Helter Skelter (Original title:
Herutâ sukerutâ) | 2012 | 2h 7m
Genre
: Body Horror/Psychological Drama/Psychological
Horror/Crime/Drama/Horror/Thriller | Negara: Japan
Director:
Mika Ninagawa |
Writers: KyĂ´ko Okazaki,
Arisa Kaneko
Pemeran: Erika Sawajiri, Nao Ômori,
Shinobu Terajima
IMDB: 6.4
My
Rate : 7/10
Helter Skelter mengisahkan Ririko, seorang aktris cantik yang membangun ketenarannya di dunia hiburan melalui serangkaian operasi kecantikan. Ketika kecantikannya mulai memudar dan kehadiran talenta baru mengancam posisinya, Ririko terjebak dalam obsesi untuk mempertahankan popularitas—bahkan jika itu berarti menghancurkan dirinya sendiri.
Peringatan:
Adegan kekerasan, melukai diri, alkohol, rokok, obat - obatan, seks, sensual, dan ketelanjangan
Sinopsis :
Helter Skelter adalah film Jepang yang mengisahkan Ririko, seorang model dan aktris yang berada di puncak ketenarannya. Wajahnya menghiasi sampul majalah, sementara tawaran dari dunia televisi dan film terus berdatangan. Namun di balik gemerlap tersebut, Ririko menyimpan rahasia besar: kecantikannya adalah hasil dari serangkaian operasi plastik yang mengubah seluruh tubuhnya. Rahasia ini hanya diketahui oleh Mama—bos yang mengendalikannya—serta orang-orang terdekatnya.
Demi mempertahankan status sebagai ikon kecantikan, Ririko rela mengorbankan perasaan dan harga dirinya. Luka batin yang tak terlihat perlahan menggerogotinya, menjadikannya sosok manipulatif yang menyakiti orang-orang di sekitarnya. Tanpa ia sadari, dirinya juga telah menjadi target penyelidikan polisi terkait klinik kecantikan ilegal tempat ia menjalani operasi.
Ketika tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan dan kemunculan Kozue—talent muda dengan kecantikan alami—mengancam posisinya, ketakutan Ririko semakin memuncak. Terjebak dalam tekanan dunia hiburan yang kejam, ia melakukan apa pun demi bertahan, bahkan jika itu berarti menghancurkan dirinya sendiri sebelum dunia melakukannya.
Ketika kecantikan menjadi satu-satunya nilai, siapa sebenarnya yang tersisa dari diri Ririko?
Ulasan :
Pernah dengar istilah beauty privilege? Sebuah kondisi di mana seseorang yang dianggap cantik lebih mudah mendapatkan pengakuan, kesempatan, dan perlakuan istimewa. Tak heran jika banyak orang rela melakukan apa pun demi memenuhi standar kecantikan tersebut. Isu inilah yang menjadi inti cerita Helter Skelter, film adaptasi manga karya Kyoko Okazaki yang menyoroti sisi gelap dunia hiburan dan obsesi terhadap kesempurnaan fisik.
Dengan ide cerita yang kuat dan relevan, Helter Skelter terasa dekat dengan realitas industri hiburan, di mana citra sering kali lebih penting daripada manusia itu sendiri. Penyajiannya dilakukan dengan gaya yang mencolok dan intens, meski di beberapa bagian masih terasa kurang optimal dalam memperkuat dampak emosional cerita.
Film dibuka dengan hiruk pikuk ketenaran: sorotan kamera, suara publik, dan narasi yang memuja tokoh utama, Ririko. Visual kecantikannya ditampilkan secara kontras dengan adegan tubuhnya yang terbungkus perban—dibuka perlahan, seolah menyingkap harga mahal di balik pesona tersebut. Sejak awal, film ini sudah memberi isyarat bahwa kecantikan Ririko bukanlah sesuatu yang utuh dan alami.
