Jika
diberi kesempatan kembali ke masa lalu, apa yang ingin kita ubah?
Mungkin
kita ingin menyelamatkan seseorang yang telah meninggal. Mencegah sebuah
kecelakaan. Mengubah satu keputusan yang membuat hidup berbelok ke arah yang
tidak pernah kita inginkan. Keinginan seperti ini terasa sangat manusiawi.
Hampir setiap orang pernah membayangkannya, terutama ketika dihantui
penyesalan.
Ide
tersebut menjadi tema utama dalam Il Mare (2000), How Long Will I Love U (2018), Mirage (2018), dan The Call (2020). Keempat
film ini sama-sama menggunakan konsep komunikasi lintas waktu atau perjalanan
waktu untuk mengubah masa lalu. Namun, hasil akhirnya sangat berbeda. Ada yang
menghadirkan harapan, ada pula yang justru melahirkan tragedi baru.
Menariknya,
perbedaan tersebut justru mengajarkan banyak hal tentang cara manusia memandang
penyesalan, pilihan, dan konsekuensi.
Il Mare (2000): Mengubah Masa Lalu untuk Menemukan Cinta
Il
Mare menggunakan konsep yang sederhana tetapi sangat menyentuh. Dua orang
yang hidup pada tahun berbeda dapat saling berkirim surat melalui sebuah kotak
surat.
Tidak
ada usaha besar untuk mengubah sejarah dunia. Yang berubah justru kehidupan
pribadi mereka.
Film
ini menunjukkan bahwa waktu tidak selalu menjadi musuh cinta. Kadang yang
dibutuhkan hanyalah kesempatan agar dua orang yang tepat dapat saling
menemukan.
Secara
psikologis, film ini mengingatkan bahwa manusia memiliki kebutuhan mendasar
untuk merasa terhubung (need
to belong). Bahkan ketika dipisahkan oleh waktu, hubungan emosional
tetap mampu tumbuh melalui komunikasi yang tulus.
How Long Will I Love U (2018): Ketika Dua Dunia Berusaha Menjadi Satu
Film
Tiongkok ini memiliki premis yang lebih unik. Seorang pria dari tahun 1999 dan
seorang wanita dari tahun 2018 tiba-tiba dapat bertemu karena anomali ruang dan
waktu.
Berbeda
dengan Il Mare,
hubungan mereka tidak hanya dipenuhi romansa, tetapi juga dipengaruhi oleh
perubahan kecil yang mampu mengubah masa depan secara drastis.
Film
ini memperlihatkan bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi yang mungkin tidak
dapat diprediksi.
Dalam
psikologi, hal ini mengingatkan pada counterfactual thinking, yaitu kecenderungan manusia
membayangkan kehidupan yang "seharusnya" terjadi jika mengambil
keputusan yang berbeda. Kita sering percaya bahwa satu perubahan akan membuat
semuanya lebih baik, padahal kenyataannya setiap pilihan selalu menciptakan
konsekuensi baru.
Mirage (2018): Menyelamatkan Satu Nyawa, Mengubah Banyak Kehidupan
Mirage
membawa konsep ini ke tingkat yang lebih kompleks.
Ketika
sang tokoh utama berhasil menyelamatkan seorang anak di masa lalu, kehidupan
yang ia kenal berubah sepenuhnya. Suaminya bukan lagi suaminya. Anaknya bahkan
tidak pernah lahir.
Film
ini menunjukkan bahwa tidak ada perubahan yang benar-benar berdiri sendiri.
Satu
keputusan kecil dapat mengubah kehidupan banyak orang yang bahkan tidak pernah
kita pikirkan sebelumnya.
Fenomena
ini sering dikaitkan dengan butterfly
effect, yaitu gagasan bahwa perubahan kecil mampu menghasilkan
dampak besar pada masa depan. Apa yang tampak sebagai keputusan sederhana
ternyata memiliki konsekuensi yang jauh melampaui perkiraan kita.
The Call (2020): Ketika Masa Lalu Juga Bisa Menjadi Ancaman
Berbeda
dengan tiga film sebelumnya, The
Call menggunakan konsep perjalanan waktu untuk membangun ketegangan
psikologis.
Komunikasi
antara dua orang dari waktu berbeda awalnya tampak seperti kesempatan untuk saling
membantu. Namun, keadaan berubah ketika salah satu pihak mulai memanfaatkan
kemampuan tersebut untuk kepentingannya sendiri.
Alih-alih
memperbaiki masa depan, setiap perubahan justru membuat situasi menjadi semakin
mengerikan.
Film
ini memperlihatkan bahwa kemampuan mengubah masa lalu tidak selalu membawa
kebaikan. Semuanya bergantung pada siapa yang memegang kendali dan bagaimana
kekuatan tersebut digunakan.
Kesamaan Mereka: Semua Berawal dari Penyesalan
Meski
memiliki genre yang berbeda, keempat film tersebut sebenarnya berbicara tentang
hal yang sama.
Semuanya
lahir dari keinginan manusia untuk memperbaiki sesuatu yang telah terjadi.
Menyelamatkan
orang yang dicintai.
Menghapus
kehilangan.
Menghindari
rasa bersalah.
Harapan
seperti ini sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Dalam
psikologi, kecenderungan membayangkan berbagai kemungkinan yang tidak pernah
terjadi disebut counterfactual
thinking. Kita sering berkata,
"Seandainya
aku datang lebih cepat."
"Seandainya
aku memilih jalan yang lain."
"Seandainya
aku mengatakan isi hatiku."
Cara
berpikir seperti ini dapat membantu kita belajar dari kesalahan. Namun, jika
dilakukan terus-menerus, ia juga dapat membuat seseorang terjebak dalam
penyesalan yang tidak pernah selesai.
Perbedaannya: Tidak Semua Kesempatan Kedua Berakhir Bahagia
Hal
yang paling menarik justru terletak pada akhir cerita masing-masing.
Il
Mare menunjukkan bahwa perubahan waktu dapat menjadi jalan menuju
kebahagiaan.
How
Long Will I Love U menggambarkan bahwa cinta sering kali menuntut
pengorbanan terhadap kehidupan yang telah kita kenal.
Mirage
memperlihatkan bahwa menyelamatkan satu orang bisa berarti kehilangan orang
lain.
Sementara
The Call
mengingatkan bahwa kesempatan kedua juga dapat dimanfaatkan oleh orang yang
salah.
Artinya,
perjalanan waktu tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah.
Ia
hanya memindahkan konsekuensi ke bentuk yang berbeda.
Mungkin Kita Tidak Membutuhkan Mesin Waktu
Pada
akhirnya, keempat film ini mengajarkan bahwa yang paling ingin diubah manusia
sebenarnya bukan waktu, melainkan penyesalan.
Kita
ingin memperbaiki keputusan yang salah, menyelamatkan orang yang telah pergi,
atau memperoleh kesempatan kedua.
Namun
hidup jarang memberi kemewahan seperti itu.
Yang
selalu kita miliki hanyalah hari ini.
Karena
mungkin pelajaran terbesar dari Il Mare, How
Long Will I Love U, Mirage, dan The Call bukanlah tentang bagaimana cara kembali ke masa
lalu.
Melainkan
bagaimana agar kita tidak terlalu banyak membawa penyesalan ketika suatu hari
nanti masa kini berubah menjadi masa lalu.
(Uwie
Puspita

0 Komentar