Review Film Best Wishes to All (2024) - Doa Baik yang Tidak Pernah Tulus

 

Best Wishes to All (Original title: Mina ni ko are) | 2024 | 1h 29m
Genre : Folk Horror/Psychological Horror/Horror/Mystery | Negara: Jepang
Director: Yûta Shimotsu | Writers: Rumi Kakuta, Yûta Shimotsu
Pemeran: Masashi Arifuku, Kotone Furukawa, Aine Hara
IMDB: 6.1
My Rate : 6/10

Seorang wanita, meski terasa enggan, kembali ke kampung halamannya untuk mengunjungi kakek dan neneknya. Rahasia kelam yang sebenarnya dicoba untuk diabaikan kembali ke permukaan dan membawa kebimbangan akan kehidupan yang dijalaninya.

 

Peringatan:

Terdapat adegan kekerasan

 

Sinopsis :

Seorang wanita kembali ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun pergi, berniat menemui kakek dan nenek yang lama tak ditemui. Rumah tua itu menyambutnya dengan kehangatan yang hampir terasa terlalu tenang. Namun di balik ketenangan tersebut, tersimpan kenangan masa kecil yang selama ini ia kubur—pengalaman mengerikan yang membuatnya tidak ingin kembali.

Awalnya, segalanya tampak normal. Senyum keluarga, sapaan warga, dan pertemuan dengan seorang teman lama yang membangkitkan nostalgia. Tetapi perlahan, kejanggalan mulai terasa. Sikap aneh keduanya dan rahasia kecil yang seolah sengaja disembunyikan darinya.

Semua berubah ketika ia melihat seorang pria asing di rumah itu—dengan mata dan mulut terjahit rapat. Yang lebih mengerikan, kakek dan neneknya sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut, seolah kehadiran makhluk tersebut adalah bagian dari keseharian mereka. Dalam ketakutan dan kebingungan, wanita itu meminta bantuan teman lamanya untuk membebaskan pria tersebut, tanpa menyadari bahwa tindakannya justru membuka pintu bagi bencana yang jauh lebih mengerikan.

Sebenarnya, rahasia apa yang selama ini dijaga oleh desa itu—dan kesalahan apa yang telah ia lepaskan tanpa sengaja?

 

Ulasan :

Bayangkan jika keberuntungan dan kebahagiaan yang kita rasakan ternyata lahir dari ketidakberuntungan yang harus dipikul oleh orang lain. Seolah kebahagiaan adalah sesuatu yang terbatas—tidak bisa dimiliki semua orang, dan hanya dapat diraih dengan mengorbankan pihak lain. Gagasan inilah yang berusaha disampaikan oleh Best Wishes to All, sebuah film panjang yang dikembangkan dari film pendek berjudul sama, pemenang penghargaan pada tahun 2021.

Perbedaan antara versi pendek dan versi film panjang terasa cukup signifikan, baik dari segi alur maupun atmosfer. Sayangnya, pengembangan ini tidak sepenuhnya berhasil menutup kelemahan yang sebelumnya sudah ada. Alih-alih memperdalam cerita, film ini justru meninggalkan lebih banyak pertanyaan dan beban naratif yang tak kunjung terjawab.

Perubahan paling terasa hadir sejak awal film. Dalam versi pendek, tokoh wanita datang ke rumah kakek dan neneknya dengan perasaan bahagia dan penuh antusiasme. Kontras inilah yang membuat keterkejutan saat rahasia mulai terungkap terasa begitu efektif.

Sebaliknya, versi film panjang langsung menampilkan tokoh utama sebagai sosok yang enggan dan dipenuhi ketakutan. Dialog dengan orang tuanya, ekspresi wajah yang tegang, hingga kilasan memori kelam masa kecilnya menghilangkan elemen kejutan yang sebelumnya menjadi kekuatan utama cerita.

Konflik kemudian berkembang perlahan melalui gangguan suara dari ruangan terkunci, sikap aneh kakek dan neneknya, perilaku penduduk desa, hingga kemunculan sosok tersembunyi yang mengerikan. Semua elemen ini membawa tokoh utama ke dalam dilema antara ketidaktahuan, rasa takut, dan sisi kemanusiaannya.

