Review Film My Love Story with Yamada-kun at Lv999 (2025) - : Romansa Ringan dengan Konflik yang Terasa Datar

 

My Love Story with Yamada-kun at Lv999 (Original title: Yamada-kun to Lv999 no Koi wo Suru) | 2025 | 1h 58m
Genre : Feel-Good Romance/Romantic Comedy/Comedy/Romance | Negara: Japan
Director: Yûka Yasukawa | Writers: Anna Kawahara, Mashiro
Pemeran: Ryûto Sakuma, Mizuki Yamashita, Noa
IMDB: 6.4
My Rate : 6/10

Akane yang baru saja putus mencoba menarik kembali perhatian pacarnya dengan hadir dalam acara game online, namun justru mempertemukannya dengan Yamada, seorang pemain game profesional yang dikenal dingin, hingga perlahan romansa mulai tumbuh di antara mereka.

Peringatan:

Terdapat adegan sensual dan kata kasar

 

Sinopsis :

Akane harus mengakhiri hubungannya setelah pacarnya ketahuan berselingkuh dengan teman mainnya di game online. Ia yang ikut bermain demi menyesuaikan diri dengan kesukaan sang pacar, kini merasa usahanya menjadi sia-sia. Namun, tanpa disadari, game itu justru menjadi awal dari sesuatu yang baru baginya.

Dengan niat menarik perhatian sang mantan, Akane menghadiri pertemuan offline yang diadakan oleh game tersebut. Di sana, ia justru bertemu dengan Yamada, pemain profesional yang dikenal dingin dan sulit didekati. Interaksi tak terduga di antara mereka perlahan membawa keduanya semakin dekat, terutama setelah Akane bergabung dengan guild tempat Yamada berada.

Akankah perasaan cinta benar-benar tumbuh di antara mereka?

 

Ulasan :

Game online kini menjadi ruang di mana banyak interaksi terjadi. Pertemuan yang tidak terduga hingga tumbuhnya perasaan dapat mengubah kehidupan seseorang, baik menjadi lebih baik maupun sebaliknya. My Love Story with Yamada-kun at Lv999 yang diadaptasi dari webcomic berjudul Yamada-kun to Lv999 no Koi wo Suru karya Mashiro mencoba mengangkat hal tersebut menjadi kisah drama percintaan yang ringan, meski potensinya belum sepenuhnya tergali dan kurang meninggalkan kesan yang kuat.

Cerita dimulai dengan pengenalan tokoh Akane dan berakhirnya hubungan percintaannya. Penonton kemudian diperkenalkan pada dunia game online yang ia mainkan, tempat interaksi pertamanya dengan Yamada terjadi. Pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja menjadi penghubung antar tokoh dan perlahan membawa cerita berkembang.

Konflik hadir dalam berbagai bentuk, baik dari dalam diri tokoh maupun dari luar. Namun, sebagian besar konflik tetap bersumber dari Yamada, mulai dari kecemburuan anggota guild terhadap kedekatannya dengan Akane hingga perasaan yang tumbuh di antara keduanya. Kehadiran pihak ketiga pun sempat memberi potensi gejolak baru.

Sayangnya, berbagai konflik tersebut terasa datar dan tidak benar-benar digali lebih dalam. Perpindahan dari satu konflik ke konflik lain berlangsung cukup cepat, sehingga kesan yang ditinggalkan tidak sempat menetap.

Penyelesaian cerita berjalan dengan baik, menghadirkan akhir yang bahagia bagi para tokohnya, meski arahnya mudah ditebak. Kehadiran adegan after credit menjadi tambahan yang manis dan memberi penutup yang lebih hangat. Perkembangan karakter juga tetap terlihat, meski tidak sepenuhnya maksimal.

Kedangkalan cerita ini masih bisa dipahami, mengingat tidak mudah merangkum cerita dari komik atau anime ke dalam durasi film yang terbatas. Banyaknya kejadian yang ingin ditampilkan membuat fokus utama terasa kurang terjaga. Sehingga pemilihan yang tepat untuk fokus utama yang ingin diangkat dan dieksplorasi lebih dalam memang diperlukan.

Kekurangan juga terlihat pada pembangunan chemistry antara Yamada dan Akane yang kurang mendalam. Interaksi di antara keduanya tidak terlalu banyak, sementara elemen game yang awalnya terasa penting justru menjadi latar semata. Padahal, dari judulnya, film ini seolah menjanjikan sesuatu yang lebih dari aspek tersebut.

Di sisi lain, film ini tetap nyaman untuk ditonton. Akting para pemain terasa natural, didukung dengan visual yang menarik. Penggunaan make-up dan kostum tidak berlebihan, namun tetap mempertahankan nuansa komiknya. Pergerakan kamera, detail visual, dan komposisi warna juga tersusun dengan cukup harmonis.

Pada akhirnya, My Love Story with Yamada-kun at Lv999 tetap menawarkan pengalaman menonton yang ringan dan nyaman, meski belum sepenuhnya menggali potensi ceritanya. Di balik kesederhanaannya, ada ruang yang sebenarnya bisa diisi dengan emosi yang lebih dalam, terutama dalam hubungan antar tokohnya. Film ini mungkin tidak meninggalkan kesan yang kuat, tetapi tetap mampu menghadirkan kehangatan yang cukup untuk dinikmati tanpa banyak tuntutan

 

Adegan yang mengesankan:  

My Love Story with Yamada-kun at Lv999 meski merupakan film yang ringan, tetap memiliki adegan yang mengesankan. Yamada menceritakan trauma yang dialaminya kepada Tsubuki, yang membuatnya memilih menjauh dari perempuan. Saat kebaikan yang pernah ia berikan justru berubah menjadi beban ketika diterima dengan makna yang berbeda.

Adegan ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, di mana kebaikan sering kali disalahartikan, terutama ketika melibatkan perasaan. Memberikan perhatian tidak selalu berarti memiliki perasaan lebih. Namun, tanpa batas yang jelas, kesalahpahaman pun mudah muncul.

 

Dialog mengesankan:

"Beberapa orang mungkin menganggapnya serius, jadi lebih baik tidak bercanda tentang percintaan."

 

Ending:

Happy Ending

 

Rekomendasi:

Okay to Watch

 

(Aluna Uwie)


Posting Komentar

0 Komentar