Review Film The Ugly Stepsister (2025) - Ketika Cinta dan Standar Kecantikan Menjadi Obsesi


The Ugly Stepsister (Original title: Den stygge stesøsteren) | 2025 | 1h 49m
Genre : Body Horror/Dark Comedy/Satire/Comedy/Drama/Horror | Negara: Norwegian
Director: Emilie Blichfeldt | Writers: Emilie Blichfeldt
Pemeran: Lea Myren, Ane Dahl Torp, Thea Sofie Loch Næss
IMDB: 7
My Rate : 8/10 

Bukan rasa iri pada kecantikan Agnes yang membuat Elvira terobsesi, melainkan keyakinannya pada cinta sang pangeran—cinta yang begitu ia percayai hingga membuatnya rela menyakiti dirinya sendiri demi terlihat “cantik” di hadapannya.

Peringatan:

Adegan ketelanjangan, sensual, kekerasan, kata kasar, dan menyakiti diri sendiri

 

Sinopsis :

Elvira dan adiknya, Alma, merasa amat berbahagia saat pindah ke rumah baru bersama sang Ibu. Mereka disambut ramah oleh suami baru ibunya dan Agnes, putri pria tersebut. Bayangan kehidupan yang lebih baik mulai terlintas di benak mereka. Namun kebahagiaan itu runtuh dalam semalam ketika sang suami tiba-tiba meninggal dunia. Harapan berubah menjadi kenyataan pahit saat terungkap bahwa pria yang dianggap kaya itu justru meninggalkan tumpukan utang.

Sebuah peluang muncul melalui pengumuman bahwa pangeran sedang mencari calon pasangan. Bagi ibunya, ini adalah jalan keluar dari kemiskinan. Bagi Elvira, ini adalah kesempatan untuk mengejar cinta. Sementara bagi Agnes, ini bisa menjadi pelarian dari kesengsaraan akibat ibu tirinya. Tanpa mereka sadari, harapan itu perlahan berubah menjadi obsesi dan menumbuhkan kompetisi di antara mereka..

Merasa tak memenuhi standar kecantikan pada umumnya, Elvira rela melakukan apa pun demi terlihat sempurna. Ia melepas kawat gigi, mengubah bentuk hidungnya, menanam bulu mata, bahkan menelan cacing pita agar bisa makan tanpa takut gemuk. Semua pengorbanan itu dilakukan demi satu tujuan: menjadi pengantin sang pangeran.

Namun, seberapa jauh seseorang sanggup menyakiti dirinya sendiri demi dicintai?

 

Ulasan :

“Cinta itu buta.” Kiasan ini sering kita dengar seolah menormalisasi segala upaya demi mewujudkan cinta. Namun, apakah itu masih bisa disebut cinta jika membuat seseorang rela menyakiti dirinya sendiri? Pertanyaan inilah yang menjadi inti dari The Ugly Stepsister, sebuah reinterpretasi kisah Cinderella dari sudut pandang yang berbeda—bukan sang putri, melainkan saudara tirinya. Sebuah pendekatan yang unik dan jarang dipikirkan.

Selama ini kita selalu diperlihatkan bahwa keluarga saudara tiri begitu jahat dan menyiksa Cinderella. Namun film ini mengajak kita melihat ulang: apakah mereka memang terlahir jahat, atau keadaan yang membentuknya? Apakah menikah dengan pangeran benar-benar satu-satunya jalan menuju kebahagiaan? Apakah Cinderella memang sosok sepolos gambarannya? Film ini tidak sekadar menawarkan dongeng, tetapi refleksi tentang motivasi, luka, dan pilihan.

Cerita dibangun dengan pondasi motif yang kuat. Perebutan cinta pangeran bukan semata tentang tahta dan harta. Perasaan cinta dan kagum Elvira pada pangeran telah ditunjukkan sejak awal melalui dialog dan gesturnya. Sebaliknya, motif Agnes muncul dari ketidakpuasan hidup setelah kematian ayahnya, sementara sang Ibu melihat pernikahan sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Di sini, batas antara baik dan jahat menjadi tipis—setiap tokoh bertindak berdasarkan harapan dan ketakutannya sendiri.

Konflik internal paling terasa pada Elvira. Standar kecantikan di masyarakat membuatnya rendah diri dan perlahan terobsesi. Ia rela mengorbankan tubuhnya demi terlihat sempurna. Obsesi itu tidak hanya menyakitkan secara fisik, tetapi juga menggerogoti kewarasannya. Konflik pada karakter lain memang tidak sedalam Elvira, tetapi cukup untuk menjaga ketegangan tetap hidup.

Akhir cerita disajikan dengan kuat. Berbeda dengan dongeng pada umumnya yang menawarkan “hidup bahagia selamanya”, film ini menghadirkan bentuk kebahagiaan yang lebih realistis dan tidak sempurna. Perkembangan karakter terasa jelas, sehingga ‘kebahagiaan’ di akhir tidak terasa dipaksakan, melainkan tumbuh dari perjalanan yang telah dilalui para tokohnya.

Dari segi teknis, film ini menunjukkan totalitas yang patut diapresiasi. Akting para pemain tampil meyakinkan dengan make up yang terlihat begitu nyata. Perubahan fisik Elvira pun terasa jelas, dari tubuh yang semula sedikit berisi menjadi lebih kurus, memperlihatkan dedikasi aktris dalam menghidupkan karakter tersebut. Transformasi ini bukan sekadar visual, tetapi memperkuat sisi obsesif yang ingin ditampilkan film.

