Review Film The Victim (2006) - Cerita yang Seharusnya Tidak Disatukan

 

The Victim (Original Title: Phii khon pen) | 2006 | 1h 48m
Genre : Horror/Mystery/Thriller | Negara: Thailand
Director: Monthon Arayangkoon | Writers: Monthon Arayangkoon, Shih-Keng Chien, Sompope Vejchapipat
Pemeran: Pitchanart Sakakorn, Apasiri Nitibhon, Penpak Sirikul
IMDB: 5.5
My Rate : 6/10

Ting, aktris muda, yang mendapatkan ketenarannya saat seorang polisi memintanya menjadi Stand-in dalam beberapa reka ulang peristiwa pembunuhan. Hingga kasus tentang pembunuhan aktris ternama menjebaknya dalam bahaya kelam yang mengancam nyawanya.

 

Peringatan:

Terdapat adegan kekerasan

 

Sinopsis :

Ting menerima tawaran untuk menjadi pemeran pengganti dalam reka ulang kasus pembunuhan di kotanya. Demi peran tersebut, ia melakukan riset mendalam dan tenggelam sepenuhnya ke dalam karakter. Namun, keterlibatan Ting justru menyeretnya pada sisi kelam dari sebuah misteri yang belum benar-benar usai—kasus kematian seorang aktris besar yang menyimpan rahasia berbahaya.

Kisah Ting merupakan bagian dari film horor yang sedang diproduksi yang didasarkan dari kasus kematian aktris besar tersebut, dengan May sebagai pemeran utamanya. Sejak awal, proyek ini menuai kontroversi dan kemarahan dari keluarga korban karena dianggap menyimpang dari fakta. Tanpa sepengetahuan May, proses produksi perlahan diganggu oleh kehadiran sesuatu yang tak kasat mata—insiden aneh, kecelakaan kecil, hingga teror yang membuat syuting terpaksa ditunda.

Ketika gangguan itu mulai menargetkan dirinya secara langsung, May menyadari bahwa terdapat sosok berbahaya yang sedang menuntut balas. May harus mempertaruhkan segalanya untuk menyelamatkan nyawanya.

Akankah May berhasil menghentikan teror yang lahir dari tragedi yang tak pernah benar-benar berakhir?

 
Ulasan :

Apakah kematian selalu membawa ketenangan, atau justru meninggalkan kekacauan dari perasaan yang tak pernah terselesaikan? The Victim seolah ingin mengatakan bahwa kematian bukanlah akhir. Ia dapat menjadi awal dari teror—ketika emosi, dendam, dan keinginan yang tertinggal menemukan cara untuk kembali.

Film ini menyajikan dua kisah yang berbeda dalam satu tubuh. Paruh pertama membawa kita menyelami kehidupan Ting, seorang aktor muda yang perlahan membangun karier sebagai pemeran pengganti. Ceritanya dibangun dengan ritme yang tenang dan pondasi yang kuat. Ting digambarkan sebagai sosok yang total dalam pekerjaannya—terlalu total, hingga batas antara peran dan kenyataan mulai kabur. Kemampuannya menyelami karakter justru menarik arwah-arwah penasaran yang meminta pertolongan, hingga membawanya pada kasus pembunuhan seorang aktris besar yang kebenarannya belum terungkap.

Ketegangan tumbuh perlahan, atmosfer horor dibangun dengan sabar, dan konflik terasa personal sekaligus mencekam. Namun, semua itu seakan dipatahkan secara tiba-tiba oleh twist besar: kisah Ting ternyata hanyalah film yang sedang diperankan oleh May. Apa yang sebelumnya terasa sebagai inti cerita mendadak berubah menjadi sekadar pengantar.

Konsep “film di dalam film” sebenarnya menarik, tetapi dalam The Victim, justru menjadi titik terlemahnya. Cerita pertama yang telah dibangun dengan rapi—alur, emosi, dan ketegangannya—terasa disia-siakan. Padahal, kisah Ting sendiri sudah cukup kuat untuk berdiri sebagai cerita utama, bahkan paling relevan dengan judul The Victim itu sendiri.

Cerita kedua yang berfokus pada May terasa kurang matang. Latar belakang tokohnya tidak dibangun dengan kokoh, dan asal-usul teror yang menghantuinya terasa rancu. Meski demikian, ada potensi menarik yang sebenarnya bisa digali lebih dalam: obsesi seorang penggemar terhadap idolanya. Obsesi yang mendorong keinginan untuk menjadi “sama”, bahkan melalui cara-cara mistis yang melampaui nalar.

Sayangnya, ketegangan di paruh kedua terasa terburu-buru. Berbeda dengan cerita Ting yang mengandalkan atmosfer dan perlahan menanamkan rasa takut, kisah May lebih banyak bertumpu pada jumpscare yang terasa dangkal, bahkan di beberapa titik konyol. Beberapa adegan juga sulit diterima secara logika, membuat horor kehilangan dampak emosionalnya.

Jika dilihat secara keseluruhan, kedua cerita ini sebenarnya sama-sama memiliki potensi besar—namun sebagai dua film yang terpisah, bukan dipaksakan menjadi satu. Akting para pemain pun terasa lebih meyakinkan di paruh awal, ketika emosi dan konflik diberi ruang untuk bernapas.

Salah satu kekuatan film ini terletak pada transformasi karakter. Perubahan Ting menjadi May terasa jelas, tidak hanya dari kostum dan tata rias, tetapi juga dari bahasa tubuh dan gestur. Secara teknis, meski ada beberapa adegan dengan pencahayaan yang terlalu gelap hingga mengaburkan detail penting, film ini masih dapat dinikmati.

The Victim akhirnya terasa seperti dua cerita yang saling meniadakan, bukan saling menguatkan. Sebuah film dengan ide besar dan potensi kuat, tetapi kehilangan arah karena ragu menentukan kisah mana yang sebenarnya ingin disampaikan.

 

Adegan yang mengesankan:  

Ini adalah adegan yang sunyi namun menggetarkan. May terbangun di sebuah rumah asing, dikelilingi dinding yang dipenuhi foto-fotonya sendiri—tatapan yang seharusnya penuh kekaguman kini berubah menjadi ancaman. Perlahan, kesadaran itu datang: orang yang selama ini menyeretnya ke dalam bahaya bukanlah musuh asing, melainkan seorang penggemar yang mengaku mencintainya.

Adegan ini dengan tajam memperlihatkan bagaimana cinta yang kehilangan batas dapat berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Ketika kekaguman tidak lagi menghormati ruang dan kemanusiaan, ia menjelma menjadi sesuatu yang berbahaya. Film ini mengingatkan bahwa mencintai bukanlah soal memiliki atau menguasai, melainkan memahami kapan harus berhenti.

 
Dialog mengesankan:

"Kau harus menjadi aku!"

 

Ending:

Twist Ending

 

Rekomendasi:

Okay to watch

 

(Aluna)

 


Posting Komentar

0 Komentar