Bersembunyi di balik topeng di dunia
yang terus meminta kita terlihat, dinilai, dan didefinisikan, bersembunyi
mungkin terdengar seperti tindakan pengecut. Namun kenyataannya, banyak orang
merasa hal ini merupakan cara melindungi diri dan membangun keberanian paling
jujur saat mereka tidak sepenuhnya terlihat. Akun anonim, avatar virtual, atau
identitas palsu bukan selalu bentuk kebohongan atau hal yang negatif—kadang, ia
adalah satu-satunya cara untuk bernapas.
Fenomena ini tergambar dengan lembut
dalam Belle. Suzu, gadis yang nyaris kehilangan 'suaranya' di dunia nyata,
justru bersinar di dunia virtual sebagai Belle. Dirinya yang terlihat
menyendiri terbanding terbalik dengan karakter yang diciptakannya. Ia percaya
diri, berani bernyanyi, dan mampu menyentuh banyak orang. Ironisnya, saat tubuh
dan nama aslinya tersamarkan, kejujuran emosionalnya justru muncul.
Dunia nyata adalah ruang yang penuh
tuntutan. Identitas kita tidak berdiri sendiri; ia membawa masa lalu, trauma,
ekspektasi keluarga, dan penilaian sosial. Setiap gerak terasa berisiko, setiap
suara bisa disalahartikan. Dalam kondisi seperti ini, menjadi diri sendiri
sering kali terasa terlalu sulit untuk dilakukan tanpa menerima penghakiman
dari orang lain. Terlalu banyak yang bisa hilang dari diri.
Topeng—baik berupa avatar maupun
akun palsu—memberi jarak yang menyelamatkan. Jarak dari tatapan langsung, dari
penghakiman instan, dari rasa malu yang menempel pada tubuh. Dengan jarak itu,
seseorang bisa memilih: seberapa banyak membuka diri, kapan muncul, dan kepada
siapa ia ingin terlihat. Kontrol inilah yang perlahan melahirkan rasa aman. Dan
dari rasa aman, tumbuh kepercayaan diri.
Penting untuk dipahami bahwa topeng
tidak selalu berarti kepalsuan. Justru sering kali, topeng berfungsi sebagai
penyaring. Ia menyaring ketakutan, bukan kejujuran. Di balik identitas virtual,
seseorang mungkin tidak sedang menciptakan persona baru, melainkan
menyingkirkan beban yang selama ini membungkamnya. Yang tersisa adalah suara
yang selama ini tertahan. Maka tidak heran jika selama ini kita dapat menemukan
komentar yang lebih pedas di sosial media yang menggunakan akun - akun palsu.
Dalam konteks ini, dunia virtual
menjadi ruang pengakuan. Sebuah tempat di mana seseorang boleh ada tanpa harus
menjelaskan luka-lukanya. Seperti Suzu, banyak orang tidak menjadi “orang lain”
saat mengenakan avatar—mereka menjadi versi diri yang selama ini tidak diberi
ruang untuk hidup.
Pertanyaannya bukan lagi mengapa
orang memilih bersembunyi, tetapi mengapa dunia nyata terasa begitu tidak ramah
bagi kejujuran. Jika seseorang hanya bisa berani ketika identitasnya
disamarkan, mungkin masalahnya bukan pada topeng itu sendiri, melainkan pada
sistem yang membuat keterbukaan terasa berbahaya.
Topeng, pada akhirnya, bukan selalu
tanda pelarian. Kadang ia adalah jeda. Tempat aman sementara, sebelum seseorang
siap menghadapi dunia dengan tubuh dan namanya sendiri. Dan mungkin, alih-alih
merobek topeng itu, yang lebih penting adalah bertanya: apa yang membuat
seseorang membutuhkannya sejak awal?

0 Komentar