A Good Child (Original title: Hao
haizi) | 2025 | 1h 45m
Genre
: Drama | Negara: Singapore
Director:
Kuo-Sin Ong |
Writers: Kuo-Sin Ong
Pemeran: Richie Koh, Huifang Hong,
Cheryl Chou
IMDB: 7.3
My
Rate : 9/10
A Hao, seorang drag queen yang selama ini mendapatkan penolakan dari keluarganya, terpaksa kembali ke rumah setelah kematian ayahnya untuk merawat ibunya yang mengalami dementia—sebuah perjalanan yang perlahan membuka rahasia masa lalu sekaligus pencarian jati dirinya.
Peringatan:
Adegan
kata kasar, rokok, alkohol, LGBT
Sinopsis :
A Hao bekerja sebagai drag queen di
sebuah klub, identitas yang selama ini mendapat penolakan dari keluarganya yang
konservatif, terutama sang ayah. Namun kematian ayahnya yang tiba-tiba menjadi
kabar yang mengguncangkan. Kembali ke rumah akhirnya menjadi sesuatu yang tidak
dapat dihindari.
Setelah kepergian sang ayah, ibunya
mulai menunjukkan perilaku aneh yang kemudian diketahui sebagai gejala
demensia. Kondisi ini membuat sang ibu tidak lagi mampu menjalani kehidupannya
tanpa pengawasan. A Hao dan kakaknya pun sepakat untuk merawatnya, meskipun
pada akhirnya sebagian besar tanggung jawab itu jatuh kepada A Hao.
Seiring
waktu, ibunya mulai merasa nyaman dengan kehadiran A Hao, meskipun sesekali
trauma masa lalu masih muncul ke permukaan. A Hao bahkan mencoba memperkenalkan
ibunya pada dunia yang selama ini ia jalani—bertemu dengan teman-temannya dan
menyaksikan pertunjukan drag yang ia tampilkan. Perlahan, kebahagiaan mulai
terlihat di wajah sang ibu.
Namun di balik perubahan itu,
pandangan negatif keluarga terhadap identitas A Hao masih menjadi bayang-bayang
yang sulit dihindari.
Akankah A Hao akhirnya mendapatkan
penerimaan dari keluarganya?
Ulasan
:
A Good Child (2025) merupakan film
yang didasarkan pada karakter drag queen asal Singapura, Sammi Zhen (nama asli
Christopher Lim). Film ini mengangkat tema sensitif mengenai kehidupan seorang
drag queen dan penerimaan masyarakat terhadap identitas tersebut. Namun lebih
dari itu, film ini juga berbicara tentang keluarga, kasih sayang seorang ibu
yang tak ternilai, serta perjalanan panjang dalam menemukan jati diri.
Tokoh utama diperkenalkan dengan
cara yang menarik namun tetap elegan. Pengambilan gambar melalui teknik extreme
close-up menampilkan siluet tokoh utama dengan sentuhan visual yang estetik.
Keindahan yang ditampilkan di layar ini kemudian berbanding terbalik dengan
narasi yang mengikutinya, yang perlahan membuka konflik utama dalam cerita.
Telepon dari sang ibu yang tidak
diangkat, ketidakhadiran dalam acara keluarga, hingga komentar buruk mengenai
sang anak menjadi tanda-tanda retaknya keharmonisan keluarga. Situasi ini
semakin memanas setelah kematian sang ayah yang terjadi secara tiba-tiba,
membuat konflik berkembang tanpa banyak pengantar. Trauma yang muncul dalam
beberapa adegan—baik dari sisi A Hao, ibunya, maupun kakaknya—semakin
memperkuat ketegangan emosional di dalam cerita.
Konflik berkembang secara perlahan,
memberi ruang bagi penonton untuk meresapi setiap emosi yang muncul. Penonton
diajak memahami perasaan tiap tokohnya tanpa merasa tergesa-gesa. Demensia yang
dialami sang ibu menjadi pintu yang membuka berbagai lapisan masalah lain dalam
keluarga tersebut. Konflik internal yang dialami masing-masing tokoh terasa
kuat dan realistis.
