelumnya terasa sedikit kurang kuat, terutama ketika Ai menyampaikan statistik mengenai operasi yang telah dilakukan. Momen tersebut terasa lebih informatif daripada emosional. Akan terasa lebih mengesankan jika film menutup cerita dengan adegan Ai yang tampil di panggung sebagai simbol pencapaian perjalanan hidupnya.

Salah satu kelemahan film ini adalah ketidakjelasan fokus cerita. Kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh adaptasi yang diambil dari dua buku berbeda, sehingga film seakan berusaha memberi ruang yang sama pada keduanya. Sayangnya, hal tersebut justru membuat kedalaman cerita terasa berkurang. Akan lebih kuat jika fokus utama tetap berada pada perjalanan Ai, sementara perkembangan medis menjadi latar yang memperkuat cerita.

Selain itu, terdapat beberapa momen di mana emosi yang dibangun terasa terputus. Meskipun film ini mengusung unsur musikal, penempatan beberapa adegan lagu terasa kurang tepat sehingga emosi yang sedang berkembang tiba-tiba kehilangan pijakan. Ditambah dengan jumlah konflik yang cukup banyak dan berpindah dengan cepat, beberapa emosi karakter terasa kurang tereksplorasi secara mendalam.

Hubungan emosional antara Ai dan Koji sebenarnya memiliki potensi besar, namun sayangnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Banyak perasaan yang lebih sering disampaikan melalui dialog yang berulang, padahal akan terasa lebih kuat jika ditampilkan melalui pendekatan show, don’t tell. Motivasi Kenji untuk menjadi wanita seutuhnya juga terasa belum sepenuhnya digali, seakan ada luka yang ingin diperlihatkan tetapi tidak dijelaskan secara utuh dari mana rasa sakit itu berasal.

Di sisi lain, film ini tetap memiliki beberapa kelebihan yang patut diapresiasi. Pemilihan pemain terasa tepat, terutama karena kemiripan antara Kenji kecil dan Kenji dewasa. Bahkan ketika Haruki Mochizuki memerankan Kenji dari masa sekolah hingga dewasa, perubahan kedewasaan karakter terasa jelas baik dari penampilan maupun aura yang ditampilkan. Akting para pemain juga terasa natural dan penuh totalitas, didukung dengan penggunaan make-up yang tidak berlebihan.

Dari sisi teknis, pergerakan kamera, komposisi warna, transisi adegan, serta detail gambar ditata dengan baik sehingga menghasilkan visual yang sinematis. Musik dan lagu yang digunakan juga cukup selaras dengan ritme cerita serta makna emosi yang ingin disampaikan.

Pada akhirnya, This Is I menjadi film yang mencoba merekam perjalanan seseorang dalam menemukan dan menerima dirinya sendiri. Meski masih memiliki beberapa kekurangan dalam kedalaman cerita dan pengelolaan emosi, film ini tetap menyampaikan pesan yang kuat tentang keberanian untuk hidup sebagai diri sendiri. Perjalanan Kenji yang kemudian dikenal sebagai Ai Haruna mengingatkan bahwa proses memahami jati diri sering kali penuh luka, penolakan, dan keraguan. Namun dari perjalanan itulah lahir keberanian untuk berdiri di hadapan dunia sebagai diri yang sebenarnya.

 

Adegan yang mengesankan:  

Salah satu adegan yang mengesankan dalam This Is I terjadi saat Koji Wada mendatangi bar tempat Ai berada. Di tengah berbagai masalah yang menimpanya, Koji datang hanya untuk melihat Ai, seolah berharap dapat menemukan kembali arah hidupnya. Pada saat yang sama, Ai juga sedang berada dalam kondisi yang tidak mudah karena kesulitan mewujudkan impiannya sebagai seorang idol. Namun pertemuan singkat mereka justru menjadi sumber semangat bagi keduanya untuk kembali bangkit.

Adegan ini sebenarnya sangat sederhana. Dalam kehidupan, ada tempat atau seseorang yang selalu ingin kita datangi ketika segala hal terasa berat. Tidak selalu dibutuhkan nasihat panjang atau empati yang berlebihan. Terkadang, kehadiran seseorang saja sudah cukup menghadirkan ketenangan di dalam hati. Seolah sebagian beban yang kita bawa perlahan menghilang setelah bertemu dengannya. Sayangnya, tidak semua orang mampu menemukan tempat kembali yang nyaman seperti itu. Karena itu, jika suatu hari kita menemukannya, jagalah ia dengan baik.

 

Dialog mengesankan:

"Kau anak ibu yang berharga"

 

Ending:

Happy Ending

 
Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna Uwie)



 

 


Posting Komentar

0 Komentar