Norwegian Wood (Original title:
Noruwei no mori) | 2010 | 2h 13m
Genre
: Drama/Romance | Negara: Jepang
Director:
Anh Hung Tran |
Writers: Haruki
Murakami, Anh Hung Tran
Pemeran: Ken'ichi Matsuyama, Rinko
Kikuchi, Kiko Mizuhara
IMDB: 6.3
My
Rate : 8/10
Norwegian Wood mengisahkan Toru, seorang mahasiswa yang berusaha melanjutkan hidup setelah kehilangan sahabatnya, Kizuki. Kehidupannya kembali terusik ketika ia terjebak di antara kenangan masa lalu bersama Naoko—kekasih Kizuki—dan harapan masa depan yang diwakili oleh Midori, memaksanya memilih arah hidup yang tak pernah mudah.
Peringatan:
Adegan
sex, ketelanjangan, sensual, rokok, alkohol, dan kata kasar
Sinopsis :
Toru kehilangan sahabatnya, Kizuki,
yang meninggalkan duka mendalam bagi dirinya dan Naoko, kekasih Kizuki. Untuk
melanjutkan hidup, Toru meninggalkan kampung halamannya dan pindah ke Tokyo
demi melanjutkan pendidikan, tanpa menyadari bahwa takdir akan kembali
mempertemukannya dengan Naoko.
Kedekatan Toru dan Naoko perlahan
tumbuh, meski keduanya memilih menghindari pembicaraan tentang Kizuki. Setelah
menghabiskan malam bersama di hari ulang tahun Naoko yang ke-20, Naoko
tiba-tiba menghilang dan memilih tinggal di sebuah sanitarium di Kyoto, ketika
kesedihan yang terpendam kembali menghantamnya.
Meski terpukul, Toru tetap berusaha
menjaga hubungannya dengan Naoko. Di saat yang sama, Midori hadir dalam
hidupnya—menawarkan bentuk cinta yang lebih hidup dan terbuka. Meski Midori
telah memiliki kekasih dan mengetahui kondisi Toru, perasaan di antara mereka
tetap tumbuh tanpa bisa dihindari.
Apakah Toru akan bertahan pada cinta
yang terikat oleh kehilangan, atau melangkah menuju masa depan yang belum tentu
aman?
Ulasan :
Kematian adalah sesuatu yang tak
terhindarkan, dan sering kali meninggalkan luka yang sulit disembuhkan—terutama
ketika kematian itu terjadi akibat pilihan yang disengaja. Melalui Norwegian
Wood, film adaptasi novel karya Haruki Murakami, kesedihan yang terpendam
tersebut dihadirkan ke permukaan dengan cara yang sunyi dan personal.
Cerita dibuka dengan suasana hangat
dan penuh kebahagiaan, memperlihatkan hubungan manusia yang tampak sempurna.
Namun ketenangan itu runtuh seketika ketika Kizuki memilih mengakhiri hidupnya.
Tanpa hiruk pikuk, adegan tersebut justru disajikan dalam keheningan yang
menyayat.
Toru sebagai tokoh utama kemudian
muncul dengan perubahan emosi yang signifikan. Pelariannya menuju kehidupan
baru menjadi sorotan, hingga masa lalu kembali hadir dalam sosok Naoko—bukan
sebagai nostalgia yang manis, melainkan luka yang belum sembuh.
Kedekatan Toru dan Naoko terbangun
bukan atas dasar cinta, melainkan duka dan trauma yang sama. Mereka saling
memahami tanpa banyak kata. Namun, kedekatan ini justru menjadi pintu bagi
konflik batin yang semakin dalam.
Konflik semakin kuat dengan
kehadiran Midori, yang membawa energi dan luka hidupnya sendiri. Kedekatan Toru
dan Midori menghadirkan kenyamanan yang nyata, sekaligus rasa bersalah yang
sulit dihindari, menempatkan Toru di persimpangan emosional yang menyakitkan..
Penyelesaian cerita disajikan dengan
tenang dan dewasa. Setiap tokoh menemukan caranya masing-masing untuk
menghadapi kesedihan, meski tidak semua berakhir dengan kebahagiaan. Namun dari
perbedaan itu, film tetap menawarkan kedamaian yang lembut dan tak terucap.
Salah satu kelemahan film ini
terletak pada alur yang terasa kurang mengalir. Perpindahan adegan yang cukup
cepat membuat cerita terasa terputus, meski tidak sampai merusak keseluruhan
narasi.
Kekuatan Norwegian Wood justru hadir
lewat penyampaian yang tersirat. Simbol, dialog, dan keheningan digunakan untuk
menyampaikan emosi dengan lebih bermakna. Adegan intim pun tidak disajikan
secara erotis, melainkan sebagai bentuk kebutuhan untuk bertahan dan merasa
hidup. Simbol luka di telapak tangan Toru menjadi salah satu adegan paling
berkesan, menggambarkan trauma yang terus ia simpan hingga akhirnya berani
dibuka—sebuah tanda bahwa ia mulai berdamai dengan dirinya sendiri.
Mungkin sebagian penonton akan
merasa tidak nyaman dengan karakter tokoh yang menjadikan obrolan vulgar
sebagai sesuatu yang lumrah. Namun, hal tersebut juga dapat dibaca sebagai
bentuk kedekatan tanpa batas—jenis percakapan yang hanya mungkin terjadi ketika
dua orang telah cukup intim dan saling membuka diri tanpa sekat.
Akting para pemain ditampilkan
dengan natural dan tidak berlebihan. Tidak hanya pemeran utama, begitu pula
dengan pemeran pendukung lainnya. Dalam ketenangan, seluruh emosi berhasil
tersampaikan dengan kuat, didukung oleh pergerakan kamera, musik, dan timing
yang dieksekusi dengan sangat baik.
Pada akhirnya, Norwegian Wood
bukanlah film tentang kehilangan semata, melainkan tentang bagaimana manusia
memilih hidup setelah kehilangan itu terjadi. Sebuah kisah sunyi yang tidak
menawarkan jawaban pasti, tetapi memberi ruang bagi penonton untuk merasakan,
memahami, dan mungkin—berdamai.
Adegan yang mengesankan:
Hatsumi merasa dikecewakan oleh cara
Nagasawa memperlakukan hubungan mereka seolah hanya sebuah permainan. Alih-alih
meluapkan amarah secara langsung, ia melontarkan pertanyaan bernada sindiran
kepada Toru—jawaban yang justru menjadi refleksi pahit tentang komitmen,
kesetiaan, dan posisi dirinya dalam hubungan tersebut.
Adegan ini menyoroti perbedaan cara
pandang antara laki-laki dan perempuan terhadap makna kesetiaan. Bagi sebagian
pria, hubungan fisik tanpa keterlibatan perasaan kerap dianggap bukan
pengkhianatan, sementara bagi perempuan, tindakan tersebut tetap melukai karena
merendahkan nilai dan sakralnya sebuah hubungan. Pada akhirnya, adegan ini
mengingatkan bahwa kesetiaan bukan soal batas yang dinegosiasikan, melainkan
kesadaran untuk tidak menyakiti—bahkan ketika kita merasa tidak bersalah.
Dialog mengesankan:
"Tak ada ang bisa menyembuhkan rasa sakit dari kehilangan orang yang dicintai"
Ending:
Clifhanger
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna)
a

0 Komentar