I Give My First Love to You
(Original title: Boku no hatsukoi wo kimi ni sasagu) | 2009 | 2h 2m
Genre
: Teen Drama/Teen Romance/Drama/Romance | Negara: Jepang
Director:
Takehiko Shinjô |
Writers: Kotomi Aoki,
Kenji Bando
Pemeran: Mao Inoue, Masaki Okada,
Natsuki Harada
IMDB: 7.1
My
Rate : 7/10
Takuma yang memiliki kelainan jantung mengetahui bahwa umurnya tidak akan panjang, dirinya pun mencoba untuk menjauhi Mayu, cinta pertamanya. Takuma tidak mengetahui bahwa Mayu akan melakukan apapun untuk tetap bisa bersama dengan segala risikonya.
Peringatan:
Terdapat
adegan sensual
Sinopsis :
Takuma terlahir dengan kelainan
jantung yang membuat usianya diperkirakan tak akan panjang. Sejak kecil, ia
hidup berdampingan dengan batas waktu—dan di sela keterbatasan itu, ia
menemukan cahaya bernama Mayu, putri dari dokter yang merawatnya. Hubungan
mereka tumbuh perlahan, melampaui sekadar persahabatan.
Seiring bertambahnya usia, perbedaan
hidup mereka kian terasa. Takuma menjalani hari-hari dengan tubuh yang rapuh
dan masa depan yang tak pasti, sementara Mayu tumbuh sehat, ceria, dan penuh
kemungkinan. Ketimpangan itu membuat Takuma mulai meragukan haknya untuk tetap
berada di sisi Mayu.
Tak ingin menjadi sumber kesedihan
saat ajalnya tiba, Takuma memilih menjauh. Ia mendaftar ke sebuah SMA
elit—sebuah jarak yang ia yakini tak mungkin ditembus oleh Mayu, yang memiliki
keterbatasan akademik. Namun, keputusan itu justru memicu tekad Mayu. Dengan
usaha keras yang tak pernah dibayangkan Takuma, Mayu berhasil menjadi juara
satu dalam ujian masuk sekolah tersebut, demi satu hal sederhana: tetap
bersamanya.
Ketika cinta berhadapan dengan waktu
yang terbatas, apakah menjauh benar-benar berarti melindungi—atau justru
melukai lebih dalam?
Ulasan :
Kematian mungkin adalah satu-satunya
kepastian yang tetap terasa paling menakutkan. Membayangkan orang yang kita
cintai pergi tanpa aba-aba selalu meninggalkan rasa tidak rela, betapapun kita
tahu bahwa hal itu tak terelakkan. I Give My First Love to You, adaptasi dari
manga karya Kotomi Aoki, mengajak penonton menyelami ketakutan dan
ketidakrelaan itu melalui kisah cinta yang sejak awal telah diberi batas waktu.
Film ini dibuka dengan narasi yang
tenang namun menghantui—sebuah pengakuan tentang cinta yang tak bisa hidup
selamanya. Narasi ini menjadi pondasi emosional yang kuat, sekaligus isyarat
halus tentang arah akhir cerita. Penonton diajak masuk dengan kesadaran bahwa
apa yang akan disaksikan bukan tentang “apakah”, melainkan “kapan”.
Hubungan Mayu dan Takuma dibangun
sejak masa kanak-kanak melalui interaksi yang polos dan tulus. Di usia itu,
mereka belum memahami cinta atau kematian; yang ada hanyalah keinginan
sederhana untuk saling melindungi. Seiring mereka tumbuh remaja, perasaan itu
berkembang menjadi sesuatu yang lebih kompleks—dibayangi oleh kesadaran akan
tubuh Takuma yang rapuh dan masa depan yang tak pasti.
Konflik dalam film ini lebih banyak
bermain di ranah batin. Kebimbangan Takuma untuk mencintai sepenuhnya,
keteguhan Mayu untuk tetap bertahan, serta kesalahpahaman yang tumbuh di antara
keduanya membentuk drama yang sunyi namun menyakitkan. Kehadiran pihak ketiga
memberi warna tambahan, meski tidak sepenuhnya dimaksimalkan, hingga akhirnya
mereka dipaksa berhadapan dengan kenyataan yang tak bisa ditawar.
Penyelesaian cerita terasa agak
terburu-buru, dengan beberapa transisi konflik yang terlalu cepat. Namun
demikian, dampak emosionalnya tetap kuat. Perjuangan Takuma hingga napas
terakhir demi kebahagiaan Mayu, serta kesetiaan Mayu pada janji masa kecil mereka,
meninggalkan bekas yang sulit dihapus.
Secara struktural, film ini memang
memiliki kelemahan. Beberapa konflik terasa dangkal karena kurang diberi ruang
untuk berkembang, termasuk peran karakter pendukung seperti Kou dan Teru yang
sebenarnya berpotensi memperdalam pemaknaan Takuma tentang hidup dan kematian.
Selain itu, ada ketidaklogisan pada detail tertentu—seperti kebebasan
keluar-masuk sekolah elit dan akses mudah ke ruang ICU—yang sedikit mengganggu
keutuhan cerita.
Meski demikian, akting para pemain
tampil natural dan meyakinkan. Dukungan musik, editing, serta detail simbolik
seperti daun semanggi dan jimat kecil memperkaya emosi tanpa terasa berlebihan.
Pada akhirnya, I Give My First Love
to You adalah kisah yang sederhana namun menyentuh. Film ini mengingatkan bahwa
kematian bisa datang kapan saja, dan justru karena itu, cinta tidak seharusnya
ditunda atau disimpan setengah hati. Selama masih ada waktu, mencintai sepenuh
mungkin mungkin adalah satu-satunya bentuk keberanian yang benar-benar berarti.
Adegan
yang mengesankan:
Hidup Takuma berada di ujung tanduk.
Dalam keputusasaan, Mayu bersujud di hadapan keluarga Kou, memohon agar jantung
Kou diberikan demi menyelamatkan orang yang ia cintai. Namun di sisi lain,
keluarga Kou belum sanggup melepaskan, sebab secercah harapan masih mereka
genggam—bahwa Kou akan kembali sadar dari komanya.
Adegan ini menunjukkan sejauh apa
manusia rela merendahkan diri demi mempertahankan nyawa orang yang disayangi.
Harapan, sekecil apa pun, menjadi pegangan terakhir untuk terus bertahan.
Tetapi ketika harapan satu pihak hanya dapat hidup dengan mengorbankan harapan
pihak lain, cinta menjelma menjadi dilema yang sunyi dan kejam—tanpa pilihan
yang benar-benar benar.
Dialog mengesankan:
"Dewa dari empat daun semanggi, apa artinya hidup?"
Ending:
Sad
Ending
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna)

0 Komentar