Review Film Salve Maria (2024) - Ketika Seorang Ibu Perlahan Kehilangan Dirinya

 

Salve Maria | 2024 | 1h 51m
Genre : Psychological Horror/Psychological Thriller/Drama/Horror/Thriller| Negara: Spain
Director: Mar Coll  | Writers: Mar Coll, Valentina Viso, Katixa Agirre
Pemeran: Laura Weissmahr, Oriol Pla, Giannina Fruttero
IMDB: 6.2
My Rate : 7/10

Maria, seorang ibu baru dan penulis, mengalami guncangan mental setelah kelahiran anaknya, yang semakin kuat ketika ia mendengar berita tentang seorang ibu yang menenggelamkan dua bayinya—membuatnya mulai mempertanyakan pergulatan yang dihadapi para ibu, termasuk dirinya sendiri.

Peringatan:

Adegan ketelanjangan, alkohol, dan kata kasar

 

Sinopsis :

Maria, seorang penulis yang baru saja menjadi ibu, harus menghadapi kerepotan dan tekanan besar dalam mengurus bayinya. Meski tidak benar-benar sendiri karena tinggal bersama Nico, kekasihnya, Maria tetap merasa terbebani. Nico jarang benar-benar mengambil bagian dalam mengurus anak mereka, membuat Maria perlahan menghadapi semuanya seorang diri.

Sebagai penulis berbakat, Maria juga merasa seolah dipaksa meninggalkan kariernya demi merawat anaknya. Sementara itu, Nico terus menghindar untuk membantu dengan berbagai alasan—pekerjaan yang menumpuk, sulitnya meminta cuti, hingga berbagai dalih yang terdengar semakin tidak meyakinkan. Tekanan yang dirasakan Maria semakin berat ketika ia membaca berita tentang seorang ibu yang menenggelamkan kedua bayi kembarnya di dalam bathtub. Anehnya, berita itu justru membuat Maria merasa bahwa perasaan yang ia alami mungkin tidak sepenuhnya salah atau sendirian.

Rasa penasaran mendorong Maria untuk melakukan riset mendalam tentang kasus tersebut. Ia membaca berbagai berita, mengumpulkan informasi, dan mulai menuliskannya ke dalam cerita. Namun semakin jauh ia menggali, imajinasinya juga semakin liar—bahkan sampai membayangkan berbagai kemungkinan kecelakaan yang dapat menimpa bayinya sendiri.

Demi menemukan jawaban atas kegelisahan yang terus menghantuinya, Maria akhirnya menitipkan anaknya kepada Anna dan diam-diam pergi menemui wanita yang ada dalam berita tersebut tanpa sepengetahuan Nico. Sebuah langkah yang mungkin menjadi cara terakhir bagi Maria untuk memahami perasaannya sendiri—atau mungkin untuk melepaskan beban yang selama ini ia pendam.

Akankah Maria menemukan jawaban atas kegelisahan yang menghantuinya?

 
Ulasan :

Salve Maria, film yang diadaptasi dari novel Amek ez dute karya penulis Basque Katixa Agirre, menggambarkan pertarungan batin yang dialami seorang ibu setelah kelahiran anaknya. Menjadi seorang ibu bukanlah perkara mudah. Kehadiran seorang anak sering kali membawa perubahan besar dalam kehidupan, terutama bagi seorang wanita yang tanpa sadar harus memikul begitu banyak tanggung jawab—mengurus, menjaga, dan merawat buah hatinya. Ketika perhatian dan bantuan dari orang di sekitarnya tidak hadir, beban tersebut perlahan dapat berubah menjadi tekanan mental yang berat.

Topik ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui Salve Maria, film ini seakan ingin mengangkat sesuatu yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka: perasaan sedih, lelah, dan kehilangan diri yang sering kali tersembunyi di balik peran seorang ibu.

Film dibuka dengan adegan Maria yang berpenampilan acak-acakan sambil menggendong bayinya yang terus menangis. Penampilannya menjadi indikasi bahwa ia mulai mengabaikan dirinya sendiri. Ketidakpekaan pasangan juga diperlihatkan melalui Nico yang jarang membantu jika tidak diminta. Bahkan jendela rumah yang rusak seakan menjadi simbol adanya kesenjangan antara kepentingan Maria dan Nico—sebuah pengabaian kecil yang terus berulang.

