Review Film Detective Kien: The Headless Horror (2025) - Di Balik Kepala yang Hilang, Ada Kebenaran yang Disembunyikan

 

Detective Kien: The Headless Horror | 2025 | 2h 11m
Genre : Folk Horror/Suspense Mystery/Drama/Horror/Mystery/Thriller | Negara: Vietnam
Director: Victor Vu | Writers: Duc Nguyen, Hong Thai, Victor Vu
Pemeran: Quoc Huy, Doan Minh Anh, Pham Quynh Anh
IMDB: 6.7
My Rate : 8/10

Tidak percaya bahwa hilangnya keponakannya akibat dari hantu air, Moon meminta bantuan Detective Kien untuk menyelidiki kasus tersebut. Temuan demi temuan muncul dan membuka tabir rahasia yang lebih kompleks.

Peringatan:

Terdapat adegan kekerasan, dan bunuh diri

 

Sinopsis :

Desa itu diguncang oleh legenda hantu air yang dipercaya mengambil kepala para korbannya. Delapan nyawa telah melayang, dan ketakutan menyebar cepat. Ketika Nga menghilang dan sepatunya ditemukan di tepi sungai, warga yakin ia adalah korban berikutnya. Namun Moon menolak percaya. Tanpa jasad yang ditemukan, ia yakin Nga masih hidup.

Menghadapi keputusasaan dan sikap pasrah warga—termasuk kepala desa—Moon memilih bertindak sendiri. Ia meminta bantuan Detektif Kien, sosok yang dikenal karena membongkar kasus korupsi suaminya. Kien datang membawa logika, tetapi tidak menutup mata pada mitos yang mengakar kuat di desa itu.

Bersama Moon, Kien menelusuri jejak Nga melalui kesaksian orang-orang terdekatnya, menggali masa lalu yang selama ini diabaikan. Perlahan, kepingan-kepingan informasi mulai membentuk pola yang jauh lebih kelam dari sekadar cerita hantu.

Di tengah kepercayaan yang membutakan dan rahasia yang sengaja disembunyikan, satu pertanyaan terus menghantui: apakah Nga benar-benar menjadi korban legenda—atau justru korban manusia yang hidup di sekitarnya?

 

Ulasan :

Sebuah kasus misterius mengguncang sebuah desa, namun tak seorang pun berani mengambil tindakan. Ketakutan telah lebih dulu menang. Semua sepakat menyalahkan sosok legenda yang dipercaya membawa petaka. Detective Kien: The Headless Horror menghadirkan satu sosok yang berani melawan arus tersebut—Detektif Kien, karakter yang sebelumnya hanya tampil sebagai tokoh minor dalam The Last Wife (2023), kini berdiri di pusat cerita dengan logika sebagai senjatanya.

Film dibuka dengan pemandangan alam yang tampak tenang dan indah. Namun ketenangan itu perlahan runtuh ketika kamera mendekat dan memperlihatkan ekspresi ketakutan para penduduk. Sebuah mayat tanpa kepala ditemukan di tepi danau. Adegan ini menjadi pondasi yang kokoh, menanamkan misteri sekaligus rasa ngeri yang akan terus berkembang sepanjang film.

Konflik terasa kuat, terutama melalui tokoh Moon. Ia menolak percaya bahwa hilangnya keponakannya, Nga, adalah ulah hantu air seperti yang diyakini warga desa. Di tengah tekanan kolektif dan desakan untuk menyerah, Moon memilih mempertahankan harapan dan berpacu dengan waktu—sebuah konflik batin yang membuat ceritanya terasa lebih personal.

Penyelidikan Moon bersama Kien perlahan membuka lapisan konflik lain: cinta yang terpendam, ambisi kekuasaan, dan dendam masa lalu. Motif-motif ini memperkaya cerita tanpa membuatnya kehilangan fokus. Unsur mistis tetap hadir, tetapi ditempatkan sebagai bayang-bayang yang mengiringi logika, bukan menelannya.

Menjelang akhir, misteri demi misteri mulai terungkap dengan cukup memuaskan. Perkembangan karakter terasa jelas, meski beberapa adegan perkelahian tampak kurang natural dan sedikit mengurangi intensitas ketegangan. Namun secara keseluruhan, resolusi konflik berhasil memberikan kepuasan emosional dan naratif.

Akting para pemain tampil meyakinkan. Tema yang cukup berat terasa lebih ringan berkat karakterisasi yang tidak berlebihan. Dialog, ekspresi, intonasi, dan chemistry antar tokoh menyatu dengan baik, membuat film ini nyaman untuk diikuti.

Dari sisi teknis, detail visual diperhatikan dengan cermat—mulai dari kondisi mayat, sepatu milik Nga, hingga tampilan monster yang terasa cukup nyata. Musik berperan efektif dalam membangun suasana tanpa mendominasi. Alur maju-mundur yang digunakan justru membantu memperjelas cerita, terutama dengan penyajian dari berbagai sudut pandang.

Pada akhirnya, Detective Kien: The Headless Horror bukan hanya tentang legenda yang ditakuti, tetapi tentang keberanian untuk berpikir jernih di tengah kepanikan massal—dan harga yang harus dibayar ketika kebenaran berhadapan dengan kepercayaan yang sudah mengakar.

 

Adegan yang mengesankan: 

Nga yang tak kunjung ditemukan mendorong Moon melakukan kebohongan demi menyudutkan pelaku. Bagi Kien, langkah tersebut berbahaya—bukan hanya secara hukum, tetapi juga dalam pembuktian yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan birokrasi. Namun Moon bersikeras. Baginya, aturan bisa menunggu. Yang dipertaruhkan bukan sekadar sebuah kasus, melainkan hidup dan mati seseorang yang ia sayangi.

Adegan ini memperlihatkan benturan antara kemanusiaan dan sistem. Saat nyawa berada di ujung tanduk, birokrasi yang seharusnya melindungi justru berubah menjadi penghalang. Moon memilih melangkah ke wilayah abu-abu, menyadari risikonya, demi satu kemungkinan kecil untuk menyelamatkan Nga. Sebuah pengingat bahwa kebenaran tidak selalu lahir dari kepatuhan, melainkan dari keberanian untuk mengambil tanggung jawab atas pilihan yang dibuat.

 

Dialog mengesankan:

"Nyawa untuk nyawa, itu sepadan"

 
Ending:

Happy Ending

 
Rekomendasi:

Worth to watch

 

(Aluna)

Posting Komentar

0 Komentar