Review Film Melancholy (2021) - Trauma, Keluarga Ideal, dan Dongeng Cinderella yang Kelam


 

Melancholy (Original title: Aishû Cinderella) | 2021 | 1h 54m
Genre : Crime/Drama/Mystery | Negara: Japan
Director: Ryôhei Watanabe | Writers: Rikako Akiyoshi, Ryôhei Watanabe
Pemeran: Tao Tsuchiya, Kei Tanaka, Coco
IMDB: 6.0
My Rate : 8/10

Koharu merasa hidupnya semakin berantakan setelah berbagai kemalangan terus datang silih berganti, hingga seorang pria hadir dan seakan menjadi tempat pelarian dari luka yang selama ini dipendamnya. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak semanis yang sering digambarkan dalam cerita dongeng.

Peringatan:

Adegan kekerasan, kata kasar, sensual, ketelanjangan

 

Sinopsis Film Melancholy :

Koharu tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, hanya bersama ayah, kakek, dan adiknya setelah ibunya memutuskan pergi saat dirinya masih kecil. Kini, dirinya bekerja di bidang yang berkaitan dengan kehidupan anak dan orang tua.  Trauma tersebut membuat Koharu tumbuh dengan tekad untuk memutus rantai luka yang pernah dialaminya dan tidak membiarkan anak lain merasakan hal yang sama.

Kehidupannya berubah dalam semalam. Amarah atasannya karena sikap arogan Koharu, kebakaran yang melanda rumahnya, kakeknya yang jatuh sakit, kecelakaan yang dialaminya bersama sang ayah, hingga pengkhianatan kekasihnya dengan senior di tempat kerja datang bertubi-tubi tanpa memberi ruang untuk bernapas. Di tengah titik terendahnya, Koharu tanpa sengaja bertemu dengan Daigo yang terbaring di rel kereta saat kereta semakin mendekat. Setelah pergolakan batin yang panjang, Koharu akhirnya memilih menyelamatkannya.

Pertemuan itu perlahan membawa kehangatan baru dalam hidup Koharu. Daigo bersama anaknya, Hikari, menghadirkan bayangan tentang keluarga yang selama ini tidak pernah dimilikinya. Dengan harapan tersebut, Koharu mencoba menerima peran sebagai ibu yang selama ini ia bayangkan. Namun, bayangan itu perlahan runtuh saat kenyataan mulai menunjukkan wajah aslinya.

Akankah Koharu mampu menjadi orang tua seperti yang selama ini ia harapkan?

 

Ulasan Film Melancholy:

Ibu tiri sering kali identik dengan sosok jahat yang menindas. Namun, bagaimana jika kenyataannya justru sebaliknya? Ide tersebut yang coba diangkat dalam Melancholy. Koharu, dengan latar belakang traumanya, berusaha menjadi sosok ibu tiri yang sempurna. Sayangnya, “Cinderella” dalam hidupnya tidak sebaik yang terlihat dan perlahan membuat Koharu kesulitan membedakan benar dan salah.

Topik yang diangkat terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang tumbuh dengan trauma masa kecil dan berusaha memutus rantai tersebut agar tidak terulang kembali. Namun, memutus trauma bukan perkara mudah. Tekad saja terkadang tidak cukup, karena luka lama sering kali menarik seseorang kembali ke dalamnya. Harapan tentang keluarga ideal pun perlahan berubah menjadi kekecewaan yang membuat seseorang memilih menutup mata demi bertahan.

Film dibuka dengan adegan yang merepresentasikan judulnya, yaitu Cinderella. Koharu dengan nuansa misterius mengenakan gaun biru dan sepatu “kaca” sambil berjalan di koridor sekolah. Adegan pembuka ini kemudian menjadi bagian penting dari akhir cerita.

Menariknya, film ini tidak memiliki keterhubungan langsung dengan dongeng Cinderella yang selama ini dikenal. Koharu justru ditempatkan pada dua posisi sekaligus: sebagai Cinderella dan sebagai ibu tiri dari Cinderella itu sendiri. Dengan beban hidup yang dimilikinya, kehadiran sosok “pangeran” terasa seperti jalan keluar. Namun, apakah sosok tersebut benar-benar membawa kebahagiaan, atau justru perlahan mengubah Koharu menjadi sosok yang selama ini ia takuti?

