After The Quake | 2025 | 2h 12m
Genre
: Drama | Negara: Japan
Director:
Tsuyoshi Inoue |
Writers: Haruki Murakami (novel), Takamasa Oe
Pemeran: Ai Hashimoto, Yui Narumi,
Masaki Okada
IMDB: 5.2
My
Rate : 7/10
Gempa bumi Kobe 1995 membawa empat cerita misterius yang tanpa sadar saling terhubung dalam waktu yang berbeda: Komura yang kehilangan istrinya, Junko yang menemukan kedamaian dalam interaksi tak terduga, Yoshiro yang mempertanyakan eksistensinya, dan Katagiri yang sekali lagi berusaha menyelamatkan Tokyo.
Peringatan:
Terdapat
kekerasan, kata kasar, rokok, dan sensual
Sinopsis :
Beberapa hari setelah gempa di Kobe
tahun 1995, Komura mendapati istrinya menghilang secara misterius dari tempat
tinggal mereka. Dalam usahanya menenangkan pikiran, ia bertemu dengan dua
wanita yang bersikap aneh dan misterius. Di tempat tersebut, ia mendengar
mengenai UFO yang dalam bayangannya mungkin menjadi penyebab hilangnya sang
istri.
Tahun 2011, berdekatan dengan
peringatan gempa 1995, Junko yang kabur dari rumah memiliki interaksi aneh
dengan salah satu pelanggannya. Mereka menghabiskan malam di hadapan api unggun
yang seakan menjadi penghitung waktu menuju kematian yang dirindukan.
Tahun 2020, Yoshiya yang memutuskan
pergi dari kultus tempat ia tumbuh, kembali untuk menghadiri kematian pimpinan
kultus tersebut. Alasan kepergiannya sebelumnya karena Ia membenci keyakinan yang mengatakan bahwa dirinya
adalah anak Tuhan dan karenanya dipaksa menjadi relawan dalam gempa tahun 1995.
Yoshiya ingin mencari fakta sebenarnya tentang dirinya dan masa lalunya.
Tahun 2025, Katagiri dikagetkan
dengan kemunculan kodok raksasa yang pernah berjuang bersamanya pada tahun 1995
untuk menghentikan gempa di Tokyo akibat amarah cacing raksasa. Amarah tersebut
kembali bangkit dan membahayakan Tokyo. Di situlah Katagiri diminta untuk
kembali bertarung.
Akankah mereka berhasil berdamai
dengan diri mereka masing-masing?
Ulasan :
After The Quake merupakan film yang
diadaptasi dari kumpulan cerita pendek karya Haruki Murakami berjudul Kami no
Kodomotachi wa Mina Odoru. Berbeda dengan bukunya yang memiliki enam cerita,
film ini hanya mengadaptasi empat di antaranya: UFO in Kushiro, Landscape with
Flatiron, All God's Children Can Dance, dan Super-Frog Saves Tokyo, sementara
Thailand dan Honey Pie tidak menjadi bagian dalam film ini.
Ciri khas Murakami tetap terasa kuat
di dalam film ini, hampir serupa dengan karya lain yang telah diadaptasi
seperti Norwegian Wood. Ceritanya mungkin tidak langsung mudah dipahami dan
terkesan aneh, tetapi justru di situlah letak daya tariknya—melalui simbol-simbol
dan makna yang tersirat. Sesuatu yang tampak absurd, namun menyimpan kedalaman
yang perlahan terungkap.
Film dibuka dengan narasi percakapan
yang menceritakan mitos tentang seorang pria dan seekor kodok yang berusaha
mengalahkan cacing raksasa demi menjaga Tokyo dari marabahaya. Cerita ini
kemudian kembali dihadirkan di bagian akhir, seolah menjadi kepingan terakhir
yang melengkapi keseluruhan cerita. Penyajian ini membuat penonton seperti
menemukan puzzle yang akhirnya tersusun utuh.
Walaupun keempat cerita terlihat
sangat berbeda satu sama lain, ide pokok yang dibawa terasa serupa: kekosongan
yang dialami para tokohnya dan pencarian jati diri yang mengarah pada akhir
yang memberi kepuasan yang janggal. Gempa tahun 1995 yang terus hadir dalam
tiap cerita menjadi penghubung yang terasa unik, diperkuat dengan alur waktu
yang jelas sehingga tetap mudah diikuti.
Secara teknis, pergerakan kamera,
penyajian detail, serta transisi antar adegan ditampilkan dengan rapi. Akting
dari para karakter juga terasa natural, tanpa berlebihan. Tidak ada adegan yang
menggebu atau memicu adrenalin, semuanya bergerak dalam ketenangan dan sunyi
yang menyayat perlahan—meninggalkan kesan yang bertahan lebih lama.
Kelebihan lain dari film ini
terletak pada pembagian porsi cerita yang terasa seimbang. Setiap bagian
digarap dengan kesungguhan, tanpa ada yang terasa lebih berat atau terabaikan.
Sehingga keseluruhannya tidak terkesan dibuat secara asal.
After The Quake bukan sekadar
kumpulan cerita yang disatukan dalam satu film, tetapi sebuah perjalanan sunyi
tentang manusia yang berusaha memahami kehilangan, kepercayaan, dan dirinya
sendiri. Melalui keanehan yang terasa akrab dan ketenangan yang perlahan
menyayat, film ini tidak menawarkan jawaban yang pasti, melainkan ruang untuk
merenung—bahwa di antara kekosongan dan pertanyaan yang tak terjawab, mungkin
di situlah makna hidup mulai terbentuk.
Adegan yang mengesankan:
Salah satu adegan yang sederhana
tetapi memiliki makna yang dalam di film After the Quake: Yoshiya yang terus
menerus dikatakan sebagai anak Tuhan mulai merasa lelah dengan realita yang
seakan disembunyikan. Hingga sebuah pertanyaan terlontar dari mulutnya, “Jika
Tuhan selalu menguji, kenapa kita tidak boleh mengujinya?”
Pertanyaan itu tidak muncul begitu
saja, melainkan lahir dari kegelisahan yang sering kali dirasakan manusia
ketika tidak mampu memahami apa yang terjadi dalam hidupnya. Terutama saat
berhadapan dengan kekecewaan dan penderitaan. Sehingga pertanyaan-pertanyaan
kritis pun muncul—bukan untuk diabaikan atau dipaksa diam, tetapi justru
sebagai awal dari pencarian makna hidup yang sesungguhnya.
Dialog
mengesankan:
"Pernahkah kau memikirkan bagaimana kau akan mati?"
Ending:
Cliffhanger
Rekomendasi:
Worth
to Watch
(Aluna
Uwie)

0 Komentar