Menariknya, The Ugly Stepsister tidak memaksakan penggunaan sepatu kaca seperti dongeng klasik. Pilihan sepatu biasa justru membuat cerita terasa lebih realistis, meski unsur magis seperti kereta labu dan ibu peri tetap hadir sebagai latar. Perpaduan realisme dan dongeng inilah yang memberi identitas unik pada film ini.

Teknik pengambilan gambar dilakukan dengan presisi dan mampu memperlihatkan detail secara jelas. Penggunaan extreme close up pada berbagai adegan—belatung di mayat, proses operasi hidung dan mata, bahkan adegan yang cukup mengganggu saat Elvira memotong kakinya—membuat ketegangan meningkat dan terasa nyata. Pendekatan visual ini bukan sekadar efek kejut, tetapi mempertegas rasa tidak nyaman yang ingin dibangun film. Pemilihan musik dan dialog pun terasa selaras di tiap adegannya sehingga suasana semakin intens.

Film ini juga menyoroti berbagai topik yang mungkin terabaikan di masyarakat. Salah satunya adalah cinta dengan segala ilusinya. Perasaan Elvira pada pangeran tumbuh dari bayangan romantis setelah ia membaca puisi yang diciptakan sang pangeran. Film ini seakan menyadarkan bahwa ilusi dapat berbeda jauh dari kenyataan, karena sikap pangeran ternyata tidak seindah dan seromantis kata-kata dalam puisinya. Jenis cinta seperti ini sering kali tidak kita sadari menimpa diri kita sendiri.

Sosok Alma menjadi satu-satunya karakter yang terasa paling “waras”. Ia seakan dibentuk untuk menyadarkan bahwa kebahagiaan dan hidup perempuan tidak harus selalu bergantung pada pria. Berbeda dengan Ibu, Elvira, dan Agnes yang melihat pria sebagai jalan keluar dari hidup mereka, Alma memilih fokus pada dirinya sendiri. Sikap ini mengingatkan bahwa mencintai diri sendiri sering kali jauh lebih berharga daripada mengejar pengakuan dari orang lain.

Kelemahan dari film ini sebenarnya tidak terlalu signifikan. Cerita yang lebih berfokus pada tokoh Elvira sebagai tokoh utama memang wajar, tetapi sayangnya pengembangan karakter lain tidak terlalu diperdalam. Padahal latar dan konflik tokoh-tokoh tersebut berpotensi menambah kedalaman cerita secara keseluruhan.

Beberapa adegan juga terasa kurang konsisten. Saat arwah Ibu Agnes menyebut tidak ada yang dapat mengenali Agnes di pesta dansa, Elvira justru mampu mengenalinya dengan jelas. Adegan ketika pangeran mengumumkan mencari pemilik sepatu di ruang dansa juga terasa janggal, mengingat pemilik sepatu sudah tidak berada di tempat tersebut. Momen ketika pangeran begitu mudah terpesona pada Agnes pun terasa seperti klise dongeng yang menjadi kurang masuk akal ketika dinikmati di usia dewasa.

Dalam konteks tema obsesinya, cerita Elvira sedikit mengingatkan pada Film Jepang, Helter Skelter (2012). Keduanya sama-sama menempatkan kecantikan sebagai pusat konflik. Bedanya, Elvira mengejar cinta pangeran, sementara Ririko mengejar ketenaran. Namun pada akhirnya, keduanya terjebak dalam kebutuhan akan validasi dan pengakuan. Kesan serupa dihadirkan melalui pendekatan yang berbeda.

Secara keseluruhan, The Ugly Stepsister bukan sekadar adaptasi dongeng gelap, tetapi refleksi tentang cinta, obsesi, dan standar kecantikan yang sering kali tidak realistis. Film ini mengajak penonton mempertanyakan kembali makna “bahagia selamanya” dan menyadari bahwa tidak semua pengorbanan atas nama cinta layak untuk dirayakan.

 
Adegan yang mengesankan:  

Salah satu adegan yang mengesankan dalam The Ugly Stepsister adalah saat Elvira menjalani tanam bulu mata di sebuah klinik kecantikan. Ia dijanjikan akan menjadi cantik dan mempesona, meski prosesnya menyakitkan. Keraguan mulai muncul ketika ia melihat kondisi mata salah satu suster di sana—sebuah tatapan yang menyiratkan kegagalan, bahkan kemungkinan kehilangan penglihatan di sebelah mata. Janji tentang kecantikan terasa kontras dengan risiko yang diam-diam mengintai.

Sekilas adegan ini tampak sederhana, tetapi maknanya jauh lebih luas. Banyak perempuan rela mengambil risiko berbahaya demi memenuhi standar cantik yang terus dibisikkan kepada mereka. Tidak sedikit yang berakhir dengan kegagalan karena mempercayai klinik murah atau abal-abal, dan alih-alih menjadi lebih cantik, justru menerima konsekuensi yang lebih menyakitkan. Namun, apakah kita berhak menghakimi pilihan mereka? Rasanya tidak. Keinginan untuk terlihat cantik sering kali lahir bukan semata dari kesombongan, melainkan dari tekanan yang membuat rasa sakit terasa seperti harga yang wajar untuk dibayar.

 

Dialog mengesankan:

"Kau mengubah bagian luarmu agar sesuai dengan apa yang kau tahu ada di dalam. Kau pemberani."

 
Ending:

Bittersweet Ending

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna)

 

  

Posting Komentar

0 Komentar