The
Platform selalu berhasil membuat penonton merenungkan ketimpangan, egoisme,
dan cara manusia memperlakukan sesamanya ketika sumber daya menjadi terbatas. Melalui dua filmnya, The Platform
(2019) dan The Platform 2 (2024), waralaba ini memperluas gagasan
tersebut dengan sudut pandang yang berbeda, namun tetap berpusat pada
pertanyaan yang sama: bagaimana sebuah sistem mampu mengubah perilaku manusia?
Di dunia The Platform, bertahan hidup tidak lagi sekadar soal keberuntungan, melainkan
tentang seberapa jauh seseorang bersedia "memakan" atau bahkan
"membunuh" demi mempertahankan posisinya.
Film
pertama memperlihatkan bagaimana kelangkaan sumber daya melahirkan egoisme,
sementara film kedua memperluas persoalan tersebut dengan menunjukkan bagaimana
aturan, ideologi, dan kekuasaan dapat sama kejamnya. Keduanya menghadirkan
sebuah laboratorium sosial yang menguji batas moral manusia. Kerakusan,
pengkhianatan, hingga kekerasan tidak muncul begitu saja, melainkan sebagai respons
terhadap sistem yang menempatkan manusia dalam persaingan ekstrem.
Yang
menarik, situasi seperti ini tidak sepenuhnya asing dalam kehidupan nyata.
Persaingan di dunia kerja, politik, maupun ekonomi sering kali mendorong orang
untuk saling menjatuhkan demi bertahan atau mencapai posisi yang lebih tinggi.
Tidak semua orang akan melakukan tindakan ekstrem, tetapi tekanan dari sebuah
sistem dapat perlahan mengikis empati dan membuat perilaku yang sebelumnya
dianggap tidak bermoral terasa wajar.
Yang
paling mengganggu dari kedua film ini bukanlah adegan kekerasannya, melainkan normalisasi kekejaman.
Membunuh, mengambil hak orang lain, atau mengorbankan sesama demi bertahan
hidup perlahan dipandang sebagai strategi yang rasional. Di titik inilah kedua
film tersebut mengajukan pertanyaan yang sama: sejauh mana manusia bersedia
mengorbankan nilai moral ketika sistem yang ada justru memberi penghargaan
kepada mereka yang paling kejam?
Selain
kritik sosial, kedua film ini juga menghadirkan pertanyaan filosofis mengenai
tanggung jawab individu. Apakah manusia hanyalah produk dari sistem yang
membentuknya, atau tetap memiliki kebebasan untuk memilih jalan yang lebih
manusiawi? The Platform tidak memberikan jawaban yang sederhana. Sebaliknya, ia
menunjukkan bahwa meskipun sistem mampu mendorong seseorang menuju kekerasan,
pilihan moral tetap selalu ada, meski sering kali menuntut pengorbanan yang
besar.
Pada
akhirnya, The Platform bukan sekadar waralaba horor atau thriller distopia. Kedua
filmnya menjadi cermin yang menyakitkan tentang masyarakat yang dipenuhi
ketimpangan, persaingan, dan perebutan sumber daya. Namun, di balik gambaran
yang kelam tersebut, keduanya juga mengingatkan bahwa sistem yang kejam tidak
harus sepenuhnya menentukan siapa diri kita. Empati, solidaritas, dan
keberanian untuk tetap memegang nilai kemanusiaan menjadi bentuk perlawanan
terhadap dunia yang terus mendorong manusia untuk saling "memakan".
Melalui dua film ini, The Platform meninggalkan satu refleksi yang relevan bagi kehidupan nyata: ketika dunia mengajarkan bahwa bertahan hidup berarti mengorbankan orang lain, mungkin justru kemampuan untuk tetap mempertahankan kemanusiaanlah yang menjadi bentuk kemenangan terbesar.
(Aluna Uwie)
Review The Platform (2019)
Review The Platform 2 (2024)

0 Komentar