10 Dance | 2025 | 2h 6m
Genre
: Costume Drama/Drama/Romance | Negara: Jepang
Director:
Keishi Otomo |
Writers: Satoh Inoue,
Keishi Otomo, Tomoko Yoshida
Pemeran: Ryoma Takeuchi, Keita
Machida, Shiori Doi
IMDB: 7.1
My
Rate : 7/10
Shinya Sugiki dan Shinya Suzuki, mencoba saling mempelajari gaya tari yang menjadi keahlian mereka untuk dapat bertanding dalam kompetisi yang memperlombakan 10 tarian di dalamnya. Hubungan yang berawal dari persaingan berubah saat rasa yang kompleks berada di antara mereka.
Peringatan:
Terdapat
adegan ketelanjangan, sensual, kekerasan, rokok, alkohol, dan tema LGBT
Sinopsis :
Sugiki dan Suzuki sama-sama dikenal
sebagai pemenang dalam dunia kompetisi tari, namun berada di jalur yang
berbeda. Suzuki unggul dalam Latin Dance, sementara Sugiki, yang lebih senior,
menguasai Standard Ballroom. Kesamaan nama dan marga “Shinya” membuat mereka
kerap disandingkan oleh penonton, meski kemampuan dan gaya mereka bertolak
belakang.
Demi mewujudkan ambisinya menjuarai
kejuaraan 10 Dance—sebuah gelar yang selalu luput darinya—Sugiki mengajak
Suzuki bekerja sama. Ia menawarkan pertukaran: penguasaan Latin Dance dari
Suzuki, dan pembelajaran Standard Ballroom darinya. Bagi Suzuki, tawaran ini
bukan hanya soal latihan, tetapi juga tentang menghadapi rival yang selama ini
ia anggap sebagai penghalang.
Hubungan yang diawali dengan
ketegangan perlahan berubah seiring latihan yang intens. Di antara langkah,
irama, dan kelelahan, keduanya mulai memahami bahwa tarian tidak hanya dibentuk
oleh teknik, tetapi juga oleh perasaan dan kepercayaan. Saat batas antara
kompetisi dan kedekatan mulai kabur, keduanya harus memilih: mengejar
kemenangan semata, atau membiarkan tarian itu hidup dengan cara yang tak pernah
mereka bayangkan sebelumnya.
Akankah mereka mampu meraih impian
yang selama ini dikejar—dan apa yang harus mereka korbankan untuk itu?
Ulasan :
Cinta yang dituangkan sepenuh hati
ke dalam setiap gerak dan pilihan hidup akan memberi makna lebih dari sekadar
hasil yang terlihat. Gagasan inilah yang menjadi napas utama 10 Dance, film
adaptasi dari manga karya Satoh Inoue, yang memperlihatkan bagaimana tarian
bukan hanya soal keindahan visual, melainkan tentang perasaan yang mengalir di
baliknya. Dalam perjalanan para Shinya, tarian menjadi medium pencarian—tentang
kekosongan, ambisi, dan kebutuhan untuk terhubung.
Pondasi cerita dibangun melalui dua
karakter yang bertolak belakang. Sugiki tampil dingin, terkontrol, dan elegan,
selaras dengan Standard Ballroom yang ia kuasai. Sebaliknya, Suzuki hadir
dengan sikap lebih liar dan emosional, mencerminkan Latin Dance yang penuh
gairah. Film ini dengan halus mempertanyakan: apakah tarian membentuk
kepribadian mereka, atau justru kepribadian itulah yang sejak awal menuntun
mereka pada jenis tarian tertentu?
Narasi tentang penyatuan dua
disiplin tari ke dalam kompetisi 10 Dance menjadi pondasi kuat pertemuan dan
kolaborasi mereka. Di titik ini, cerita seolah menegaskan bahwa Sugiki dan
Suzuki hanya bisa mendekati kesempurnaan saat saling melengkapi—baik secara
teknis maupun emosional. Namun, kesempurnaan tersebut tidak datang tanpa harga.
