Review Film Be With You (2004) - Satu Musim untuk Mengucap Selamat Tinggal

 

Be With You (Original title: Ima, ai ni yukimasu) | 2004 | 1h 59m
Genre : Drama/Fantasy/Romance | Negara: Jepang
Director: Nobuhiro Doi| Writers: Takuji Ichikawa, Yoshikazu Okada
Pemeran: Yûko Takeuchi, Shidô Nakamura, Akashi Takei
IMDB: 7.8
My Rate : 9/10

Takumi dan anaknya, Yuji, dikejutkan dengan kehadiran istrinya, Mio, yang telah meninggal setahun yang lalu saat musim hujan datang sesuai dengan janji yang pernah diucapkan istrinya. Meski kenangan mengenai kehidupan dan kebahagiaan mereka tidak ada di dalam ingatan Mio.

 

Peringatan:

Adegan sensual dan ketelanjangan

 
Sinopsis :

Yuji menerima kue ulang tahun terakhir dari toko langganan ibunya. Hari itu, kenangan tentang Mio kembali hadir—kenangan yang begitu indah hingga terasa mustahil pernah nyata.

Mio telah meninggal karena penyakit, meninggalkan Yuji dan Takumi dalam duka yang tak selesai. Keluarga besar menyalahkan Yuji atas kematian ibunya, seakan keberadaannya menjadi penyebab penderitaan Mio. Tekanan tersebut membuat Yuji tenggelam dalam rasa bersalah, sementara Takumi terjebak antara penyesalan dan ketidakmampuannya melindungi keluarganya.

Sebelum pergi, Mio pernah berjanji akan kembali setahun kemudian, di musim hujan. Yuji menggenggam janji itu dengan keyakinan penuh, sementara Takumi, meski tak sepenuhnya percaya, diam-diam tetap berharap. Hingga suatu hari, Mio benar-benar muncul kembali.

Kebahagiaan bercampur kebingungan menyelimuti mereka. Mio yang kembali tak memiliki ingatan tentang keluarga yang ditinggalkannya, seolah menjadi sosok yang berbeda. Yuji dan Takumi berusaha menghidupkan kembali kenangan lama, menikmati kebersamaan yang rapuh, sembari menyadari bahwa waktu sekali lagi berjalan menuju perpisahan.

Apakah Mio yang kembali benar-benar sosok yang mereka rindukan, atau hanya bayangan dari kenangan yang ingin mereka pertahankan?

 

Ulasan :

Kematian orang yang kita cintai sering kali meninggalkan luka yang tak hanya dalam, tetapi juga sunyi. Terlebih ketika orang-orang di sekitar tanpa sadar menjadikan kita bagian dari alasan kepergian tersebut. Namun, harapan untuk bertemu sekali lagi—meski hanya sebentar—dapat menjadi cahaya kecil yang memberi alasan untuk terus hidup. Be With You, adaptasi dari novel Ima, Ai ni Yukimasu karya Takuji Ichikawa, merangkum perasaan itu dalam kisah yang lembut, imajinatif, dan menyayat secara bersamaan.

Film dibuka dengan suasana sendu dan dreamy. Sekilas kenangan manis antara Yuji dan ibunya di masa lalu menjadi pondasi emosional yang kuat sebelum cerita bergerak maju. Transisi yang halus membawa penonton masuk ke ingatan tersebut sekaligus memperkenalkan tokoh-tokoh penting: Mio, Takumi, dan Yuji. Sejak awal, film ini sudah menempatkan kenangan sebagai pusat narasinya.

Pembangunan cerita dilakukan dengan rapi melalui simbol-simbol kecil yang disisipkan perlahan—hujan, buku cerita, hingga dialog-dialog sederhana. Semua elemen ini bekerja sebagai petunjuk akan arah cerita, memberi gambaran tanpa merusak misteri yang disimpannya. Penonton diajak memahami, bukan diberi penjelasan secara gamblang.

Alih-alih menonjolkan konflik besar, Be With You memilih bermain di wilayah yang lebih rapuh: dilema batin para tokohnya. Ketakutan Yuji akan kehilangan, penyesalan Takumi atas masa lalu, dan ketidakrelaan Mio untuk pergi berpadu menjadi rangkaian emosi yang menyakitkan sekaligus indah. Rasa-rasa itu hadir sebagai kontradiksi—melukai, namun berharga.

Penyelesaian cerita disajikan dengan tenang tetapi menghantam. Jawaban atas berbagai pertanyaan muncul perlahan, dibarengi sudut pandang tokoh yang berbeda-beda. Adegan akhirnya nyaris mustahil ditonton tanpa air mata, bukan karena manipulasi emosi, melainkan karena kejujuran perasaannya.

Sebagai cerita yang bersinggungan dengan perjalanan waktu, tentu ada potensi ketidakselarasan logika. Namun dalam film ini, hal tersebut tidak terasa mengganggu. Emosi dan makna yang disampaikan tetap utuh dan konsisten, membuat aspek logika menjadi sesuatu yang bisa dikesampingkan.

Akting para pemain tampil natural dengan chemistry yang terasa hangat. Keselarasan antara pemeran versi remaja dan dewasa terlihat meyakinkan. Dukungan visual—mulai dari pencahayaan, detail gambar, hingga musik—membantu menciptakan suasana magis yang lembut dan menenangkan.

Dengan ritme yang lambat, Be With You memberi ruang bagi penonton untuk benar-benar menyelami setiap emosi. Perlambatan ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang membuat kisahnya meresap perlahan.

Pada akhirnya, Be With You adalah kisah tentang perpisahan dan kesempatan kedua. Tentang penyesalan yang tak pernah benar-benar selesai, dan cinta yang tidak memaksa untuk bertahan. Film ini mengingatkan bahwa menerima dan melepaskan bukan berarti melupakan—melainkan cara paling manusiawi untuk terus hidup, meski dengan luka yang tetap tinggal.

 

Adegan yang mengesankan:  

Mengetahui waktunya yang tidak lama lagi, Mio menemui Nagase, rekan kerja Takumi yang menaruh perasaan padanya. Percakapan yang terlihat biasa tersebut sebenarnya penuh dengan makna. Mio meminta pada Nagase untuk menjaga Takumi dan Yuji setelah kepergiannya. Namun, sorot mata dan keinginan Mio yang terdalam tidak dapat mengkhianati, ada rasa tidak rela melihat wanita lain merawat orang yang disayanginya.

Adegan ini memperlihatkan bentuk cinta yang matang sekaligus rapuh. Mio tidak ingin Takumi terjebak dalam duka yang berkepanjangan, ia memilih mendoakan kebahagiaan baru bagi orang yang dicintainya, meski itu berarti mengizinkan dirinya tergantikan. Di sinilah keindahannya sekaligus kepedihannya: cinta tidak selalu tentang memiliki, tetapi tentang keberanian melepaskan—bahkan ketika hati sendiri belum sepenuhnya siap.

 
Dialog mengesankan:

"Andaikan mungkin aku akan selalu berada disisimu selamanya"

 

Ending:

Bittersweet Ending

 

Rekomendasi:

Must Watch

 

(Aluna)

 


Posting Komentar

0 Komentar