Pembangunan karakter dilakukan dengan baik. Sosok Daigo yang terlihat sempurna perlahan memperlihatkan sisi lain dirinya melalui detail-detail kecil yang menarik. Begitu pula dengan Hikari yang begitu menggemaskan, seolah memberi makan harapan dan ilusi Koharu tentang keluarga bahagia yang selama ini diinginkannya.

Konflik berkembang secara perlahan melalui adegan-adegan sederhana. Permasalahan yang muncul terasa memainkan psikologis para karakter sekaligus penonton. Bayangan tentang kehidupan ideal perlahan runtuh dan membuat para tokohnya mulai mempertanyakan kembali kepercayaan yang selama ini mereka genggam.

Akhir cerita mungkin terasa berbeda dari gambaran ideal kebanyakan film. Jika biasanya ketidaksempurnaan berubah menjadi kebahagiaan di akhir, Melancholy justru membiarkan ketidaksempurnaan itu tetap hidup demi mempertahankan makna “ideal” versi para karakternya. Sedikit tidak nyaman, tetapi justru meninggalkan kesan yang cukup kuat.

Akting para pemain terasa natural dan seimbang. Chemistry antar tokohnya juga terbangun dengan baik, terutama melalui perubahan emosi Koharu yang terlihat perlahan namun jelas.

Dari sisi teknis, pengambilan gambar, transisi, hingga komposisi warna dilakukan dengan baik. Pemilihan musik juga mendukung emosi di tiap adegan. Detail-detail kecil seperti obat nyamuk, insulin, atau kotak pensil disajikan secara natural. Terlihat sederhana, tetapi diam-diam memiliki peran penting dalam cerita.

Meski demikian, film ini mungkin tidak akan terasa nyaman bagi semua orang. Ada rasa asing ketika film mulai mempertanyakan kembali gambaran “ideal” yang selama ini dipercaya, seolah memaksa penonton melihat bahwa tidak semua luka dapat disembuhkan dengan cara yang indah. Hal ini yang kemungkinan besar berpengaruh pada rendahnya nilai ulasan pada IMDB.

Pada akhirnya, Melancholy bukan sekadar cerita tentang keluarga atau trauma masa kecil, tetapi tentang bagaimana seseorang berusaha mempertahankan bayangan kehidupan ideal di tengah kenyataan yang perlahan menghancurkannya. Film ini mungkin tidak memberikan kenyamanan seperti dongeng pada umumnya, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ada rasa pahit, tidak nyaman, dan sunyi yang tertinggal setelah cerita berakhir, seolah mengingatkan bahwa menjadi “baik” dan “bahagia” tidak selalu sesederhana yang selama ini dibayangkan.

 

Adegan yang mengesankan:  

Sebuah adegan sederhana yang menyimpan rasa pahit yang kompleks. Trauma yang berusaha diputus oleh Koharu ternyata kembali terulang dalam hidupnya. Tindakan yang selama ini begitu dibencinya, justru harus ia lakukan ketika dirinya dianggap tidak layak menjadi seorang ibu dan dipaksa meninggalkan Hikari. Kenangan tentang ibunya yang dulu meninggalkannya pun kembali muncul, seakan membuat Koharu perlahan memahami alasan di balik keputusan tersebut.

Ada banyak hal yang kita benci saat masih kecil karena kita belum benar-benar memahami dunia orang dewasa. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa diri kita tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Namun saat dewasa, kehidupan sering kali membawa kita pada keadaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, hingga akhirnya membuat kita sadar bahwa beberapa keputusan tidak sesederhana benar atau salah.

 

Dialog mengesankan:

"Masa depan seorang anak, selalu tergantung pada usaha ibunya"

 

Ending:

Bittersweet Twist Ending

 

Rekomendasi:

Worth to watch

 

(Aluna Uwie)

 

 

Posting Komentar

0 Komentar