Frustrasi yang terus menumpuk membawa Maria pada konflik batin yang semakin kuat. Ketegangan meningkat ketika berita tentang seorang ibu yang membunuh anak kembarnya muncul di televisi. Tanpa disadari, muncul keterhubungan emosional yang membuat Maria mulai mempertanyakan banyak hal tentang kehidupan seorang ibu.

Kehadiran Anna, seorang penggemar setia bukunya, serta penghargaan yang diraih Maria dalam dunia kepenulisan membuatnya kembali menyadari bakat yang perlahan terasa menjauh setelah kelahiran anaknya. Karier yang seakan harus disisihkan dan nilai dirinya yang terasa menurun membuat tekanan yang ia rasakan semakin dalam.

Penyelesaian cerita dilakukan dengan cukup baik. Kepasrahan Maria terhadap pergulatan batinnya membawa hasil yang terasa memuaskan, seakan memberikan secercah kebahagiaan yang pantas ia rasakan setelah perjalanan emosional yang panjang.

Kelebihan film ini terletak pada penyajian ceritanya yang runtut dan sistematis. Penonton dapat dengan mudah mengikuti perubahan emosi tokoh utama. Pembagian cerita dengan menggunakan beberapa judul seperti bab dalam sebuah buku juga menjadi cara yang cerdas untuk memperlihatkan tahapan perasaan Maria.

Akting Laura Weissmahr sebagai Maria terasa sangat natural dan kuat. Ia mampu menampilkan kegelisahan, kelelahan, serta keretakan batin tokohnya dengan meyakinkan. Tidak mengherankan jika penampilannya dalam film ini berhasil meraih berbagai penghargaan.

Dari sisi teknis, pergerakan kamera, pengambilan detail gambar, transisi, serta komposisi warna terasa tertata dengan baik. Pemilihan musik dan soundtrack juga mampu mendukung emosi di setiap adegan tanpa terasa berlebihan. Ide cerita disajikan dengan porsi yang pas sehingga konflik batin Maria tetap menjadi pusat perhatian.

Meski demikian, ada sedikit perasaan menggantung pada tokoh Anna. Tokoh ini dapat dilihat sebagai representasi kesuksesan Maria di masa lalu—seorang penggemar yang begitu mengagumi karyanya. Namun, aura misterius yang ditampilkan melalui tatapan dan gerak-geriknya seakan menjanjikan sesuatu yang lebih besar. Sayangnya, potensi tersebut tidak sepenuhnya dieksplorasi dalam cerita.

Pada akhirnya, Salve Maria meninggalkan kesan yang cukup mendalam. Film ini tidak hanya berbicara tentang sulitnya menjadi seorang ibu, tetapi juga tentang bagaimana seorang wanita berusaha mempertahankan dirinya di tengah perubahan besar dalam hidupnya. Sebuah pengingat bahwa di balik semua peran yang dijalani, seorang ibu tetaplah manusia yang membutuhkan ruang untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

 

Adegan yang mengesankan:  

Salah satu adegan paling mengesankan dalam Salve Maria terjadi ketika Maria berada dalam pelukan Nico dan membisikkan perasaan yang selama ini ia sembunyikan: bahwa dirinya ingin agar anaknya mati. Pengakuan itu terasa begitu mengejutkan, tetapi bukan tanpa sebab. Sejak kelahiran anaknya, Maria mengalami guncangan emosi yang sangat berat. Ia merasa perlahan kehilangan dirinya sendiri—tujuan hidupnya, bahkan nilai dirinya sebagai manusia.

Sekilas, adegan ini mungkin terasa sulit diterima. Bagaimana mungkin seorang ibu yang telah mengandung selama sembilan bulan justru membiarkan pikiran seperti itu muncul? Namun kenyataan tidak selalu sesederhana naluri keibuan yang ideal. Kondisi seperti baby blues sering kali membuat seorang ibu terjebak dalam perubahan emosi yang ekstrem. Bukan karena ia benar-benar ingin mencelakai anaknya, tetapi karena perubahan hormon, rutinitas yang tiba-tiba berubah, serta beban yang terasa ditanggung sendirian dapat perlahan menggerus pikirannya—terutama ketika tidak ada yang benar-benar memahami atau mendampinginya, bahkan dari orang terdekat sekalipun.

 

Dialog mengesankan:

"Aku lelah tidak didengarkan."

 

Ending:

Happy Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna Uwie)



 


Posting Komentar

0 Komentar