Penyelesaian cerita masih dapat diterima, meski terasa acak dan kurang mengikat. Perubahan karakter tokoh utama cukup terlihat—ia perlahan berdamai dengan kenyataan yang mengerikan tersebut. Sebuah akhir yang suram dan mengenaskan, namun terasa kurang menggugah.

Padahal, versi film pendek telah memiliki pondasi cerita yang kuat dan menggugah. Ekspektasi pun wajar jika meningkat saat kisah ini dikembangkan menjadi film panjang. Sayangnya, eksekusi yang dilakukan belum mampu memenuhi potensi tersebut. Latar belakang tokoh yang sebelumnya samar tidak mendapatkan pendalaman berarti, meski sebenarnya bisa menjadi elemen psikologis yang menarik.

Keunikan versi pendek—di mana rahasia tersebut terasa eksklusif dan intim dalam lingkup keluarga—berubah menjadi ritual yang dilakukan satu desa. Perubahan ini seharusnya membuka sudut pandang baru, namun justru kembali dibiarkan tanpa penjelasan yang memadai. Dialog-dialog yang ada pun gagal memberi konteks atau makna tambahan.

Karakter tokoh utama juga kehilangan ketajamannya. Dalam film pendek, ia digambarkan sebagai sosok yang perlahan terpecah secara mental, bahkan mendekati psikosis saat harus menerima kenyataan pahit. Adegan narasi yang menghantui dan menjadi ciri khas versi pendek pun absen, padahal itulah salah satu kekuatan emosionalnya.

Kelemahan lain terasa pada alur cerita yang kurang mengalir. Transisi antar adegan terasa patah, dengan banyak momen kosong yang tidak memperkaya makna. Padahal, pesan yang diusung film ini memiliki kedalaman moral yang kuat. Akan jauh lebih efektif jika kerangka cerita dan karakter dari film pendek dipertahankan, lalu dikembangkan dengan lebih matang.

Pada akhirnya, Best Wishes to All adalah film dengan gagasan moral yang kuat, namun belum sepenuhnya berhasil mewujudkannya dalam bentuk cerita yang utuh dan menggugah. Alih-alih memperdalam trauma, karakter, dan makna di balik teror yang dihadirkan, film ini justru terasa ragu dalam menentukan arah, sehingga potensi besarnya tereduksi oleh eksekusi yang kurang matang. Meski tetap menyisakan keresahan dan pertanyaan tentang harga sebuah kebahagiaan, film ini lebih terasa sebagai pengingat akan kekuatan versi pendeknya—bahwa terkadang, kesunyian dan kesederhanaan justru mampu menyampaikan horor yang jauh lebih dalam.

 

Adegan yang mengesankan:  

Ini adalah adegan yang sunyi namun mengguncang. Tokoh utama wanita kembali bertemu dengan remaja yang pernah ia selamatkan dari perundungan. Dalam pertemuan itu, remaja tersebut menyadari tujuan tersembunyi sang wanita—pencarian pengganti tumbal bagi keluarganya. Tanpa ragu, ia menawarkan dirinya sendiri, seolah keputusan itu telah lama ia persiapkan.

Adegan ini memperlihatkan kehancuran mental yang nyaris tak bersuara. Di permukaan, remaja itu berbicara tentang kebahagiaan dan penerimaan, tentang bagaimana ia telah berdamai dengan perundungan yang menimpanya. Namun di balik kata-kata itu, tersimpan kelelahan yang begitu dalam. Keinginannya menjadi tumbal bukanlah pengorbanan mulia, melainkan bentuk keputusasaan—upaya terakhir untuk melarikan diri dari hidup yang tak lagi ingin ia jalani.

 
Dialog mengesankan:

"Manusia bertarung satu sama lain untuk kebahagiaan yang terbatas itu."

 

Ending:

Sad Ending

 

Rekomendasi:

Okay to Watch

 

(Aluna)


Posting Komentar

0 Komentar