Konflik berkembang perlahan, tidak
hanya dari ambisi untuk menjadi yang terbaik, tetapi juga dari perasaan yang
tumbuh di luar batas yang seharusnya. Relasi yang awalnya dibangun atas dasar
rivalitas mulai goyah, memengaruhi fokus, ego, dan bahkan makna dari tarian itu
sendiri. Kegundahan ini menjadi bagian penting dari pencarian jati diri
masing-masing tokoh.
Akhir cerita memberikan perkembangan
karakter yang cukup jelas. Suzuki memilih untuk tidak lagi melarikan diri dari
kegagalannya, sementara Sugiki akhirnya menyadari kekosongan dalam tariannya
dan berusaha mengisinya. Meski demikian, penutup film terasa kurang menggigit
secara emosional, seakan berhenti satu langkah sebelum mencapai momen yang
benar-benar membekas.
Sayangnya, di balik ide cerita yang
kuat, terdapat sejumlah detail yang luput dan menimbulkan kerancuan. Latar
tempat terasa ambigu—nuansa Jepang tidak benar-benar hadir, baik dari lokasi,
interaksi sosial, maupun atmosfer—sehingga film terkesan dipaksakan menjadi
“global” tanpa identitas ruang yang jelas. Akting para pemain pun terasa kaku;
meski chemistry cukup terbangun, karakter yang ditampilkan kurang memiliki
kedalaman emosional. Hal serupa terjadi pada adegan tari yang seharusnya
memukau, namun tidak sepenuhnya meyakinkan untuk level penari pemenang.
Beberapa pilihan adegan juga
mengganggu kelogisan cerita, seperti obsesinya Sugiki yang digambarkan berlatih
tari di mana pun tanpa konteks ruang dan waktu, hingga keputusan mendadak dalam
kompetisi internasional yang terasa mengabaikan aturan. Adegan keintiman di
ruang publik pun dilewatkan tanpa reaksi lingkungan sekitar, membuat dunia film
terasa kurang hidup dan kurang konsekuen terhadap tindakannya sendiri.
Meski demikian, 10 Dance bukanlah
film tanpa kelebihan. Alur disusun rapi dan mudah diikuti, konflik emosional
terbangun dengan cukup baik, serta aspek teknis seperti pengambilan gambar,
pencahayaan, dan pergerakan kamera terasa selaras dengan tempo musik. Ritme
yang cenderung lambat tetap terasa hidup berkat variasi musik yang menyertai
perjalanan cerita.
Pada akhirnya, 10 Dance adalah film
dengan hati yang tepat, namun langkah yang belum sepenuhnya mantap. Ia memiliki
tema yang matang tentang cinta, tubuh, dan kekosongan, tetapi kerap tersandung
oleh detail yang diabaikan dan emosi yang tidak digali hingga tuntas. Sebuah
karya yang menarik untuk direnungkan, meski belum sepenuhnya mampu menari
dengan bebas seperti yang ingin disampaikannya.
Adegan yang mengesankan:
Setelah mendengar pengakuan Sugiki
tentang kehidupannya dan rahasia yang selama ini ia simpan rapat, Suzuki
memilih untuk tidak menghakimi. Ia mengatakan bahwa Sugiki tidak perlu berubah,
bahwa dirinya boleh tetap menjadi sosok yang dingin dan kelam seperti Grim
Reaper. Namun dengan tenang, Suzuki menambahkan satu hal: ia akan menjadi
malaikat yang melindunginya.
Adegan ini menunjukkan bahwa cinta
yang tulus tidak lahir dari tuntutan untuk berubah, melainkan dari kesediaan
untuk menerima. Mencintai berarti hadir tanpa memaksa, menjaga tanpa menguasai.
Meski demikian, penerimaan bukan alasan untuk berhenti bertumbuh. Upaya menjadi
lebih baik tetap perlu dilakukan—bukan demi memenuhi harapan orang lain, tetapi
sebagai bentuk tanggung jawab pada diri sendiri.
Dialog
mengesankan:
"Dance is neither about technique nor stamina. Love is what makes it whole."
Ending:
Cliffhanger
Rekomendasi:
Worth
to watch
(Aluna)

0 Komentar