Joker dan Carrie: Ketika Korban Berubah Menjadi Pelaku

 


Mengapa seseorang bisa berubah menjadi pribadi yang sangat berbeda dari dirinya yang dulu?

Pertanyaan ini selalu menarik untuk dibahas, terutama ketika kita melihat karakter yang pada awal cerita tampak rapuh, pendiam, bahkan tidak memiliki niat untuk menyakiti siapa pun. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka berubah menjadi sosok yang menakutkan.

Tema inilah yang menjadi benang merah dalam Joker (2019) dan Carrie. Meski berasal dari genre yang berbeda, keduanya sama-sama memperlihatkan bagaimana penderitaan yang berlangsung terus-menerus dapat mengubah cara seseorang memandang dunia.

Yang menarik, kedua film ini tidak sedang berkata bahwa setiap korban akan menjadi pelaku. Sebaliknya, keduanya mengajak kita memahami bagaimana luka yang tidak pernah ditangani dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

 

Joker (2019): Ketika Dunia Terus Mengatakan "Kamu Tidak Berarti"

Arthur Fleck bukanlah karakter yang sejak awal digambarkan sebagai penjahat.

Ia adalah seorang pria yang kesepian, hidup dengan berbagai tekanan, mengalami gangguan mental, dan berulang kali diperlakukan tidak manusiawi. Ia direndahkan, diabaikan, ditertawakan, bahkan kehilangan sedikit demi sedikit alasan untuk tetap percaya bahwa dunia masih memiliki tempat baginya.

Menariknya, tidak ada satu kejadian tunggal yang mengubah Arthur menjadi Joker.

Perubahannya terjadi secara perlahan.

Satu penghinaan.

Satu penolakan.

Satu pengkhianatan.

Semuanya menumpuk hingga akhirnya membentuk ledakan yang mengubah seluruh hidupnya.

Dalam psikologi, kondisi seperti ini memiliki kemiripan dengan cumulative stress, yaitu tekanan yang terus bertambah dari waktu ke waktu hingga seseorang kehilangan kemampuan untuk mengatasinya secara sehat.

 

Carrie: Ketika Penolakan Datang dari Rumah dan Lingkungan

Jika Arthur kehilangan rasa aman di masyarakat, Carrie White bahkan tidak mendapatkannya di rumah.

Ia tumbuh bersama ibu yang sangat mengekang, hidup dalam ketakutan, dan hampir setiap hari menjadi korban perundungan di sekolah. Tidak ada tempat yang benar-benar membuatnya merasa diterima.

Yang membuat kisah Carrie begitu tragis adalah kenyataan bahwa ia hanya menginginkan sesuatu yang sederhana.

Diterima.

Memiliki teman.

Menjadi seperti remaja lainnya.

Namun, setiap kali ia berharap, kenyataan justru memberinya luka baru.

Pada akhirnya, kemarahan yang selama ini dipendam meledak dalam satu peristiwa yang mengubah segalanya.

Film ini memperlihatkan bagaimana penolakan sosial yang berlangsung terus-menerus dapat menghancurkan rasa percaya seseorang terhadap dunia.

 

Kesamaan Mereka: Luka yang Terus Menumpuk

Meski memiliki latar belakang berbeda, Joker dan Carrie memiliki pola yang sangat mirip.

Keduanya bukan tokoh yang menikmati menyakiti orang lain sejak awal.

Sebaliknya, mereka adalah korban dari lingkungan yang gagal memberikan rasa aman.

Mereka sama-sama mengalami penghinaan.

Sama-sama merasa sendirian.

Sama-sama kehilangan tempat untuk bercerita.

Dalam psikologi, pengalaman seperti ini berkaitan dengan chronic social rejection, yaitu penolakan sosial yang terjadi berulang kali dalam jangka panjang.

