Review Film The Guardian (2021) - Apa yang Terjadi Saat Harapan Dijaga oleh Sesuatu yang Salah?

 

The Guardian (Original title: Thiên than ho menh) | 2021 | 2h 7m
Genre : Crime/Drama/Horror/Music/Mystery/Thriller | Negara: Vietnam
Director: Victor Vu | Writers: Bong Bot Binh, Thi Nga, Kay Nguyen
Pemeran: Amee, Samuel An, Trúc Anh
IMDB: 5.6
My Rate : 7/10

The Guardian mengisahkan Mai Ly, mantan backing vocal Phuong —penyanyi terkenal yang meninggal karena bunuh diri. Setelah kematian Phuong, Mai Ly perlahan memasuki dunia ketenaran yang ternyata menyimpan risiko besar, terutama karena rahasia kelam yang ia simpan dan keterkaitannya dengan kematian sang bintang.

Peringatan:

Adegan kekerasan, kata kasar, kekerasan seksual, sensual, bunuh diri, alkohol, dan obat - obatan

 
Sinopsis :

Kabar mengejutkan datang dari Phuong, penyanyi terkenal yang sempat terseret skandal video tak senonoh dan kemudian ditemukan meninggal bunuh diri. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sekaligus  bagi Mai Ly—penyanyi latar yang selama ini paling dekat dengannya. Di balik kesedihan itu, kehadiran Ly menyimpan rahasia yang perlahan mengaitkannya pada skandal yang menghancurkan Phuong.

Enam bulan kemudian, Ly bertemu kembali dengan Khan, mantan kekasih sekaligus produser Phuong. Sebuah tawaran yang tak terduga datang: bukan lagi berada di balik panggung, tetapi berdiri di depan sorotan sebagai penyanyi utama. Kesempatan itu terasa semakin nyata ketika Ly mendapatkan sebuah boneka penjaga, Kumanthong, melalui Tam—seorang wanita yang ia temui di kontes menyanyi. Boneka itu mengingatkannya pada milik Phuong, yang konon turut mengantarkan sang penyanyi pada puncak ketenaran.

Namun, kesuksesan tidak datang tanpa bayaran. Bayang-bayang Phuong mulai menghantuinya, hadir dalam gangguan yang tak dapat ia hindari. Masa lalu pun kembali mengejar, ketika orang-orang di balik skandal Phuong mulai mengancam akan melakukan hal serupa padanya. Terhimpit ketakutan dan tekanan, Ly tidak lagi sekadar menginginkan ketenaran. Ia meminta Kumanthong untuk melindunginya—tanpa sepenuhnya memahami harga yang harus dibayar.

Akankah Ly mampu mempertahankan kesuksesan yang diraihnya, atau justru terperangkap dalam bayaran yang tak pernah ia perhitungkan?

 

Ulasan :

Kesuksesan bukanlah sesuatu yang mudah diraih. Ia menuntut kerja keras dan keberuntungan. Namun, bagaimana jika semua itu bisa diberikan oleh sebuah boneka—seakan memiliki kuasa yang melampaui Tuhan itu sendiri? Apakah kesempatan seperti itu layak diambil?

The Guardian mencoba merepresentasikan sisi gelap manusia tentang ambisi dan obsesi melalui kisah horor dengan unsur legenda yang menarik. Bukan hanya kengerian yang ditawarkan, tetapi juga pertanyaan mengenai moral manusia. Cerita diakhiri dengan twist yang menyadarkan, seolah memaksa tokohnya—dan penonton—menatap kembali pilihan yang telah diambil.

Cerita dibuka dengan adegan yang dibangun kuat. Kematian Phuong disajikan dalam suasana yang tenang, namun sarat kesedihan. Dari titik inilah boneka pelindung diperkenalkan, sebuah elemen penting yang nantinya menjadi pusat konflik dan simbol ambisi dalam cerita.

Perlahan tetapi pasti, konflik mulai terbangun. Tekanan tidak hanya datang dari gangguan eksternal atau bayang-bayang masa lalu, tetapi juga dari konflik batin Ly sendiri. Ambisi, obsesi, dan rasa bersalah saling bertaut, hingga doa-doa yang ia panjatkan perlahan mengubah dirinya tanpa ia sadari.

Cerita diakhiri dengan twist yang cukup mengejutkan. Penonton diajak kembali pada logika dan kenyataan, seakan memperoleh kesadaran yang sama dengan tokoh utama. Sayangnya, lima menit terakhir yang mengangkat kisah Huyen justru membuat klimaks kehilangan kekuatan emosional. Kisah tersebut terasa lebih sebagai kesimpulan moral yang dipaksakan, alih-alih penutup yang menguatkan.

Beberapa kesalahan teknis kecil turut terasa mengganggu, terutama soal kontinuitas. Salah satunya terlihat pada perbedaan pakaian yang dikenakan Ly saat mengunjungi ayahnya dan saat ia pergi, yang membuat alur waktu terasa sedikit rancu.

Keanehan lain muncul pada dialog Huyen yang menyebut kematian Phuong baru enam bulan berlalu. Padahal sebelumnya telah ditunjukkan transisi waktu “enam bulan kemudian” saat Khan bertemu kembali dengan Ly, disertai berbagai peristiwa yang terjadi setelahnya. Ketidakkonsistenan ini membuat timeline cerita terasa kurang meyakinkan.

Sedikit spoiler. Kejanggalan juga terlihat pada adegan live Instagram yang menggunakan kamera di kepala boneka. Secara konsep ide ini menarik, namun secara logika terasa lemah. Fungsi kamera sebagai alat pengintai tidak diperlihatkan dengan cukup jelas, sehingga gagasan tersebut terkesan belum sepenuhnya matang.

Dari sisi ide, mengangkat legenda menjadi horor psikologis merupakan pendekatan yang cukup unik. Meski eksekusinya masih menyisakan ruang untuk pendalaman, akting para pemain tampil cukup meyakinkan, didukung properti dan atmosfer yang sesuai dengan dunia kelam yang ingin dibangun.

Pada akhirnya, The Guardian bekerja sebagai kisah horor yang tidak hanya mengandalkan teror, tetapi juga menggugat pilihan dan ambisi manusia. Meski masih menyisakan beberapa celah dalam eksekusi dan logika, gagasan yang diusung tetap terasa kuat dan relevan. Film ini mungkin tidak sepenuhnya rapi, namun cukup berhasil meninggalkan kegelisahan yang menetap—tentang keinginan, harga yang harus dibayar, dan batas tipis antara harapan serta kehancuran.

 

Adegan yang mengesankan:  

Salah satu adegan paling mengesankan dalam The Guardian terjadi ketika Ly berniat mengembalikan boneka yang selama ini membantunya mewujudkan keinginan. Tam menyebut sikap Ly sebagai bentuk egoisme—sebuah kebiasaan manusia yang menganggap segala sesuatu bisa dimiliki dan ditinggalkan tanpa konsekuensi.

Adegan ini menyingkap sisi gelap manusia yang kerap memandang hubungan secara transaksional. Bukan hanya terhadap benda, tetapi juga terhadap sesama manusia. The Guardian dengan tajam memperlihatkan bagaimana rasa ingin memiliki dapat berubah menjadi sikap memanfaatkan, hingga meninggalkan luka saat seseorang merasa tak lagi “berguna”. Film ini mengingatkan bahwa hubungan—seperti keinginan—selalu menuntut tanggung jawab, bukan sekadar hasil.

 

Dialog mengesankan:

"Now I know there's no such thing as a guardian angel"

 

Ending:

Twist Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna)

 


Posting Komentar

0 Komentar