Pondasi cerita dibangun melalui suasana yang bising dan glamor, hingga perlahan semua suara itu berhenti. Di titik inilah sisi gelap mulai muncul ke permukaan. Kepribadian Ririko yang tersembunyi di balik kecantikannya terungkap—cara ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya, bahkan dirinya sendiri, jauh dari gambaran sempurna yang ditampilkan ke publik.
Konflik berkembang secara bertahap: tubuh yang mulai menunjukkan kerusakan, kehadiran pesaing yang lebih muda dan cantik, serta tekanan personal yang terus menumpuk. Kehancuran Ririko tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam dirinya sendiri. Konflik batin terasa dominan, diperkuat oleh situasi eksternal yang terus mendorongnya ke ambang kehancuran.
Sebagai adaptasi manga, Helter Skelter melakukan beberapa penyesuaian. Sejumlah adegan kuat di versi manga dihilangkan, dan meski akhir film tergolong baik secara naratif, penyajiannya terasa kurang menggigit. Dalam manga, emosi Ririko terasa lebih personal, sementara karakter Kozue juga mendapat porsi yang lebih signifikan sebagai cerminan dan ancaman psikologis bagi Ririko.
Beberapa adegan seksual yang muncul dalam film terasa kurang perlu. Sebagian memang memiliki fungsi naratif, namun sebagian lainnya kehilangan makna dan tidak memberi kontribusi emosional yang jelas terhadap cerita.
Kelemahan lain terletak pada penggunaan narasi massa dan dialog publik yang berulang, terutama di awal dan menjelang akhir cerita. Alih-alih memperkuat tekanan psikologis, durasi dan nada yang seragam justru membuat emosi yang ingin dibangun terasa melemah.
Meski begitu, film ini tetap memiliki banyak kelebihan. Secara teknis, Helter Skelter tampil solid melalui komposisi visual, pemilihan warna, detail artistik, serta musik yang mendukung suasana. Transformasi aura Ririko menjadi salah satu kekuatan utama film—bagaimana ia terlihat bersinar di satu waktu, lalu perlahan kehilangan cahaya saat kehadiran Kozue mulai mengambil perhatian.
Pada akhirnya, Helter Skelter bukan sekadar film tentang kecantikan, melainkan tentang bagaimana tubuh dan identitas dapat dihancurkan oleh tuntutan untuk selalu sempurna. Film ini mengajak penonton melihat sisi rapuh dari mereka yang hidup di bawah sorotan, sekaligus mempertanyakan: sejauh mana seseorang mampu bertahan ketika nilai dirinya hanya diukur dari penampilan luar. Sebuah kisah yang tidak nyaman, namun jujur—dan justru karena itulah terasa relevan.
Adegan
yang mengesankan:
Dalam film Jepang Helter Skelter, salah satu adegan paling mengesankan memperlihatkan Ririko berdiri di ruang teater yang kosong, dikelilingi oleh ingatan akan ketenaran yang pernah ia miliki. Kehadiran Makoto—entah nyata atau hanya bayangan—seolah menjadi pengingat bahwa popularitas bukanlah sesuatu yang abadi. Dengan kesadaran pahit, Ririko mengakui bahwa tak ada seorang pun yang benar-benar mencintai atau membutuhkannya, dan karena itu ia memilih untuk menghancurkan dirinya terlebih dahulu sebelum dunia melakukannya.
Adegan ini berlangsung dalam keheningan yang menekan. Trauma, luka batin, dan rasa dikhianati terpancar dari sosok Ririko—seorang perempuan yang merasa dibuang begitu saja saat tak lagi memenuhi standar dan ekspektasi. Gambaran ini terasa dekat dengan realitas dunia hiburan, di mana mereka yang berada di depan layar dituntut untuk selalu sempurna. Begitu satu cela muncul, semua yang pernah mengaku “mencintai” akan menghilang tanpa jejak.
Dialog mengesankan:
"Hidup adalah perjuangan, kamu yang memutuskan segalanya"
Ending:
Clifhanger
Rekomendasi:
Worth to Watch
(Aluna)
a

0 Komentar