Review Film My Boo (2024) - Ketika Kisah Horor Berubah Menjadi Romansa

 

My Boo (Original Title: Anong) | 2024 | 2h 5m
Genre : Supernatural Horror/Comedy/Drama/Horror/Romance | Negara: Thailand
Director: S Khomkrit Treewimol | Writers: Kirati Kumsat
Pemeran: Maylada Susri, Sutthirak Subvijitra, Pompam Niti Chaichitatorn
IMDB: 6.2
My Rate : 7/10

My Boo mengisahkan Joe, seorang gamer yang mendapat pemberian rumah terbengkalai kakeknya, namun rencana menjualnya gagal karena rumah tersebut dihuni hantu gentayangan. Alih-alih menyerah, Joe justru memanfaatkan keberadaan para hantu untuk menghasilkan uang—hingga tanpa disadari, rasa cinta mulai tumbuh di hatinya pada Anong, salah satu hantu di rumah itu.

 

Peringatan:

Adegan kekerasan, kata kasar, dan alkohol

 

Sinopsis :

Joe tidak mendapatkan bagian dari warisan kakeknya karena pesan terakhir yang ditinggalkan sang kakek tak sempat ia selesaikan sebelum kematian datang. Namun, salah satu sepupunya berbaik hati memberikan rumah terbengkalai yang menjadi bagiannya kepada Joe. Niat menjual rumah itu pun gagal ketika hantu gentayangan—Anong dan dua pembantunya—menampakkan diri.

Ketakutan Joe perlahan berubah menjadi simpati. Ia mulai menelusuri latar belakang mereka dan menemukan kisah pilu yang tertinggal, hingga berjanji membantu menemukan kerangka mereka agar bisa pergi dengan tenang. Demi membayar utangnya pada debt collector, Joe kemudian membuka rumah hantu dengan bantuan Anong dan para hantu lain—sebuah kesepakatan yang mempererat hubungan mereka, menumbuhkan rasa cinta, dan membawa kesuksesan tak terduga.

Namun segalanya terancam ketika sang sepupu mengalami kerugian dan berniat mengambil kembali rumah tersebut. Dengan waktu yang semakin terbatas, Joe dihadapkan pada pilihan sulit antara menepati janji, mempertahankan cinta, atau kehilangan semuanya.

Akankah Joe mampu menepati janjinya sebelum semuanya terlambat?

 

Ulasan :

Biasanya, hantu hadir dalam bayangan kita sebagai sosok menyeramkan yang membuat siapa pun enggan menatapnya. Namun bagaimana jika sebaliknya? My Boo menyajikan kisah hantu dengan pendekatan yang berbeda—bukan lewat teror dan kegelapan, melainkan melalui penampilan dan kehadiran yang justru membuat penonton jatuh hati.

Cerita dibuka dengan adegan misterius melalui mimpi buruk yang dialami Joe, sang tokoh utama. Mimpi itu perlahan berubah menjadi kenyataan ketika ia harus berurusan dengan rumah peninggalan kakeknya. Dari sinilah penonton diperkenalkan pada Anong dan dua pembantunya, sosok-sosok penting yang mengubah arah hidup Joe.

Alih-alih mempertahankan suasana mencekam, film ini justru memilih nuansa cerah dengan dialog ringan dan sentuhan humor yang kadang terasa konyol. Unsur komedi hadir secara alami, membuat cerita berkembang perlahan tanpa paksaan, sekaligus menegaskan bahwa film ini tidak berniat menakut-nakuti.

Konflik mulai terasa ketika perasaan cinta dan cemburu muncul di antara para tokohnya. Kebimbangan pun hadir, bersamaan dengan kesadaran akan batas yang tak mungkin dilewati antara manusia dan hantu. Meski konflik besar tidak terlalu ditonjolkan, hal tersebut tidak menjadi kelemahan, melainkan bagian dari pendekatan cerita yang lebih lembut dan personal.

Menjelang akhir, cerita terasa bergerak lebih cepat dibandingkan pembangunan konfliknya. Sebuah twist kecil disisipkan tanpa mengubah arah utama kisah. Meski demikian, perkembangan karakter—terutama Joe—tersampaikan dengan cukup jelas. Akhir cerita pun dapat disebut bahagia, meski dengan definisi kebahagiaan yang tidak sepenuhnya konvensional.

Dari sisi akting, para pemain tampil cukup meyakinkan. Perpindahan karakter saat Anong merasuki beberapa tokoh lain terlihat jelas dan konsisten. Cerita disusun secara sistematis dan ringan, lebih berfokus pada interaksi romantis ketimbang jumpscare atau visual menyeramkan.

Secara teknis, beberapa efek CGI memang tampak kurang natural, seperti pada latar tertentu atau pergerakan tubuh hantu. Namun hal ini tidak terlalu mengganggu dan masih dapat dimaklumi, mengingat unsur komedi menjadi bagian penting dari film. Pemilihan musik dan lagu soundtrack juga bekerja dengan baik, memberi lapisan emosi tambahan melalui lirik yang selaras dengan adegan.

Pada akhirnya, My Boo bukanlah film tentang ketakutan akan hantu, melainkan tentang keberanian untuk mencintai sesuatu yang mustahil. Film ini mengajak penonton untuk melihat bahwa kehangatan, kehilangan, dan penerimaan tidak selalu datang dari dunia yang hidup. Kadang, justru dari mereka yang telah pergi—namun masih ingin dicintai.

 
Adegan yang mengesankan:  

Joe akhirnya mengatakan yang sebenarnya kepada Kong tentang perasaannya terhadap Anong. Kejujuran itu tidak disambut dengan harapan, melainkan kenyataan pahit. Kong menyadarkan Joe bahwa hubungan tersebut tak akan pernah berhasil—manusia dan hantu berada di dua dunia yang mustahil dipersatukan, bahkan jika harus melalui reinkarnasi berkali-kali.

Adegan ini memperlihatkan bagaimana cinta kerap mengaburkan batas logika dan mendorong seseorang untuk terus mengejar sesuatu yang tak mungkin. Namun di titik tertentu, dorongan itu tak lagi bisa disebut cinta, melainkan obsesi. Sebab cinta tidak selalu tentang memiliki dengan segala cara. Terkadang, melepaskan—meski menyakitkan—justru menjadi bentuk cinta yang paling jujur.

 
Dialog mengesankan:

"Thank you for making me feel alive again"

 

Ending:

Bittersweet Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna)

 


Posting Komentar

0 Komentar