The Master Plan (Original Title: Na
mo Naki Sekai no End Roll) | 2021 | 1h 41m
Genre
: Drama/Mystery/Thriller | Negara: Japan
Director:
Yūichi Satō |
Writers: Mitsutoshi
Saijô, Kaoru Yukinari
Pemeran: Takanori Iwata, Mackenyu,
Anna Yamada
IMDB: 6.8
My
Rate : 7/10
Kida membantu Makoto mendekati seorang wanita yang pernah menjadi klien di bengkel mereka dan ternyata merupakan anak dari politikus terkenal. Awalnya semua terlihat seperti usaha untuk mendapatkan cinta, tetapi di balik itu tersimpan rahasia kelam yang telah lama mereka pendam.
Peringatan:
Adegan
alkohol, kekerasan, kata kasar, bunuh diri
Sinopsis
Film The Master Plan:
Makoto dan Kida merupakan sahabat
kecil yang tumbuh bersama. Kehadiran Yocchi, murid pindahan yang memiliki latar
belakang serupa karena sama-sama tidak memiliki orang tua, membuat ketiganya
menjadi semakin dekat. Mereka terus bersama hingga sebuah kenyataan pahit
perlahan memisahkan hubungan tersebut.
Saat dewasa, Makoto dan Kida bekerja
di sebuah bengkel mobil. Kehidupan mereka mulai berubah ketika Lisa, anak dari
politikus terkenal, datang untuk memperbaiki mobilnya. Makoto perlahan mencoba
mendekati Lisa, bahkan berusaha mengumpulkan banyak uang demi masuk ke dalam
lingkaran kehidupan perempuan tersebut.
Di sisi lain, Kida mendapatkan
koneksi dari mantan bos bengkelnya mengenai keberadaan Makoto. Namun, jalan
yang harus ditempuh membuat Kida terjerumus ke dalam dunia gelap yang
berbahaya. Pertemuan mereka kembali justru membuat rencana pendekatan terhadap
Lisa berjalan semakin lancar.
Namun, benarkah semua itu dilakukan
atas dasar cinta?
Ulasan Film The Master Plan:
Dalam kehidupan, derajat seseorang
sering kali diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, dan besarnya
pengaruh kekuasaan yang dimiliki. Hal tersebut yang coba digambarkan dalam The
Master Plan, film yang menggabungkan kisah cinta, persahabatan, dan korupnya
dunia politik. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Kaoru
Yukinari yang dipublikasikan pada tahun 2013.
Penggabungan berbagai topik tersebut
terasa seperti kritik sosial yang menyoroti sesuatu yang sudah dianggap biasa
dalam kehidupan masyarakat. Meski disajikan dengan alur maju mundur, inti
cerita tetap terasa jelas dan mudah diikuti berkat penyajian yang sistematis.
Cerita dimulai dengan pengenalan
masa lalu masing-masing tokohnya. Pertemuan mereka perlahan membangun koneksi
emosional satu sama lain. Kehadiran Lisa juga terasa natural sekaligus
misterius, sementara perjalanan menuju konflik membuat penonton terus dipenuhi
asumsi dan pertanyaan.
Motivasi para tokohnya yang terasa
rancu menjadi inti utama pembangunan konflik. Tidak ada pertengkaran besar atau
ledakan emosi berlebihan. Semua disajikan secara halus, tetapi justru
meninggalkan kesan yang perlahan terasa semakin dalam. Konflik batin para
tokohnya juga terasa kuat, didukung dialog-dialog sederhana yang penuh
pencarian makna tentang kehidupan.
Akhir cerita terasa cukup memuaskan
dengan penyajian twist yang halus dan tidak berlebihan. Perasaan bahagia dan
sedih hadir secara bersamaan, meninggalkan kesan yang pahit namun hangat. Meski
begitu, masih ada rasa kosong yang tertinggal setelah cerita berakhir. Bukan
karena ending-nya buruk, melainkan karena penutupnya terasa terlalu tenang
untuk luka sebesar yang dibangun sepanjang cerita.
Hal menarik lain dari film ini
adalah bagaimana tema “melupakan dan terlupakan” menjadi bagian penting dalam
cerita. Sebuah tema yang terasa dekat dengan kehidupan manusia, tetapi jarang
benar-benar diperhatikan. Pada akhirnya, manusia memang ingin diingat, meski
waktu perlahan akan membuat semua orang menjadi kenangan bagi orang lain.
Dari sisi penyajian, perpindahan
antara masa lalu dan masa kini dilakukan dengan halus dan mudah dipahami.
Perbedaan warna di tiap timeline membantu penonton mengikuti perubahan waktu
dengan jelas. Menariknya lagi, versi muda dan dewasa dari karakter utama
memiliki kemiripan wajah yang cukup natural sehingga terasa menyatu.
Akting para pemain terasa natural
dengan chemistry yang terbangun baik. Perubahan kepribadian para tokohnya dari
remaja hingga dewasa juga terlihat jelas meski diperankan oleh aktor yang sama.
Dialog yang digunakan tidak terasa berat, tetapi tetap menyimpan makna tentang
kehidupan. Pemilihan musik, pengambilan gambar, dan detail-detail kecil lainnya
juga mendukung suasana cerita dengan baik.
Meski demikian, film ini tetap
memiliki kekurangan. Dengan fondasi cerita yang kuat, eksplorasi emosi tokohnya
terasa belum sepenuhnya mendalam. Cerita yang lebih banyak berpusat pada sudut
pandang Kida membuat perasaan Makoto terasa sedikit tertahan di permukaan.
Padahal, jika penonton juga diajak melihat dunia melalui sudut pandang Makoto,
luka yang ditinggalkan mungkin akan terasa lebih membekas.
Pada akhirnya, The Master Plan bukan
hanya tentang rahasia, politik, atau hubungan antar tokohnya, tetapi juga
tentang manusia yang takut dilupakan dan terus mencari makna dari
keberadaannya. Film ini menyajikan konflik dengan cara yang tenang tanpa perlu
banyak ledakan emosi, tetapi justru meninggalkan rasa hampa yang perlahan
menetap setelah cerita berakhir. Sebuah cerita pahit tentang ambisi,
kehilangan, dan bagaimana seseorang terkadang rela mengorbankan banyak hal
hanya agar dirinya tetap memiliki arti di hidup orang lain.
Adegan yang mengesankan:
Sebuah adegan yang menyayat secara
perlahan. Perasaan yang tidak lagi bisa diutarakan karena orang yang diharapkan
telah tiada. Makoto menceritakan kepada Kida betapa besarnya rasa ingin tahunya
terhadap reaksi Yaochi saat menerima cincin pemberiannya. Namun, keinginan itu
tidak pernah terwujud karena Yaochi meninggal sebelum cincin tersebut sempat
diberikan.
Kehilangan, terlebih yang datang
secara tiba-tiba, sering kali meninggalkan kehampaan yang sulit dijelaskan.
Banyak rencana dan impian runtuh dalam sekejap, sementara dunia tetap berjalan
seperti biasa. Waktu seakan berhenti hanya bagi orang yang ditinggalkan. Karena
itulah adegan ini terasa begitu menyentuh, bahkan tanpa perlu banyak kata.
Dialog mengesankan:
"Karena 99% orang yang membuat ini berputar adalah pembohong"
Ending:
Bittersweet
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna
Uwie)

0 Komentar