Review Film Dead Talents Society (2024) - Film Horor yang Mengolok Obsesi Manusia pada Kesuksesan

 

Dead Talents Society (Original title: Gui cai zhi dao) | 2024 | 1h 51m
Genre : Supernatural Horror/Comedy/Horror/Thriller | Negara: Taiwan
Director:  John Hsu | Writers: John Hsu, Tsai Kun-Lin
Pemeran: Chen Bolin, Sandrine Pinna, Gingle Wang
IMDB: 7
My Rate : 7/10

Dead Talents Society adalah film horor komedi yang mengisahkan dunia hantu sebagai panggung kejam: hanya mereka yang mampu mempertunjukkan “talent” terbaik yang bisa terus eksis. Di tengah ketakutan yang perlahan timbul, The Rookie berjuang agar tidak menghilang, sementara Catherine—sang legenda—mati-matian mempertahankan popularitasnya dari gempuran hantu-hantu pendatang baru.

Peringatan:

Adegan kekerasan, bunuh diri, dan kata - kata kasar

 
Sinopsis :

Dead Talents Society mengisahkan Catherine, hantu legenda yang namanya pernah mengguncang dunia hantu berkat pencapaiannya yang sensasional. Namun kejayaannya runtuh ketika Jessica, anak didiknya sendiri, memilih jalan berbeda dan berbalik menantangnya. Perbedaan sudut pandang membuat hubungan guru dan murid itu berubah menjadi persaingan sengit—tradisi melawan teknologi.

Menolak menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, Catherine perlahan tersingkir. Popularitasnya memudar, sementara Jessica justru semakin bersinar dengan kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menebar teror.

Di tengah kekacauan itu, muncul The Rookie—hantu tanpa talenta yang terancam menghilang setelah keluarganya tidak sengaja menghilangkan satu-satunya benda penghubung keberadaannya. Tak punya pilihan lain, ia mencari agensi hantu demi bertahan. Meski enggan, Catherine akhirnya menerima The Rookie sebagai murid dan membantunya menemukan potensi tersembunyi. Hingga lahirlah kesuksesan tak terduga yang kembali menggemparkan dunia hantu.

Akankah The Rookie menjadi jalan bagi Catherine untuk merebut kembali kejayaannya?

 

Ulasan :

Bayangkan jika kesulitan hidup yang kamu rasakan ternyata tidak berakhir saat kematian. Kompetisi untuk menjadi nomor satu, tuntutan akan talenta, dan obsesi terhadap kesuksesan terus menghantui—bahkan setelah menjadi hantu. Dead Talents Society mencoba membawa gagasan itu ke layar dengan pendekatan yang tidak biasa.

Layaknya film horor pada umumnya, cerita dibuka dengan adegan mencekam: seorang manusia yang diteror oleh kehadiran hantu. Namun perlahan, penonton menyadari bahwa video tersebut bukan sekadar rekaman teror. Sosok Catherine muncul sebagai bintang utama di balik adegan itu—seorang hantu legendaris yang dielu-elukan berkat pencapaiannya. Di titik inilah, sentuhan komedi mulai mengambil alih, menggeser rasa takut menjadi ironi.

Konflik kemudian berkembang melalui perbedaan cara pandang antar generasi dan tuntutan untuk selalu menjadi yang terbaik. Regenerasi adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan, tetapi tidak di dunia hantu. Dikenal dan diingat menjadi satu-satunya cara untuk tetap eksis. Di sinilah prinsip diuji: bertahan dengan cara lama, atau menyingkirkan ego demi menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Konflik batin paling terasa melalui The Rookie. Sebagai hantu tanpa talenta, ia hidup di bawah tekanan bahwa hanya mereka yang “berbakat” yang berhak bertahan. Beban ini sebenarnya dialami banyak hantu lain, namun memilih untuk diabaikan—sebuah refleksi getir tentang dunia yang hanya memberi ruang bagi mereka yang menonjol.

Akhir cerita disajikan dengan rapi dan berkesan. Perkembangan karakter tiap tokoh terasa jelas: Jessica yang menyadari kesalahannya, Catherine yang belajar menurunkan ego, dan The Rookie yang mulai menerima dirinya apa adanya. Bahkan karakter pendukung pun diberi penutup yang layak, tanpa terasa terburu-buru.

Sebagai film horor komedi, Dead Talents Society berhasil menyampaikan pesan yang dalam tanpa harus menakuti secara berlebihan. Pendekatannya ringan, menghibur, dan mudah dipahami, namun tetap menyimpan lapisan refleksi di balik kelucuannya.

Meski pondasi cerita dan latar belakang karakter cukup kuat, film ini masih menyisakan beberapa pertanyaan: bagaimana sistem society itu terbentuk, siapa sebenarnya Chair Ghost, dan ke mana perginya para hantu yang menghilang. Rasa penasaran ini tidak sepenuhnya mengganggu, justru membuka ruang imajinasi—meski bagi sebagian penonton bisa terasa kurang tuntas.

Dari sisi teknis, akting para pemain tampil total dan meyakinkan. Tata rias, kostum, dan efek terasa natural serta mendukung nuansa film. Pergerakan kamera, transisi antara POV manusia dan hantu, komposisi warna, hingga pemilihan musik bekerja selaras dalam membangun dunia yang absurd namun terasa hidup.

Pada akhirnya, Dead Talents Society bukan hanya tentang hantu yang berlomba menakuti manusia, melainkan tentang ketakutan yang lebih dekat dengan kita: takut dilupakan, takut tidak cukup berbakat, dan takut tidak pernah memenuhi ekspektasi. Film ini mengemas kegelisahan itu dalam balutan horor komedi yang jenaka, namun menyisakan pertanyaan sunyi—jika bahkan setelah mati kita masih harus membuktikan diri, kapan sebenarnya kita boleh beristirahat?

 
Adegan yang mengesankan:  

The Rookie kembali ke rumahnya—kini kosong, ditinggalkan oleh keluarganya yang memilih pergi. Di ruang yang sunyi itu, kenangan bersama sang ayah muncul kembali. Sebuah nasihat lama terngiang, tentang keharusan untuk menjadi sukses, dipenuhi capaian, dan dikenal banyak orang. Nasihat yang terdengar sederhana, namun perlahan berubah menjadi beban—menekan, menuntut, dan tanpa disadari menggerogoti dirinya dari dalam.

Dalam hidup, kita nyaris tak pernah benar-benar bebas dari ekspektasi orang lain, terutama ekspektasi orang tua. Mereka menetapkan standar kesuksesan yang dianggap wajar, seolah semua anak memiliki sayap yang sama. Padahal tidak semua orang diciptakan untuk terbang tinggi. Kita tak bisa memaksa seekor ikan untuk terbang. Hal sesederhana itu sering dilupakan manusia: bahwa setiap individu memiliki bentuk, arah, dan kelebihan yang berbeda.

 

Dialog mengesankan:

"You really don't have to be anyone special. It's okay"

 

Ending:

Happy Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna)

 


Posting Komentar

0 Komentar