Penyelesaian cerita disajikan dengan
cukup memuaskan dan memukau. Twist yang muncul tidak mudah ditebak sejak awal,
tetapi mampu menyatukan berbagai potongan cerita menjadi satu benang merah yang
masuk akal. Perkembangan karakter dari masing-masing tokoh juga terlihat dengan
jelas, membawa cerita menuju akhir yang terasa layak bagi perjalanan mereka.
Selain ide cerita yang menyentuh,
akting para pemain juga menjadi kekuatan utama film ini. Richie Koh berhasil
memberikan penampilan yang memukau sebagai A Hao. Bahkan Sammi Zhen sendiri
mengakui bahwa Richie mampu memerankan dirinya dengan sangat mirip. Para pemain
lainnya juga tampil solid, sehingga tidak terlihat adanya ketimpangan kualitas
akting. Ekspresi, intonasi, dan emosi yang ditampilkan terasa natural tanpa
kesan berlebihan.
Dari sisi teknis, pemilihan musik,
transisi adegan, pengambilan gambar, hingga komposisi warna dilakukan dengan
penuh perhatian terhadap detail. Semua elemen tersebut bekerja sama dengan baik
untuk membawa penonton dalam perjalanan emosi yang naik turun di setiap
adegannya.
Meski demikian, film ini tidak
sepenuhnya tanpa kekurangan. Dengan pondasi cerita dan konflik yang dibangun
dengan begitu kuat sejak awal, perjalanan menuju penyelesaian terasa sedikit
terburu-buru. Beberapa adegan berpindah dengan cukup cepat, sehingga memberi
kesan bahwa cerita ingin segera mencapai akhir. Namun kekurangan ini tidak
terlalu mengganggu keseluruhan pengalaman menonton yang tetap terasa menyentuh.
Pada akhirnya, A Good Child bukan
hanya sebuah cerita tentang identitas seorang drag queen, tetapi juga tentang
luka, penerimaan, dan hubungan keluarga yang rumit. Film ini mengingatkan bahwa
perjalanan menemukan jati diri sering kali tidak berjalan mudah, terutama
ketika harus berhadapan dengan harapan dan penilaian orang-orang terdekat.
Melalui kisah A Hao, penonton diajak melihat bahwa di balik konflik dan
penolakan, selalu ada ruang bagi pemahaman dan kasih sayang untuk tumbuh
kembali.
Adegan yang mengesankan:
Film A Good Child memiliki banyak
adegan yang mengesankan dan menyentuh hati. Salah satu yang paling berkesan
terjadi ketika A Hao akhirnya mengetahui rahasia masa lalu yang selama ini
tersembunyi. Sebuah kenyataan yang perlahan menjelaskan mengapa hidupnya terasa
berantakan dan mengapa ia begitu lama kehilangan arah tentang siapa dirinya
sebenarnya.
Selama ini A Hao selalu menyalahkan
dirinya sendiri atas segala yang terjadi. Namun kenyataan yang terungkap
menunjukkan bahwa tidak semuanya merupakan kesalahannya. Adegan ini terasa
sederhana, tetapi dekat dengan realitas yang sering terjadi. Seorang anak kerap
menjadi pihak yang paling mudah disalahkan ketika hidupnya berjalan kacau—entah
karena dianggap memiliki pola pikir yang salah atau karena lingkungan
pergaulannya. Padahal sering kali dilupakan bahwa peran orang tua memiliki
pengaruh besar dalam membentuk arah dan karakter anak-anak mereka.
Dialog mengesankan:
"Aku berbeda, tetapi aku bukan lelucon."
Ending:
Happy
Ending
Rekomendasi:
Must
Watch
(Aluna
Uwie)

0 Komentar