Went Up The Hill | 2024 | 1h
40m
Genre
: Fantasy/Horror/Romance/Thriller | Negara: Australia - New Zealand
Director:
Samuel Van Grinsven |
Writers: Jory Anast,
Samuel Van Grinsven
Pemeran: Vicky Krieps, Sarah Peirse,
Joel Tobeck
IMDB: 5.4
My
Rate : 7/10
Kedatangan Jack ke pemakaman Elizabeth justru menyeretnya dan Jill—kekasih sang ibu—ke dalam teror arwah yang belum rela meninggalkan mereka.
Peringatan:
Adegan
sensual, ketelanjangan, alkohol, kekerasan, kata kasar, dan bunuh diri
Sinopsis :
Jack mendatangi pemakaman ibunya,
Elizabeth, meski kehadirannya disambut dengan tanda tanya dan penolakan dari
keluarga sang ibu. Ia datang atas permintaan Jill, kekasih Elizabeth, yang
merasa tidak pernah benar-benar menghubunginya.
Tak lama kemudian, Jack dan Jill
menyadari bahwa arwah Elizabeth belum sepenuhnya pergi. Ia merasuki mereka
secara bergantian untuk berkomunikasi dan mempertahankan keterikatan yang belum
selesai. Fakta mengejutkan ternyata panggilan yang diterima Jack ternyata
berasal dari Jill yang tengah dirasuki arwah tersebut.
Kesempatan itu dimanfaatkan Jack
untuk mencari jawaban atas alasan dirinya ditinggalkan. Jill pun ingin memahami
keputusan Elizabeth mengakhiri hidupnya dan meninggalkannya. Namun semakin
dalam mereka mencari, sisi manipulatif dan abusive Elizabeth kembali muncul,
membuat keduanya mulai mempertanyakan apakah kehadirannya benar-benar sesuatu
yang mereka butuhkan.
Akankah Elizabeth akhirnya
melepaskan mereka dan membiarkan keduanya menjalani hidup masing-masing?
Ulasan :
Kepergian orang yang kita sayang
bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Kehadiran mereka, bahkan dalam wujud
arwah, sering kali menjadi cara untuk menunda rasa sakit yang seharusnya
dihadapi. Went Up The Hill karya Samuel Van Grinsven menghadirkan potret
ketidakrelaan itu, bukan hanya dari sisi yang ditinggalkan, tetapi juga dari
yang meninggalkan. Rasa tidak rela tersebut seakan mengikat, menyatukan
kembali, sekaligus menjauhkan mereka dari kenyataan.
Ide cerita film ini memadukan duka,
rasa bersalah, dan trauma dengan elemen supernatural yang memperdalam konflik
psikologis para tokohnya. Simbolisasi tentang ketidakmampuan untuk melepaskan
terasa kuat dan relevan.
Pondasi cerita dibangun dengan jelas
melalui kematian Liz yang tiba-tiba, membuka kembali luka lama tentang makna
“ditinggalkan” dan “diabaikan”. Karakter seperti Jack, Jill, dan Helen
diperkenalkan secara natural tanpa dramatisasi berlebihan. Latar belakang
mereka memang tidak dieksplorasi terlalu dalam, tetapi cukup untuk menopang
konflik yang berkembang.
Konflik dalam Went Up The Hill lebih
banyak bergerak di ranah internal tentang bagaimana mereka mengatasi perasaan
mengenai masa lalu, masa kini, dan masa depan. Liz yang merasuki mereka secara
bergantian menciptakan kehilangan yang tertunda dan rasa bersalah yang terus
dipertahankan. Ketegangan tidak meledak-ledak, melainkan hadir secara dingin,
pelan, dan menusuk.
Penyelesaian cerita menunjukkan
perkembangan karakter yang cukup jelas. Mata mereka perlahan terbuka terhadap
sisi gelap yang selama ini diabaikan. Namun, adegan akhir terasa sedikit kurang
memuaskan.
⚠️
Spoiler Alert. Adegan akhir
yang seharusnya terasa kuat sedikit kehilangan dampaknya karena pilihan lokasi
yang kurang meyakinkan. Secara emosional, keputusan mereka untuk berjalan di
jalan berbeda sudah tepat, namun perpisahan tersebut terasa kurang logis jika
tidak berakar pada ruang yang memiliki makna bagi hubungan mereka—misalnya
rumah yang selama ini menjadi pusat konflik.
Selain itu, aturan mengenai proses
rasuk juga mulai terlihat inkonsisten. Di awal, Liz hanya dapat merasuki salah
satu dari mereka ketika keduanya tertidur, tetapi menjelang akhir syarat
tersebut tidak lagi berlaku, sehingga mengurangi kekuatan logika yang
sebelumnya sudah dibangun.
Dari segi sinematik, film ini tampil
memukau. Transisi, kombinasi warna, dan pemilihan musik selaras dengan nuansa
muram yang dibangun. Akting para pemain juga terasa natural dan tidak
berlebihan. Meski begitu, keputusan untuk tidak menghadirkan sosok Liz secara
visual mungkin menjadi pedang bermata dua, karena sedikit mengurangi kedekatan
emosional penonton terhadap konflik yang terjadi.
Secara keseluruhan, Went Up The Hill
adalah film drama psikologis supernatural yang mengangkat tema duka dan
ketidakrelaan dengan pendekatan yang sunyi namun menghantam. Meski memiliki
beberapa inkonsistensi dalam eksekusi dan detail logika, film ini tetap
meninggalkan kesan melalui atmosfernya yang dingin dan konflik batin yang kuat.
Bagi penonton yang menyukai film tentang trauma, kehilangan, dan proses
melepaskan, Went Up The Hill menawarkan pengalaman yang tidak berisik, tetapi
perlahan mengendap setelah selesai ditonton.
Adegan yang mengesankan:
Salah satu adegan paling mengesankan
dalam Went Up The Hill adalah saat Jack dan Jill berusaha melepaskan kenangan
mereka tentang Elizabeth. Mereka duduk berdua dan larut dalam pelukan satu sama
lain. Kesadaran terasa seperti pukulan keras, meruntuhkan ilusi “cinta” yang
selama ini menutupi sisi gelap dan manipulatif dari Elizabeth.
Adegan ini terasa begitu dekat
dengan kenyataan, terutama bagi mereka yang sulit keluar dari hubungan yang
toxic. Bukan karena tidak menyadari luka yang ada, tetapi karena harapan terus
dilekatkan pada ilusi—bahwa seseorang akan berubah, bahwa semua dilakukan tanpa
sengaja, bahwa semuanya demi kebaikan. Padahal ilusi itu perlahan menghancurkan
dari dalam.
Dialog mengesankan:
"Apapun yang kau pikir akan kau temukan disini. Itu tidak ada."
Ending:
Happy
Ending
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna)

0 Komentar