Review Film House of Sayuri (2024) - Horor Rumah Berhantu dengan Twist Komedi Tak Terduga


 

House of Sayuri (Original title: Sayuri) | 2024 | 1h 48m
Genre : Horror/Comedy | Negara: Japan
Director: Kôji Shiraishi | Writers: Mari Asato, Rensuke Oshikiri, Kôji Shiraishi
Pemeran: Fusako Urabe, Kitarô, Ryôka Minamide
IMDB: 6
My Rate : 7/10

Norio dan keluarga besarnya pindah ke rumah impian mereka, tanpa menyadari bahwa di balik dinding yang tampak sempurna, gangguan demi gangguan menunggu untuk merenggut hampir seluruh keluarga itu.

Peringatan:

Adegan kekerasan, kata-kata kasar, rokok, bunuh diri

 

Sinopsis :

Ayah Norio membeli sebuah rumah besar yang menjadi impian keluarga mereka dan mengajak seluruh anggota keluarga untuk tinggal bersama. Namun, tanpa mereka sadari, rumah itu menyimpan rahasia kelam yang perlahan mulai terasa. Sejak awal, suasana tidak nyaman telah dirasakan oleh Shun, si anak bungsu, dan juga sang nenek—sebuah firasat yang belum dapat dijelaskan.

Gangguan mulai muncul satu per satu, semakin terasa setelah Keiko, kakak perempuan Norio, melakukan tindakan kekerasan yang bahkan tidak ia sadari. Di sisi lain, Nao, teman sekolah Norio yang memiliki kemampuan melihat sesuatu yang tak kasatmata, memperingatkannya tentang kegelapan yang menyelubungi dirinya. Namun Norio memilih untuk mengabaikan peringatan itu.

Kejadian demi kejadian terus menghantui keluarga tersebut, hingga kematian sang ayah menjadi titik yang tak lagi bisa dianggap kebetulan. Meski begitu, mereka tetap bertahan di rumah itu demi menghargai jerih payah ayah mereka. Keputusan yang lahir dari rasa hormat, namun perlahan berubah menjadi pertaruhan berbahaya ketika Sayuri tidak berhenti mengganggu dan membahayakan mereka.

Mampukah keluarga ini bertahan dari teror yang telah lebih dulu menunggu di dalam rumah impian mereka?

 

Ulasan :

Bayangkan kamu mengumpulkan uang dengan susah payah demi membeli rumah impian. Namun yang menyambut bukan kehangatan keluarga, melainkan kegelapan dan kutukan. Apakah kamu akan melepaskannya, atau tetap bertahan demi semua pengorbanan yang sudah dilakukan? Premis inilah yang diangkat dalam House of Sayuri (2024), film yang memadukan ketegangan horor dengan komedi yang tidak biasa.

Cerita dibuka dengan adegan menegangkan ketika seorang ibu membujuk anaknya, Sayuri, yang mengurung diri di kamar untuk makan bersama. Alih-alih respons hangat, yang muncul justru kekerasan yang tak terduga. Dari sana, alur berpindah ke masa depan ketika Norio dan keluarganya menempati rumah tersebut. Latar belakang cerita dibangun cukup kuat, memberi kesan bahwa ada sesuatu yang telah lama menunggu.

Perkenalan tokoh dilakukan dengan rapi meski jumlahnya cukup banyak. Penonton tetap dapat mengenali siapa yang menjadi pusat cerita melalui dialog, tingkah laku, dan porsi kemunculan mereka. Konflik meningkat perlahan, dari gangguan kecil hingga kematian ayah Norio yang menjadi titik balik emosional. Rumah yang semula dipenuhi harapan berubah menjadi ruang sunyi yang dipenuhi kehilangan, hingga akhirnya Sayuri menampilkan sosoknya dan membuka tabir masa lalu.

Cerita diselesaikan dengan cukup baik dan sesuai dengan harapan. Setiap tokoh menunjukkan perkembangan yang terasa, baik mereka yang masih bertahan maupun yang telah pergi. Misteri terungkap, dendam menemukan jalannya, dan masing-masing harus kembali menjalani hidup dengan bekas yang tak lagi bisa dihapus.

Yang menarik, film ini tidak sepenuhnya tenggelam dalam horor. Setengah perjalanan, ketegangan dibangun melalui penampakan dan suara mengerikan yang cukup efektif. Namun di paruh akhir, arah cerita berubah menjadi komedi yang absurd dan tak terduga. Pergeseran ini menjadikan film terasa unik—meski bagi sebagian penonton mungkin terasa mengejutkan.

Karakter nenek yang sejak awal tampak janggal—baik dari dandanan maupun sikapnya—ternyata bukan kekeliruan teknis, melainkan bagian dari konstruksi humor yang cerdas. Justru di sanalah letak kecerdikan film ini. Apa yang awalnya terasa aneh perlahan berubah menjadi pondasi twist komedi yang tak terduga.

Dari sisi teknis, pergerakan kamera, komposisi warna, serta penggunaan musik cukup mendukung suasana. Sayangnya, efek CGI di beberapa adegan, terutama saat pertarungan dengan Sayuri, terlihat kurang halus sehingga sedikit mengurangi intensitasnya.

Pada akhirnya, di balik horor dan komedi yang ditampilkan, House of Sayuri juga menyimpan pesan tentang cara manusia menghadapi kehilangan dan dendam yang diwariskan. Makna hidup dalam cerita ini tidak hadir secara menggurui, melainkan melalui pilihan-pilihan yang diambil para tokohnya. Para pemain berhasil menyampaikan nuansa tersebut dengan gaya akting yang unik, meski tidak selalu terasa istimewa.

Rumah impian dalam film ini menjadi simbol bahwa tidak semua yang diperjuangkan dengan susah payah akan menghadirkan kebahagiaan. Terkadang, yang tersisa bukanlah tempat untuk pulang, melainkan ruang untuk belajar melepaskan.

 

Adegan yang mengesankan:  

Salah satu adegan paling mengesankan adalah ketika Norio dan neneknya kembali ke rumah mereka. Dalam suasana yang masih menyisakan luka, sang nenek meminta Norio untuk tertawa—permintaan yang terdengar sederhana, tetapi terasa begitu berat setelah kejadian buruk yang mereka alami. Ia percaya bahwa bahkan tawa yang dipaksakan sekalipun dapat menjadi awal dari langkah kecil dan kekuatan untuk bertahan.

Adegan ini terasa dekat dengan kenyataan. Tidak semua kebahagiaan lahir dari hati yang utuh; kadang ia dimulai dari usaha kecil yang tampak dibuat-buat. Mungkin dari sana, perlahan, sesuatu yang retak di dalam diri mulai menemukan celah untuk pulih.

 

Dialog mengesankan:

"Dia harus tahu kalau dendam orang yang masih hidup itu lebih menakutkan"

 

Ending:

Happy Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna)

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar