Pulse (Original Title: Kairo)
| 2001| 1h 59m
Genre
: Psychological Horror/Supernatural Horror/Horror/Mystery/Sci-Fi/Thriller
| Negara: Japan
Director:
Kiyoshi Kurosawa |
Writers: Kiyoshi
Kurosawa
Pemeran: Haruhiko Katô, Kumiko
AsôKoyuki
IMDB: 6.6
My
Rate : 7/10
Pulse (atau Kairo) mencoba membawa kengerian melalui teknologi, ketika koneksi digital perlahan menjadi pintu masuk bagi sesuatu yang tak terlihat, yang sedikit demi sedikit mempengaruhi manusia. Michi dan Ryosuke merasakan kejanggalan yang terus bertambah: gangguan kecil yang awalnya tampak sepele, namun perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi dijelaskan secara rasional.
Peringatan:
Adegan
bunuh diri dan melukai diri sendiri
Sinopsis :
Michi mulai curiga ketika rekan
kerjanya tiba-tiba tidak dapat dihubungi. Keputusannya mengunjungi apartemen
sang rekan justru membuatnya menyaksikan kematian misterius yang tak pernah ia
bayangkan, sementara sebuah disket yang ditinggalkan menyimpan rekaman ganjil
yang sulit dijelaskan. Sebuah ruang terlarang pun seakan menjadi petunjuk atas
penyebab peristiwa tersebut.
Di
sisi lain, Ryosuke yang baru mencoba terkoneksi ke internet justru mendapati
video-video aneh terputar sendiri di komputernya. Dalam usahanya memahami
gangguan itu, ia bertemu Harue yang tengah melakukan penelitian dan merasa
temuannya memiliki keterkaitan dengan fenomena yang terjadi.
Tanpa mereka sadari, rangkaian
peristiwa ini saling terhubung—sebuah portal perlahan terbuka antara dunia
manusia dan dunia hantu. Jiwa-jiwa yang diliputi rasa kosong seakan terpanggil
untuk menghilang, seperti yang terjadi pada rekan Michi dan orang-orang dalam
video misterius tersebut.
Mampukah
mereka mengungkap misteri di balik teror ini sebelum mereka ikut lenyap tanpa
jejak?
Ulasan :
Bayangkan hantu menggunakan internet
dan menjadikannya sebagai portal untuk mempengaruhi dunia manusia. Terdengar
tidak masuk akal, bahkan sedikit menggelitik, karena bagaimana mungkin makhluk
tak kasat mata bisa terhubung secara digital. Namun dalam Pulse, film horor
Jepang karya Kiyoshi Kurosawa, konsep tersebut justru diolah menjadi kengerian
yang sunyi dan merayap perlahan.
Pondasi cerita dibangun dengan cukup
kuat melalui dua alur yang terpisah, tetapi saling terhubung secara tidak
langsung. Kematian rekan Michi menjadi pintu masuk misteri, sementara video
yang muncul di komputer Ryosuke memancarkan aura serupa—kekosongan dan
kehampaan yang terasa menular. Petunjuk demi petunjuk dalam adegan dan dialog
perlahan mempertegas arah cerita.
Konflik semakin terasa ketika
orang-orang di sekitar mereka mulai bertingkah aneh dan menghilang tanpa jejak.
Penampakan asing muncul di berbagai ruang, tetapi teror terbesar justru hadir
dari dalam diri para tokohnya sendiri. Kekosongan itu bukan hanya fenomena
eksternal, melainkan sesuatu yang perlahan menggerogoti batin.
Penyelesaian dilakukan dengan cukup
halus. Pertemuan dua tokoh utama tidak terasa dipaksakan, dan misteri terkuak
sedikit demi sedikit. Meski demikian, film ini tetap menyisakan pertanyaan
besar—bukan hanya tentang nasib para tokohnya, tetapi tentang kondisi dunia
yang lebih luas.
Dalam salah satu dialog disebutkan
bahwa dunia hantu telah penuh, sehingga mereka mulai mengintervensi dunia
manusia. Namun kontradiksi muncul ketika para hantu justru membuat manusia
mengakhiri hidupnya dan bergabung dengan mereka. Di sinilah film membuka ruang
tafsir: apakah ini tentang kematian, atau tentang kesepian yang tak
tertahankan? Apakah manusia dibawa agar para hantu tidak lagi merasa sendiri?
Kelemahan film ini bukan pada
idenya, melainkan pada transisi adegan yang kadang terasa patah. Dua alur
cerita memang dirancang untuk bertemu, tetapi peralihannya kerap tampak
terpisah secara kasar. Beberapa adegan juga terasa kurang penting, seolah hanya
menjaga karakter tetap bergerak tanpa memberi dampak berarti.
Kejanggalan lain terlihat di awal
film ketika seorang rekan Michi menemukan ruangan tersegel dengan lakban merah
di sebuah lokasi konstruksi. Alih-alih menghindar, ia justru membukanya dan
masuk begitu saja, membuat konflik terasa sedikit dipaksakan.
Dari sisi akting, tidak ada yang
terlalu menonjol, begitu pula dengan penggunaan musik yang terkadang kurang
selaras dengan suasana adegan. Namun kekuatan utama Pulse tetap terletak pada
makna yang diangkatnya—hubungan antara kematian dan kehampaan manusia modern.
Pada akhirnya, Pulse bukan sekadar
film tentang hantu dan teknologi, melainkan refleksi sunyi tentang kesepian di
era modern. Internet yang seharusnya menghubungkan justru menjadi ruang
isolasi, sementara rasa kosong yang tak tersuarakan berubah menjadi teror yang
nyata. Film ini mungkin tidak menawarkan jawaban pasti, tetapi justru di
situlah letak kekuatannya—ia membiarkan penonton pulang dengan kegelisahan yang
masih menggema lama setelah layar menjadi gelap.
Adegan yang mengesankan:
Salah satu adegan paling mengesankan
dalam Pulse adalah ketika Harue merasa bahwa kematian mungkin bisa memberinya
ketenangan dari rasa kosong yang ia rasakan. Ryosuke tidak tinggal diam; ia
mencoba meyakinkan bahwa hidup, meski terasa hampa, tetap lebih berarti
daripada menyerah pada kematian, dan bahwa mereka masih harus belajar
menghargainya. Keyakinan yang coba ditanamkan pada diri Harue yang putus asa.
Adegan ini terasa begitu dekat
dengan kenyataan. Rasa kosong, kehilangan arah, dan kebingungan akan tujuan
hidup kerap membuat seseorang berpikir bahwa kematian adalah jalan keluar.
Namun apakah kita benar-benar yakin kekosongan itu tidak akan ikut terbawa ke
dalamnya?
Dialog mengesankan:
"Semua orang akan tetap sendirian setelah mati"
Ending:
Sad
Ending
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna)

0 Komentar