Stigmatized Properties: Possession
(Original title: Jiko Bukken: Zoku Kowai Madori) | 2025 | 1h 53m
Genre
: Horror/Thriller | Negara: Japan
Director:
Hideo Nakata|
Writers: Tanishi
Matsubara
Pemeran: Shota Watanabe, Miku Hatta,
Kôtarô Yoshida
IMDB: 5.2
My
Rate : 6/10
Yahiro meninggalkan pekerjaannya demi mengejar mimpi memasuki dunia hiburan Tokyo. Demi perhatian publik, ia menerima pekerjaan sebagai streamer di hunian angker —sebuah keputusan yang perlahan mengubah pencarian popularitas menjadi pengalaman horor yang tak bisa ia hentikan.
Peringatan:
Adegan
kekerasan dan bunuh diri
Sinopsis :
Yahiro meninggalkan pekerjaannya di
konstruksi meski kenaikan pangkat sudah di depan mata, demi mengejar mimpinya
memasuki dunia hiburan Tokyo. Bermodalkan kartu nama dari mantan bosnya, ia
bertemu Fujiyoshi yang menawarinya pekerjaan sebagai streamer di hunian
angker—jalan cepat menuju popularitas.
Dalam pekerjaannya, Yahiro bertemu
Karin, partnernya dalam sebuah iklan, dan kedekatan di antara mereka mulai
terjalin. Namun, Karin segera menyadari bahwa pekerjaan Yahiro membawa bahaya
nyata, terutama setelah ancaman dari hunian angker pertama yang ia tinggali.
Yahiro berpindah dari satu hunian
angker ke hunian lainnya, menempatkan dirinya semakin dekat dengan teror yang
tak kasat mata. Sebuah kecelakaan memaksanya menetap bersama Karin, tetapi
ketenangan itu hanya semu. Teror yang dialaminya tidak berhenti, seolah sesuatu
telah mengikuti dan enggan melepaskannya.
Apakah Yahiro masih bisa kembali
menjalani hidup normal, atau pilihannya telah membuka pintu yang tak bisa
ditutup?
Ulasan :
Bayangkan kamu diberi kesempatan
untuk menjadi populer, tetapi harus rela tinggal di hunian angker yang
menjanjikan bahaya. Apakah kesempatan itu layak diambil, atau justru menjadi
awal dari penyesalan? Yahiro dalam Stigmatized Properties: Possession, adaptasi
dari novel Jiko Bukken Kaidan: Kowai Madori karya Matsubara Tanishi, memilih
untuk mengabaikan rasa takut dan melihat risiko sebagai harga yang pantas demi
sorotan publik.
Cerita dibuka dengan cukup solid,
memperkenalkan Yahiro serta latar belakang keputusan yang ia ambil.
Pertemuannya dengan Fujiyoshi dan tokoh lain terasa natural. Namun, berbeda
dengan film pertamanya (Stigmatized Properties, 2020), motivasi Yahiro kali ini
terasa lebih lemah. Keputusannya menjadi pembawa acara hunian angker seakan
berjalan tanpa dorongan batin yang kuat, lebih menyerupai kepatuhan terhadap
keadaan daripada pilihan sadar.
Seperti kebanyakan film horor,
ketegangan muncul melalui interaksi dengan penampakan di hunian angker.
Sayangnya, konflik besar yang benar-benar membekas nyaris tidak terasa.
Intensitas baru meningkat menjelang akhir cerita, saat Yahiro mulai menyadari bahwa
ambisinya tidak hanya membahayakan dirinya, tetapi juga orang-orang di
sekitarnya.
Akhir cerita dengan sedikit plot
twist sebenarnya dapat ditebak sejak awal melalui petunjuk yang disebar
perlahan. Meski demikian, penyajiannya tetap cukup rapi. Perkembangan karakter
terlihat, terutama dalam relasi antartokoh yang perlahan berubah seiring
tekanan yang mereka hadapi.
Akting para pemain tampil cukup baik
tanpa benar-benar mencuri perhatian. Unsur teknis seperti musik, riasan,
pencahayaan, serta pergerakan kamera digunakan dengan tepat untuk membangun
suasana. Detail visual disajikan secukupnya, termasuk kemunculan Kazuya
Kamenashi—pemeran film pertama—sebagai figuran yang menjadi sentuhan kecil bagi
penonton lama.
Jika dibandingkan dengan film
pertamanya, film ini masih terasa lebih datar dari segi kengerian maupun
kekuatan cerita. Film ini tetap dapat dinikmati, tetapi tidak meninggalkan rasa
tidak nyaman yang bertahan lama. Ceritanya sistematis dan mudah diikuti, meski
akan jauh lebih menarik jika kisah tiap hunian angker dan penghuninya digali
lebih dalam dan divisualisasikan dengan lebih berani.
Stigmatized Properties: Possession
pada akhirnya menjadi cerita tentang pilihan yang tampak menjanjikan, tetapi
kosong secara batin. Film ini tidak gagal sepenuhnya, namun juga tidak cukup
berani untuk menyelam lebih dalam ke sisi psikologis karakternya. Sebuah
tontonan yang rapi dan aman, tetapi meninggalkan pertanyaan: apakah popularitas
selalu layak ditebus dengan rasa takut yang terus menghantui?
Adegan
yang mengesankan:
Yahiro tinggal di sebuah guest house
bersama beberapa penghuni lain. Ritual hantu yang mereka lakukan berujung pada
sebuah “kecelakaan” yang hampir merenggut nyawa salah satu penghuni, mendorong
Yahiro untuk berhenti menjadi streamer hunian angker. Namun, Fujiyoshi justru
mengatakan bahwa Yahiro sengaja dipilih karena ia orang yang baik.
Kalimat sederhana itu menimbulkan
keganjilan: sejak kapan kebaikan menjadi alasan untuk diseret ke dalam bahaya?
Dalam dunia yang dihantui, mungkin kebaikan bukanlah pelindung, melainkan
celah—jalan masuk bagi sesuatu yang ingin diselesaikan.
Dialog mengesankan:
"Jika kau terlalu baik, dia akan memilikimu."
Ending:
Twist
Happy Ending
Rekomendasi:
Okay
to Watch
(Aluna)

0 Komentar