Penolakan seperti ini tidak hanya melukai perasaan. Penelitian menunjukkan bahwa otak memproses rasa ditolak dengan area yang mirip dengan rasa sakit fisik. Tidak heran jika seseorang yang terus-menerus mengalami penolakan perlahan mulai kehilangan kepercayaan kepada orang lain.

 

Perbedaannya: Cara Mereka Merespons Dunia

Meski memiliki kesamaan, Joker dan Carrie berkembang ke arah yang berbeda.

Arthur perlahan membangun keyakinan bahwa masyarakat memang pantas menerima balasan atas semua perlakuan yang ia alami. Kemarahannya berubah menjadi kritik terhadap sistem sosial yang menurutnya telah gagal.

Sementara Carrie lebih banyak digerakkan oleh ledakan emosi yang selama ini ditekan. Tragedi yang terjadi bukan lahir dari rencana panjang, melainkan dari rasa sakit yang akhirnya tidak mampu lagi ia kendalikan.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pola tunggal yang menjelaskan mengapa seseorang berubah menjadi pelaku kekerasan.

Setiap manusia memiliki pengalaman, kepribadian, dan cara menghadapi luka yang berbeda.

 

Memahami Bukan Berarti Membenarkan

Hal yang membuat kedua film ini begitu kuat adalah kemampuan mereka membangkitkan empati penonton.

Banyak orang memahami mengapa Arthur marah.

Banyak pula yang merasa kasihan kepada Carrie.

Namun, memahami penyebab sebuah perilaku tidak sama dengan membenarkan perilaku tersebut.

Dalam psikologi, kita memang berusaha mencari alasan mengapa seseorang bertindak seperti itu. Tetapi penjelasan tidak menghapus tanggung jawab.

Trauma dapat menjelaskan mengapa seseorang terluka.

Trauma tidak otomatis membenarkan ketika ia mulai melukai orang lain.

Perbedaan ini penting agar empati tidak berubah menjadi pembenaran.

 

Sebuah Pertanyaan yang Lebih Penting

Mungkin setelah menonton kedua film ini, pertanyaan yang paling menarik bukanlah,

"Mengapa mereka menjadi jahat?"

Melainkan,

"Berapa banyak orang di sekitar kita yang sedang memendam luka seperti Arthur atau Carrie, tetapi belum mencapai titik kehancuran?"

Mungkin mereka adalah anak yang setiap hari dirundung di sekolah.

Karyawan yang terus dipermalukan atasannya.

Atau seseorang yang bertahun-tahun hidup dalam keluarga yang tidak pernah memberinya rasa aman.

Sebagian dari mereka mungkin tetap bertahan.

Sebagian lainnya mungkin hanya sedang menunggu satu kejadian terakhir yang membuat semuanya runtuh.

 

Dunia Memang Membentuk Kita, Tetapi Tidak Menentukan Siapa Kita

Pada akhirnya, Joker dan Carrie mengingatkan bahwa manusia tidak berubah hanya karena satu peristiwa. Perubahan sering kali terjadi perlahan, melalui luka-luka kecil yang terus menumpuk tanpa pernah benar-benar dipulihkan.

Namun, kedua film ini juga mengingatkan kita pada hal lain yang tidak kalah penting.

Lingkungan memang memiliki pengaruh yang besar, tetapi ia bukan satu-satunya penentu. Tidak semua korban akan menjadi pelaku. Tidak semua orang yang tumbuh dalam penderitaan akan memilih menyakiti orang lain.

Karena memahami bagaimana seseorang berubah menjadi jahat bukan berarti kita menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang wajar. Justru pemahaman itu menjadi pengingat bahwa empati, penerimaan, dan kepedulian yang kita berikan hari ini mungkin dapat mencegah lahirnya luka yang lebih besar di kemudian hari.

 

(Uwie Puspita)

Baca Juga
Ulasan Joker (2019)
Ulasan Carrie (1976)
Ulasan Carrie (2013)

 

Posting Komentar

0 Komentar