Review Film My Happy Marriage (2023) - Romansa Fantasi Hangat dengan Konflik Politik dan Supranatural

 

My Happy Marriage (Original title: Watashi no shiawasena kekkon)  | 2023 | 1h 55m
Genre : Drama/Fantasy/History/Romance | Negara: Japan
Director: Ayuko Tsukahara | Writers: Akumi Agitogi, Tomoe Kanno, Tsukiho Tsukioka
Pemeran: Ren Meguro, Mio Imada, Sato Arata
IMDB: 7
My Rate : 8/10

Miyo yang selama ini hidup dalam siksaan keluarganya menikah dengan Kiyoka, kepala prajurit yang dikenal menyeramkan hingga membuat calon-calon istrinya memilih pergi. Namun, pernikahan tersebut perlahan mengubah kehidupan Miyo dan membawanya pada kenyataan tentang jati dirinya yang selama ini tersembunyi.

 
Peringatan:

Adegan kekerasan dan kata kasar

 
Sinopsis :

Setelah kematian ibunya, ayah Miyo menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan. Namun, Miyo yang lahir tanpa kekuatan di tengah keluarga yang menganggap kekuatan sebagai hal penting, justru menjadi aib. Ia diperlakukan layaknya pembantu dan hidup dalam siksaan hingga akhirnya dipaksa menikah dengan Kiyoka yang terkenal kejam.

Miyo pergi ke kediaman Kiyoka tanpa harapan apa pun selain terbebas dari penyiksaan yang selama ini dialaminya. Namun, Kiyoka ternyata tidak seburuk yang digambarkan orang-orang. Di balik sikap dinginnya, tersimpan kehangatan yang perlahan membawa cahaya baru ke dalam kehidupan Miyo, terlebih saat Kiyoka tidak pernah memedulikan kekuatan yang dimilikinya.

Adik Miyo yang mulai mengetahui sifat asli Kiyoka akhirnya tidak tinggal diam. Ia mencoba merebut kembali posisi istri yang pernah ditolaknya, bahkan hingga membahayakan Miyo. Di sisi lain, roh-roh jahat mulai merasuki manusia dan membawa kekacauan bagi pemerintahan.

Akankah Kiyoka dan Miyo akhirnya mendapatkan kedamaian mereka?

 

Ulasan :

Kehadiran seseorang yang tidak disangka akan menyayangi kita seutuhnya merupakan hal yang paling membahagiakan. Hal tersebut yang dirasakan Miyo dalam My Happy Marriage, film yang diadaptasi dari novel Watashi no Shiawasena Kekkon karya Akumi Agitogi sekaligus live action dari serial berjudul sama. Penggabungan unsur politik, supranatural, serta pesan tentang kemanusiaan dan cinta membuat film ini terasa menarik untuk diikuti.

Film dibuka dengan narasi yang memperkenalkan masing-masing tokohnya dengan cukup jelas. Penonton yang belum membaca novel maupun menonton serialnya pun tetap dapat mengikuti jalan cerita dengan baik. Kesan misterius juga sudah terasa sejak awal film dimulai.

Konflik hadir dengan tema yang luas, mulai dari keluarga, cinta, hingga ancaman politik seperti pengkhianatan. Meski begitu, semuanya tetap terasa saling terhubung. Konflik dibangun secara perlahan hingga mencapai klimaks yang berhasil menghadirkan ketegangan.

Penyelesaian cerita dilakukan dengan memuaskan, di mana para tokohnya mendapatkan akhir yang sesuai harapan. Sayangnya, tambahan ending yang menggantung seakan menjanjikan kelanjutan cerita yang hingga kini belum benar-benar terwujud. Jika dibandingkan dengan serialnya, cerita film ini memang masih terasa jauh dari selesai.

Kelebihan lain terasa dari akting para pemain yang natural dan merata. Tidak ada karakter yang terasa timpang, semuanya tampil dengan totalitas yang baik. Chemistry antar tokohnya juga terbangun dengan apik, didukung ekspresi dan intonasi dialog yang mampu menyampaikan emosi dengan kuat.

Dari sisi teknis, pergerakan kamera, pengambilan detail gambar, hingga penggunaan efek di beberapa adegan dilakukan dengan baik. Komposisi warna dan transisi antar adegan juga terasa halus, sementara pemilihan musik berhasil memperkuat emosi di tiap momennya.

Meski begitu, film ini tetap memiliki kekurangan. Entah karena durasinya yang terlalu singkat atau banyaknya cerita yang ingin disampaikan, kedalaman emosinya terasa belum tergali sepenuhnya. Namun, hal tersebut masih cukup dapat dipahami mengingat tidak mudah merangkum serial panjang ke dalam durasi film yang terbatas.

Pada akhirnya, My Happy Marriage bukan hanya tentang romansa, tetapi juga tentang seseorang yang perlahan belajar bahwa dirinya pantas untuk dicintai. Di balik nuansa fantasi dan konflik politik yang disajikan, film ini tetap menyimpan kehangatan sederhana tentang rasa aman, penerimaan, dan kasih sayang yang selama ini tidak pernah dimiliki Miyo. Meski belum sepenuhnya sempurna dalam menggali kedalaman ceritanya, film ini tetap mampu meninggalkan rasa hangat yang menetap setelah cerita berakhir.

 

Adegan yang mengesankan:  

Adegan yang sederhana tetapi memiliki kesan yang mendalam, terutama dalam penggambaran cinta yang tulus. Kiyoka Kudo mendatangi kediaman keluarga Miyo setelah mengetahui Miyo diculik secara paksa. Mengetahui istrinya selama ini tidak pernah diperlakukan dengan baik, Kiyoka mulai panik dan tidak lagi memedulikan risiko yang harus ia hadapi, bahkan jika itu berarti kehilangan segalanya termasuk nyawanya.

Sikap Kiyoka sebenarnya menunjukkan bentuk perhatian dan perlindungan yang seharusnya hadir dalam sebuah hubungan. Membela pasangan dan memastikan orang yang dicintai merasa aman terdengar sederhana, tetapi dalam kenyataannya tidak selalu mudah ditemukan. Karena itulah tindakan kecil yang dilakukan Kiyoka terasa begitu menyentuh dan meninggalkan kesan mendalam.

 

Dialog mengesankan:

"I don't want to be thrown out"

 

Ending:

Cliffhanger

 

Rekomendasi:

Worth to Watch

 

(Aluna Uwie)


Posting Komentar

0 Komentar